Apresiasi 

Kesetiaan pada Tradisi dan Kearifan Lokal

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata modernisasi. Secara sederhana mungkin kita akan membayangkan sebuah arus besar yang menyeret kita pada suatu perubahan pemikiran, gaya hidup, atau bahkan suatu kondisi masyarakat yang sedang bergerak pada budaya hedonis dan seragam secara sadar atau tak sadar. Kita berada pada suatu telikungan atau kungkungan di mana mesin, tehnologi, dan pembaharuan sedang berusaha mengubah aspek-aspek kehidupan sebuah masyarakat atau bangsa.

Read More
Apresiasi 

Maumerelogia II: Apresiasi Sastra dan Pentas Teater

“Kesenian selalu bernilai sejati karena mampu memberikan pengalaman cinta persaudaraan kepada umat manusia.” (Leo Tolstoy) Ada titik cerah pada cakrawala sastra dan teater Nusa Tenggara Timur. Setelah sukses digelar pada tahun 2016 yang lalu, even apresiasi sastra dan pentas teater bertajuk Maumerelogia kembali diadakan lagi oleh komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) bekerjasama dengan beberapa komunitas/pihak, terutama Koalisi Seni Indonesia (KSI) dan Peace Woman Across the Globe (PWAG).

Read More
Apresiasi ESAI 

Kreativitas Tanpa Batas: Pengantar kurator

Tak terasa, portal sastra Litera – yang beralamat di www.litera.co.id – sudah berusia satu tahun. Selama setahun itu, ada banyak tulisan yang muncul di media dalam jaring (daring – online) itu, mulai dari puisi, cerpen, esai, hingga berita. Ada puluhan nama yang mengirimkan karya. Sebagian besar karya itu kami muat, hanya sedikit yang kami tolak. Hanya ruang alias nama rubrik saja yang kami bedakan.

Read More
Apresiasi 

Imaji yang Menari Dalam Puisi Alya Salaisha

Apresiasi Ahmadun Yosi Herfanda Puisi dimulai dari kegairahan Dan berakhir dengan kearifan  (Robert Frost) Membaca sajak-sajak Alya Salaisha dalam buku kumpulan puisi Taman Terakhir saya menemukan imaji yang menari-nari dalam sajak. Imaji itu bergerak dengan gemulai, di balik sususan kata yang indah, membangun gambar-gambar dinamis yang samar, dan menghadirkan teka-teki makna yang menantang pembaca untuk menangkapnya. Tidak gampang menjawab teka-teki makna yang tersembunyi di balik tarian imaji itu, ketika deretan imaji membentuk gambar-gambar yang surealistik.

Read More
Apresiasi 

Abidah El Khalieqy: Faith and Fashion

Abidah El Khalieqy, perempuan penyair dan novelis yang bertinggal di kota budaya Yogyakarta. Sebagai pengarang, ia telah mengikuti berbagai event sastra tingkat nasional, regional maupun internasional. Karya-karyanya memiliki karakter yang kuat untuk mewakili perjuangan kaum muslimah Indonesia modern dalam upaya mengentaskan diri dari belenggu tradisi budaya dan praktik-praktik keagamaan yang kurang ramah terhadap eksistensi perempuan. Karya-karya kesusastraannya telah diikutkan dalam berbagai buku bunga rampai sastra seperti: ASEANO: An Antology of Poems Shoutheast Asia (1996), Cyber Album Indonesia – Australia (1998), Force Majeure (2007), Rainbow: Indonesian Womens Poet (2008), Word Without…

Read More
Apresiasi 

Nirzona: Tsunami of Emotion

(Litera)– Beberapa waktu yang lalu tepatnya pada bulan Oktober, Abidah El Khalieqy diundang dan diwawancarai mengenai novelnya yang berjudul Nirzona. Abidah sedang menghadiri seminar dan serangkaian acara sastra selama beberapa hari bersama beberapa sastrawan tanah air di Frankfurt, Jerman. Novel Nirzona adalah sebuah novel dengan latar peristiwa tsunami Aceh yang telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Amerika Serikat.

Read More
Apresiasi 

Membaca Penari dari Kuraitaji

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, ketua lembaga literasi indonesia   Sebagaimana judul-judulnya, cerpen-cerpen Free Hearty (Bundo Free) menarik untuk dibaca. Dengan gaya realis, cerpen-cerpen Bundo yang terkumpul dalam buku Penari dari Kuraitaji (Penerbit Kosa Kata Kita, 2015) umumnya terasa ringan, renyah, dan enak dikunyah. Terasa dulce et utile, kata Horatius, menyenangkan dan berguna. Gaya penyajian demikian memang penting bagi genre prosa fiksi, baik cerpen maupun novel, yang ber-“mazhab” realis, agar enak dinikmati pembaca, menghibur, dan dipahami isi serta pesannya.

Read More
Apresiasi 

Budaya Sebagai Pembangunan Karakter dan Jati Diri Bangsa

Visi tanpa tindakan adalah sebuah mimpi belaka. Tindakan tanpa visi hanya akan menghabiskan waktu. Visi dengan tindakan akan mengubah dunia.   Dasar Pemikiran Seperti kata pameo, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Kita melakukan flash back ke belakang, antara 70 – 80 tahun lalu ada dua cita-cita besar yang menggerakan para pendiri bangsa ini : Kemerdekaan dan Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan : para pendiri bangsa berjuang  untuk membebaskan bangsa indonesia dari penghinaan dan penjajahan oleh bangsa asing. Dan Keadilan : mereka bertekad menciptakan keadilan bagi seluruh…

Read More