Puisi-Puisi Dedy Tri Riyadi

923295_4833791446232_1889387240_n

Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal Jawa Tengah. Kini tinggal dan bergiat dalam dunia sastra di Jakarta. Sangat aktif menulis puisi dan sering dimuat di banyak media. Puisinya diterbitkan (bersama Inez Dikara dan Maulana Achmad) dalam buku Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan.

 

Menunggu

 

Jika kau perhatikan benar, seluruh tubuhku adalah

jalinan kata-kata. Mereka terpilih untuk terpilin jadi

kulit dan serabut daging. Pembungkus pembuluh darah

dan organ-organ dalam. Semacam perasaan yang kini

 

begitu diabaikan daripada diabadikan. Dibicarakan

tetapi dicabarkan sampai dingin bahkan seluruhnya

lepas sebagai angin. Jika kau berhati-hati pada kebenaran

yang terjadi adalah kau tak percaya hanya kata-kata

 

yang bisa menuntunmu pada makna. Ada rekatan dan

retakan yang membuat kau merasa – ada yang lebih

dari sekadar suara dan suasana. Ada yang menawarkan

sesuatu di dalam sana. Di dalam rongga tubuhku, di didih

 

darah di tubuhmu, di ruang-ruang tak tersentuh dan

di raungan bergemuruh yang tak didengar tapi sampai

juga getarnya di dalam jiwamu. Jika kau pertahankan

kebenaran dari kata-kata dalam tubuhku, yang kau gapai

 

hanya gambaran-gambaran semu.

Seperti pada suatu pantai kau menunggu;

selain ombak, pasir, karang dan pecahan kerang,

perahu-perahu nelayan seperti ucapan selamat jalan

 

seorang kekasih yang bersetia untuk menanti.

2015

 

Belajar Berjalan di Atas Tali

 

Jika hidup adalah simpulan, aku belajar berjalan

di atas tali. Belajar agar tak terjatuh dan mati.

Berjalan sampai pada batas diri. Di mana kesabaran

menjadi dan terburu-buru sudah pasti

 

berakibat buruk bagiku. Pada ketinggian,

kutemukan betapa angin jadi musuh sejati.

Seolah hewan buas siap menerkam,

atau percakapan tentang kesombongan: Ini

 

tempat di mana orang-orang ingin bersembunyi.

Merasa paling sepi sendiri. Merasa tak ada lawan

sebanding untuk bertanding. Tapi kurasakan jeri

menyeludup dipagut sepi – bagaimana bisa kulawan

 

diri sendiri? Jika hidup adalah simpulan,

aku menutup mata dan menenangkan diri:

membayangkan akulah tali yang terentang

dan hiduplah yang tengah berjalan di atasku.

 

Sekarang ini.

2015

 

Mengandalkan Ingatan

 

Jika perantauanku tak cukup memuaskanmu,

panggil aku perahu kecil pada sebuah teluk.

 

Pengetahuanku semacam ranting dan daun

yang mudah patah dan menyerah pada angin.

 

Aku hanya mengandalkan ingatan dalam upaya

mengekalkan kau dalam seeratnya peluk.

 

Sebab aku biji dan kau pencari penuh siasat

memicing mata pada setiap lubang sisa ulat

 

dan jika kau tak puas, kau akan mengempaskanku

seperti ombak yang tak terbaca warna biru yang mabuk.

2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *