Berita 

Literasi Penting dalam Era Industri Kreatif

Malang (Litera) – Manfaat literasi bahasa dan sastra sangat penting dalam era industri kreatif dan orde Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Wacana ini mengemuka dalam seminar nasional bertema “Penguatan Bahasa, Sastra, dan Budaya di era MEA” yang berlangsung di Gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang (UM), Sabtu, 26 September 2016. Seminar yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation itu menampilkan Hasnan Singodimayan (Banyuwangi), Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), dan Rudy Satrio Lelono (Malang) sebagai pembicara; dengan moderator Prof. DR. Imam Suyitno, M.Pd.

Hasnan menceritakan peran seni-budaya lokal dalam mengembangkan bisnis pariwisata di Banyuwangi. Menurutnya, setelah daerah di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki Bandara, banyak turis asing yang berkunjung untuk menyaksikan berbagai keunikan seni-budaya Banyuwangi. Hal itu makin menghidupkan pertunjukan seni-budaya dan tradisi setempat, yang terus berkembang berkat upaya-upaya literasi budaya yang dilakukan oleh seniman-budayawan dengan dukungan Dinas Pariwisata dan Budaya.

Tampil pada giliran terakhir, Rudy Satrio menayangkan video-video iklan berbagai produk yang menggambarkan peran penting penulis skrip iklan yang kreatif. Menurutnya, upaya literasi bahasa dapat meningkatkan kemahiran dan kreativitas para penulis skrip iklan untuk menciptakan iklan-iklan yang menarik dan penuh kejutan. “Semua itu sangat memerlukan literasi bahasa,” katanya.

Sedangkan Ahmadun memaparkan prinsip-prinsip literasi bahasa dan manfaatnya dalam era industri kreatif. Menurutnya, literasi bahasa menjadi sangat penting dalam era industri kreatif, karena ada produk-produk industri kreatif yang berbasis bahasa, seperti industri buku terutama buku karya sastra. Salah satu genre karya sastra, yakni novel, bahkan sangat potensial menjadi komoditas industri kreatif yang megabestseller.

Penyair itu mencontohkan, novel Laskar Pelangi karya Andrea Herata dan Ayat-ayat Cinta  karya Habiburrahman el-Shirazy, yang mampu menangguk keuntungan dan royalti hingga miliaran rupiah. “Sebut juga serial fiksi fantasi Harry Potter, yang membuat pengarangnya, JK Rowling, pada tahun 2011, tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia,” kata ketua Lembaga Literasi Indonesia itu.

Ia memaparkan, ada sederet ragam produk industri kreatif yang berbasis pada literasi bahasa (Indonesia), seperti industri buku baik buku sastra maupun buku umum, media massa cetak, media massa digital atau portal berita, film (skenario film), sinetron (skenario sinetron), iklan (skrip iklan), siaran televisi (berita, talk show), stand up comedy (skrip komedi), dan drama (naskah drama). “Selain itu, literasi bahasa (Indonesia dan Inggris) juga diperlukan hampir pada semua kegiatan pemasaran semua produk industri kreatif,” tambahnya.

Seminar yang dihadiri lebih dari 200 guru, mahasiswa, dan dosen se Jawa Timur itu diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UM dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra (BBS) 2016 sekaligus merayakan hari Sumpah Pemuda. Kegiatan lainnya meliputi Lomba Video Kreatif Pembelajaran Bahasa Indonesia se-Malang Raya, Lomba Wasis Basa Jawa tingkat SMP/MTs se-Jawa Timur, Lomba Cinta Bahasa Indonesia tingkat SMA/SMK/MA se-Jawa Timur, Pelatihan Perpustakaan Berbasis Automasi Guru SD/MI Se-Kota Batu, Festival Teater tingkat SMP/MTS dan SMA/SMK/MA se-Jawa Timur, serta Ekspo Sasindo dan Malam Penutupan BBS 2016. * editor

  • Diambil dari www.indonesiakaya.com, dilengkapi oleh editor litera.co.id. Foto oleh Panitia.
  • Baca makalah lengkap Ahmadun Yosi Herfanda di www.sembahyangrumputan.com.

Related posts

Leave a Comment