Category Archives: ESAI

Novel Best Seller Sekadar Loveable

13681017_117174005390871_12830400097993941_n

Anton Suparyanta, alumni FIB UGM Yogyakarta. Dari tahun 1998-2017 aktif sebagai esais pendidikan-seni-budaya-sastra di beberapa harian pagi (Jawa Pos, Riau Pos, Lampung Pos, Suara Merdeka, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Surya, jurnal daring BASABASI.CO) dan mantan dosen sastra di FKIP Universitas Widya Dharma, Klaten. Tahun 2005 hingga kini aktif sebagai penulis buku mapel Bahasa Indonesia (”kurikulum” KBK, KTSP, BSE, Kurikulum 2013) untuk jenjang SD, SMP, SMA, SMK dan menjadi staf di penerbit PT Intan Pariwara, Klaten, Jawa Tengah.

Ranjang dan Tubuh yang Kesepian

New Picture

Judul: Perempuan Bulan Ranjang

Penulis: Iman Sembada

Penerbit: Imaji

Cetakan pertama: September 2016

Tebal: 63+vi hal

ISBN: 978-602-1545-07-2

Sebuah Dunia yang Tenggelam

Ilustrasi Jakarta Tenggelam

Plato pernah mengatakan bahwa karya sastra adalah sebuah mimesis. Sang filsuf mengatakan itu dengan berdasar bahwa banyak tulisan dan panggung pada saat itu memang mementaskan lakon-lakon sebagai sebuah tiruan dari peristiwa-peristiwa nyata yang kemudian diangkat dan dikemas dalam suatu seni pertunjukan.

Kesetiaan pada Tradisi dan Kearifan Lokal

20613945_1778934742121398_1842092426_n

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata modernisasi. Secara sederhana mungkin kita akan membayangkan sebuah arus besar yang menyeret kita pada suatu perubahan pemikiran, gaya hidup, atau bahkan suatu kondisi masyarakat yang sedang bergerak pada budaya hedonis dan seragam secara sadar atau tak sadar. Kita berada pada suatu telikungan atau kungkungan di mana mesin, tehnologi, dan pembaharuan sedang berusaha mengubah aspek-aspek kehidupan sebuah masyarakat atau bangsa.

M.A. Salmun: Sastrawan dan Budayawan Sunda

Salmun

Ada 480 karya sastra telah berhasil sebagai buah pikiran dan renungan bagi seorang intelektualitas orang Sunda. Hampir seluruh karyanya dalam bahasa Sunda, ia pun oleh beberapa kritikus sastra digolongkan kepada Sastrawan Angkatan 1966-1970. Padahal berkarya jauh sebelum kemerdekaan RI.

Maumerelogia II: Apresiasi Sastra dan Pentas Teater

Kahe Perform

“Kesenian selalu bernilai sejati karena mampu memberikan pengalaman cinta persaudaraan kepada umat manusia.” (Leo Tolstoy)

Ada titik cerah pada cakrawala sastra dan teater Nusa Tenggara Timur. Setelah sukses digelar pada tahun 2016 yang lalu, even apresiasi sastra dan pentas teater bertajuk Maumerelogia kembali diadakan lagi oleh komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) bekerjasama dengan beberapa komunitas/pihak, terutama Koalisi Seni Indonesia (KSI) dan Peace Woman Across the Globe (PWAG).

Kreativitas Tanpa Batas: Pengantar kurator

IMG_0599

Tak terasa, portal sastra Litera – yang beralamat di www.litera.co.id – sudah berusia satu tahun. Selama setahun itu, ada banyak tulisan yang muncul di media dalam jaring (daring – online) itu, mulai dari puisi, cerpen, esai, hingga berita. Ada puluhan nama yang mengirimkan karya. Sebagian besar karya itu kami muat, hanya sedikit yang kami tolak. Hanya ruang alias nama rubrik saja yang kami bedakan.

Sastra dan Filsafat yang Buram

kaca buram

Ketika kita membaca karya sastra, sesungguhnya banyak kita berharap bahwa kita ingin mendapat sesuatu nilai lebih, dalam hal ini adalah konsep, gagasan dan dialektika yang hidup dan membangkitkan daya nalar kita selain tentu saja mendapat suatu kesenangan batin. Inteligensi seorang sastrawan akan memberi bobot pada karyanya yang tentu saja akan berpengaruh besar pada kekuatan karya tersebut.

Imaji yang Menari Dalam Puisi Alya Salaisha

Alya dan Bintang sedang menyanyikan salah satu sajak Alya dalam peluncuran buku kumpulan puisi Taman Terakhir karya Alya Shalaisa di Soeltan Coffee, Kemang, Jakarta, Senin sore 27 Maret 2017.

Apresiasi Ahmadun Yosi Herfanda

Puisi dimulai dari kegairahan

Dan berakhir dengan kearifan

 (Robert Frost)

Membaca sajak-sajak Alya Salaisha dalam buku kumpulan puisi Taman Terakhir saya menemukan imaji yang menari-nari dalam sajak. Imaji itu bergerak dengan gemulai, di balik sususan kata yang indah, membangun gambar-gambar dinamis yang samar, dan menghadirkan teka-teki makna yang menantang pembaca untuk menangkapnya. Tidak gampang menjawab teka-teki makna yang tersembunyi di balik tarian imaji itu, ketika deretan imaji membentuk gambar-gambar yang surealistik.

Panorama Laut yang Terbuat dari Kenangan

15136016_1491605017521040_2678525937976029225_n

DALAM khazanah perpuisian Indonesia modern ada banyak penyair menghamparkan laut. Di situ, laut dihamparkan sebagai tatapan visual bersama citraan alam yang telah menjadi umum dalam upaya penyair menciptakan panorama puitik; bulan, perahu, camar, ombak, pantai, pulau, perahu, langit senja, atau gerimis. Lebih dari sekadar tatapan visual, laut dalam puisi lalu mengeluarkan banyak suara. Suara keheningan bak telaga yang dihembuskan Sanusi Pane dalam sajak “Dibawah Gelombang”. Suara keberanian manusia yang ditegaskan Sutan Takdir Alisyahbana dalam “Menuju Ke Laut”. Suara kebebasan manusia modern dari kungkungan masa lalu sebagaimana Asrul Sani mencetuskannya dalam “Elang Laut”, “Anak Laut”, atau “Orang Dalam Perahu”. Demikian pula suara manusia yang mengerang dalam sajak Sanento Yuliman, “Laut”. Di luar itu, ada berbagai lagi panorama dan suara laut yang dihamparkan para penyair.