Herman dan Cornelia

665268_720

Seto Permada, lahir tanggal 12 Oktober 1994 di Purworejo. Beberapa cerpennya pernah dimuat berbagai media massa baik cetak atau daring. Sehari-harinya, ia bekerja sebagai penulis lepas. Salah satu cerpennya pernah menjadi nominasi penghargaan sastra Litera dan masuk antologi buku yang berjudul Seutas Tali & Segelas Anggur (LITERA, 2017).

 

Country roads, take me home

To the place, I belong

West Virginia, mountain mamma

Take me home, country roads

 

Dengan posisi duduk yang nyaman, Herman menopang dagu dengan siku di depan tungku menyala. Di luar, hujan deras disertai angin membentur-bentur atap asbes. Bara dan api di tungku telah menjaga kehangatan badannya seharian penuh. Karena saking nyamannya mendengarkan lagu country yang dinyanyikan John Denver, ia menguap lebar-lebar seraya mengatupkan kedelapan pasang kumis putihnya.

Herman adalah ras kucing kampung. Lagaknya saja yang mirip Shironeko. Sepanjang hari, kegiatannya cuma tidur, menguap, dan memandangi tungku menyala. Aktivitas lain yang ia lakukan hanya jalan ke kakus dengan langkah gontai untuk buang air. Setelah itu, ia kembali ke posisi semula. Menggelar tubuhnya di atas permadani bersamak kulit domba, mengendus bau-bauan yang melayang di udara, mendengar lagu-lagu country dari tape yang diletakkan di celah meja TV bergaya barok dekat tungku.

Malam ini, dari arah pintu depan, Cornelia masuk dengan tubuh basah kuyup. Wajahnya sepucat mayat yang baru digali dari liang lahat. Ia menenteng dua kantong plastik—masing-masing di tangan kanan dan kiri—isi ikan bandeng murah yang siap dipoles jadi pepes, bandeng goreng, dan sashimi. Herman hanya menoleh sekilas pada Cornelia yang masuk ke ruang dapur, lantas perhatiannya kembali lagi ke tungku.

Di rumah itu, Herman diperlakukan bagai raja kucing yang akhirnya kena obesitas dan kulitnya menggelambir di sana-sini.

Satu jam kemudian, posisi duduk Herman pindah dari lantai permadani bersamak kulit domba ke pangkuan Cornelia. Gadis remaja tanggung itu hanya butuh 30 menit untuk mandi dan membersihkan diri. Sisa waktunya digunakan untuk memasak bandeng pepes, bandeng goreng, dan sashimi.

Sebelum menyalakan televisi, Cornelia mematikan tape lebih dahulu. Film yang pemeran utamanya kucing Shironeko di jam 8 malam tidak boleh diganggu suara lagu apa pun, termasuk John Denver yang legendaris.

“Sekarang buka mulutmu, Herman,” Cornelia menusuk sashimi dengan garpu dan membawanya ke mulut depan Herman.

Sebetulnya Herman tidak terlalu suka sashimi. Lebih suka ikan bandeng yang dimasak, meski hanya dipepes setengah matang. Namun demi obsesinya menjadi kucing jepang Shironeko, jalan kebenaran itu harus ditempuh. Ia menganga lebar-lebar dan mencaplok sashimi yang tertusuk garpu hingga tandas. Kadang, karena terlalu semangat, mulutnya tertusuk juga oleh ujung garpu.

Setelah berhasil mencaplok dan menelan habis satu suapan itu, Cornelia memberi apresiasi berupa tepuk-kepala dan ucapan “anak pintar” berkali-kali. Bayangkan berapa kali apresiasi yang didapat Herman dalam sehari kalau total suapan dari pagi hingga malam sebanyak 150 kali.

Setiap kali Herman melihat Shironeko berkelebat di film sambil tiduran, ia mengeong manja. Ia begitu menghayati peran Shironeko yang sejak diutus ke dunia hanya untuk tidur, makan, dan malas-malasan. Cita-cita tertinggi Herman adalah menjadi Shironeko 100%. Semua itu karena Cornelia begitu memuja Shironeko yang ia anggap sebagai kucing keberuntungan.

Kalau Cornelia sangat memuja Shironeko dan Herman, maka Rano dan Rani sebaliknya.

Malam ini, tepatnya di pukul 8 lewat, Rano dan Rani baru pulang dari kantor. Mereka mengenakan jas hujan dan belum dicopot juga setelah masuk rumah. Tahu-tahu mereka sudah berkacak-pinggang di belakang mebel tempat Cornelia dan Herman duduk.

“Bukannya tidur atau belajar, malah nonton TV,” kata Rani dengan nada menyolot.

Maksud Rani, sebenarnya ia ingin memisahkan Cornelia dengan Herman. Ia lebih bahagia melihat Herman duduk terkantuk-kantuk sendirian di depan tungku daripada di pangkuan Cornelia.

“Berapa uang kamu habiskan hari ini untuk makanan kucing, Lia?” pertanyaan Rano tidak kalah beringasnya dari teguran Rani.

Maksud Rano, tidak seharusnya Cornelia terlalu bergantung kebahagiaan pada Herman dan terlalu memanjakannya. Ia lebih bahagia melihat Herman dalam keadaan kurus dan mengeong-ngeong sesuai asal-usulnya sebagai kucing kampung.

Sebetulnya sudah cukup lama—sekitar setahun lalu—Herman mengetahui gelagat Rano dan Rani dalam upaya menyingkirkannya dari rumah.

Contoh kasus paling dekat ada pada awal musim penghujan ini—saat Cornelia pergi sekolah. Saat itu, Rani mengambil cuti dari kantor karena mual-mual dan baru diberi aba-aba dari bidan tentang hamil mudanya. Pada waktu Herman memandangi bara dan api tungku yang menyala, perempuan itu duduk di mebel. Ia memasukkan jari telunjuk dan mengorek-ngorek pangkal mulutnya sendiri dengan maksud agar lekas muntah di depan Herman. Tak seperti saat di kantor yang bisa muntah kapan saja, rupanya di depan Herman ia tak sanggup memuntahkan satu nasi pun dari lambungnya.

Herman merayakan usaha Rani yang gagal dengan cara menggeliat panjang diiringi ngeong yang tak kalah panjangnya.

Usaha Rano lebih ekstrem lagi. Dia tahu betul kalau Cornelia menggemari musik country sejak masih balita. Ia juga tahu kalau Herman sangat memuja Cornelia dari gerak-geriknya. Pada awal bulan lalu, ia membeli kaset lagu yang berisi album milik John Denver di toko kelontong. Salah satu albumnya berisi lagu Take Me Home, Country Roads dan Rocky Mountain High.

Alhasil, lagu-lagu country-nya John Denver pun disetel sepanjang hari tanpa kenal waktu, mulai dari bangun pagi sampai bangun pagi, kecuali saat Cornelia dan Herman menonton televisi. Pembelian kaset itu semata-mata ia maksudkan agar Herman ingat kampung halamannya dan lekas enyah dari rumah.

Usaha Rano terbukti berhasil.

Setiap kali suara John Denver menggema di keempat penjuru dinding rumah, Herman merasa bukan bagian dari keluarga Rano dan Rani. Kadang-kadang, ketika ia memejamkan mata dan menghayati bait demi bait lagu, ia juga merasa berdiri terlalu jauh dari Cornelia. Oleh karena itu, ia berencana minggat malam ini setelah Cornelia, Rano, dan Rani tertidur.

Usai menyuapi, Cornelia berguling-guling di atas permadani dengan cara memeluk Herman erat-erat. Rano dan Rani yang masih berbalut jas hujan kedodoran itu saling pandang. Mereka memikirkan hal yang sama. Cornelia dan Herman harus dipisahkan secara paksa. Mau tidak mau. Daripada melihat anak semata wayang itu semakin gila karena wujud Shironeko palsu yang diselipkan ke tubuh Herman. Di dalam kepala masing-masing, sudah tergambar mobil box yang mereka pesan pagi tadi, sekotak kardus, dan pisau. Mereka punya keinginan kuat untuk menyergap Herman saat Cornelia tertidur. Lantas mengirimnya ke luar kota dengan cara baik-baik atau cara paling kejam.

“Mama, Papa. Herman dari hari ke hari semakin gemuk dan lucu, ya. Persis Shironeko. Lia mau Shironeko dari Jepang, Pa, Ma. Buat teman main Herman.”

“Ya, Lia,” ucap Rani setuju, tetapi di pikiran dan hatinya menolak.

“Ya, Lia. Besok Papa pesan langsung dari kurir Jepang,” ucap Rano setuju, tetapi pikiran dan hatinya menolak.

Di atas pangkuan Cornelia, Herman menatap lekat-lekat pada bara dan api di tungku yang menyala-nyala. Keinginannya untuk minggat malam ini semakin kuat.

***

Pukul 11 malam, Rani mematikan semua lampu di tiap-tiap ruangan, kecuali kamar mereka sendiri. Di ruang keluarga, Herman bangkit dari posisi duduknya di atas permadani. Ia berjalan sebentar, mondar-mandir, dan melongok seberkas cahaya yang berasal dari kamar tidur Cornelia. Seperti malam-malam sebelumnya, Rano dan Rani tengah membacakan cerita klasik pengantar tidur untuk remaja tanggung itu.

Setelah menarik napas panjang-panjang, Herman meloncat ke atas meja TV. Ia menggigit tape dan dengan sedikit usaha, akhirnya berhasil mengalungkannya. Sebagai keturunan kucing kampung, matanya selalu awas dalam kegelapan. Ia berjalan dengan mulus tanpa suara ke lubang keluar-masuk di bagian bawah pintu depan.

Di luar udaranya sangat dingin. Herman merasa seluruh bulu-bulunya bergetar. Ia berdiri dengan gagah dan yakin berhasil menemukan kampung halamannya, meski sejak bayi sudah diasuh Cornelia. Tanpa menoleh ke belakang, ia berjalan lurus tanpa keraguan sama sekali.

Setelah jaraknya agak jauh dari rumah Cornelia, persis di bawah pohon akasia, ia memencet tombol power pada tape. Maka, mengalunlah sebuah lagu country yang dinyanyikan oleh John Denver.

Lagu itu mengiringinya sepanjang jalan.

Tanpa tujuan.

 

Country roads, take me home

To the place, I belong

West Virginia, mountain mamma

Take me home, country roads

***

Purworejo, 23 Agustus 2018

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *