Puisi-puisi Bambang Widiatmoko

BAMBANG WIDIATMOKO, penyair kelahiran Yogyakarta ini memiliki kumpulan puisi tunggal antara lain Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011), Jalan Tak Berumah (2014), Paradoks (2016), Silsilah yang Gelisah (2017). Kumpulan esainya Kata Ruang (2015). Sajaknya terhimpun di berbagai antologi puisi bersama antara lain Deklarasi Puisi Indonesia (2012), Sauk Seloko (2012), Secangkir Kopi (2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Yogyakarta (2014), Jula Juli Asem Jakarta (2014), Negeri Langit (2015), Negeri Laut (2016), Pasie Karam (2016), Ije Jela (2016), Matahari Cinta Samudra Kata (HPI 2016), Sail Cimanuk (2016), Negeri Awan (2017), Kota Terbayang (2017), Hikayat Secangkir Robusta (2017). Ikut menulis esai di buku antara lain Jaket Kuning Sukirnanto (2014) Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (2016), Apresiasi Sastra dan Perbincangan Karya (2016), Isu Sosial dalam Puisi (2017). Jabal Rahmah Perjumpaan Sastra (2018). Cerpennya tergabung dalam antologi cerpen Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil (2017).

KAYU ARO

Dingin telah mempertemukan kabut dengan daun
Perempuan pemetik teh tangannya terus berayun
Dari hari ke hari nasib terbakar api unggun
Memetik tunas daun yang terus merimbun
Getar jantungnya berirama seperti gesekan daun.

Aku mengikuti langkah kakimu perlahan
Jejak telapak kaki terasa menggetarkan dahan
Seakan potret penindasan kembali ditayangkan
Di bukit bukit perkebunan – tampak beraturan
Dengan sigap kau sibakkan – terus berjalan ke depan.

Di perkebunan teh Kayu Aro – gerimis menangis
Meski keindahan semesta terus terlukis
Adakah yang dapat kau petik selain nasib yang terkikis
Mungkin waktu dan perjalanan hidup kian menipis
Entahlah. Kesunyian telah melupakan jiwa yang teriris.

2018

MUSEUM SANGIRAN

Di museum Sangiran
Mengingatkan pada manusia purba
Sangiran beralih jadi daratan
Melepaskan diri dari pergerakan alam.

2.400.000 juta tahun lalu
Sangiran adalah dasar laut
Surga bagi ikan-ikan dan siput

Di akhir Kala Pliosen
Sangiran tertutup laut
Seperti pulau Jawa yang keriput.

Apakah kita
Berasal dari Homo Erectus
Dan hidup di masa kini
Merentang nasib sulit dipahami
Di bumi yang berevolusi?

2018

RATIB SAMAN

Di desa Kelumu
Senja menyambutku dengan sisa mabuk laut
Dalam pelayaran menembus gelombang angin selatan
Dari Tanjungpinang ke Daik Lingga.

Sehabis salat Isya – rasa sejuk menguap
Dari kabut yang mulai turun di kaki bukit Daik
Lalu aku mengencangkan ikatan sarung
Bersiap untuk mengikuti dzikir panjang Ratib Saman.

Aku telah duduk dalam lingkaran di dalam masjid At Taqwa
Berdzikir kepada Allah – sebagaimana dulu dilakukan Syekh Saman
Sebagai tradisi tolak bala – melindungi desa dan penduduknya
Menarik nafas dalam-dalam mengucapkan La Ilaha Illallah.

Aku menarik nafas sebagai sumber masuknya penyakit dan roh jahat
Lalu menghembuskan kembali dengan ucapan La Ilaha Illallah
Agar segala penyakit ikut terbuang – agar ombak kembali tenang
Agar segala roh jahat penggangu segera menghilang.

Seusai dzikir di dalam masjid
Kami pun turun ke sungai
Dengan menaiki perahu – dari hilir ke hulu
Mengayuh perahu dalam alunan ayat dan doa-doa.

Lingga, 2018

TUBUH WAKTU

Ditembak mati di dalam
Kubur yang digali sendiri
Pedihnya melebihi tikaman belati
Yang menancap di ulu hati.

Di Rimbang Baling
Aku merasakan kepedihan itu
Deretan rel kereta yang makin tua
Semakin enggan untuk bercerita.

Di tepian sungai Singingi
Air mata mengalir dari mata air
Membawa sisa tubuh waktu
Sepotong kisah pilu – tersangkut batu.

2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *