Category Archives: Apresiasi

Ranjang dan Tubuh yang Kesepian

New Picture

Judul: Perempuan Bulan Ranjang

Penulis: Iman Sembada

Penerbit: Imaji

Cetakan pertama: September 2016

Tebal: 63+vi hal

ISBN: 978-602-1545-07-2

Kesetiaan pada Tradisi dan Kearifan Lokal

20613945_1778934742121398_1842092426_n

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata modernisasi. Secara sederhana mungkin kita akan membayangkan sebuah arus besar yang menyeret kita pada suatu perubahan pemikiran, gaya hidup, atau bahkan suatu kondisi masyarakat yang sedang bergerak pada budaya hedonis dan seragam secara sadar atau tak sadar. Kita berada pada suatu telikungan atau kungkungan di mana mesin, tehnologi, dan pembaharuan sedang berusaha mengubah aspek-aspek kehidupan sebuah masyarakat atau bangsa.

M.A. Salmun: Sastrawan dan Budayawan Sunda

Salmun

Ada 480 karya sastra telah berhasil sebagai buah pikiran dan renungan bagi seorang intelektualitas orang Sunda. Hampir seluruh karyanya dalam bahasa Sunda, ia pun oleh beberapa kritikus sastra digolongkan kepada Sastrawan Angkatan 1966-1970. Padahal berkarya jauh sebelum kemerdekaan RI.

Maumerelogia II: Apresiasi Sastra dan Pentas Teater

Kahe Perform

“Kesenian selalu bernilai sejati karena mampu memberikan pengalaman cinta persaudaraan kepada umat manusia.” (Leo Tolstoy)

Ada titik cerah pada cakrawala sastra dan teater Nusa Tenggara Timur. Setelah sukses digelar pada tahun 2016 yang lalu, even apresiasi sastra dan pentas teater bertajuk Maumerelogia kembali diadakan lagi oleh komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) bekerjasama dengan beberapa komunitas/pihak, terutama Koalisi Seni Indonesia (KSI) dan Peace Woman Across the Globe (PWAG).

Kreativitas Tanpa Batas: Pengantar kurator

IMG_0599

Tak terasa, portal sastra Litera – yang beralamat di www.litera.co.id – sudah berusia satu tahun. Selama setahun itu, ada banyak tulisan yang muncul di media dalam jaring (daring – online) itu, mulai dari puisi, cerpen, esai, hingga berita. Ada puluhan nama yang mengirimkan karya. Sebagian besar karya itu kami muat, hanya sedikit yang kami tolak. Hanya ruang alias nama rubrik saja yang kami bedakan.

Imaji yang Menari Dalam Puisi Alya Salaisha

Alya dan Bintang sedang menyanyikan salah satu sajak Alya dalam peluncuran buku kumpulan puisi Taman Terakhir karya Alya Shalaisa di Soeltan Coffee, Kemang, Jakarta, Senin sore 27 Maret 2017.

Apresiasi Ahmadun Yosi Herfanda

Puisi dimulai dari kegairahan

Dan berakhir dengan kearifan

 (Robert Frost)

Membaca sajak-sajak Alya Salaisha dalam buku kumpulan puisi Taman Terakhir saya menemukan imaji yang menari-nari dalam sajak. Imaji itu bergerak dengan gemulai, di balik sususan kata yang indah, membangun gambar-gambar dinamis yang samar, dan menghadirkan teka-teki makna yang menantang pembaca untuk menangkapnya. Tidak gampang menjawab teka-teki makna yang tersembunyi di balik tarian imaji itu, ketika deretan imaji membentuk gambar-gambar yang surealistik.

Abidah El Khalieqy: Faith and Fashion

abidah-el-khalieqy_20161127_080501

Abidah El Khalieqy, perempuan penyair dan novelis yang bertinggal di kota budaya Yogyakarta. Sebagai pengarang, ia telah mengikuti berbagai event sastra tingkat nasional, regional maupun internasional. Karya-karyanya memiliki karakter yang kuat untuk mewakili perjuangan kaum muslimah Indonesia modern dalam upaya mengentaskan diri dari belenggu tradisi budaya dan praktik-praktik keagamaan yang kurang ramah terhadap eksistensi perempuan.

Karya-karya kesusastraannya telah diikutkan dalam berbagai buku bunga rampai sastra seperti: ASEANO: An Antology of Poems Shoutheast Asia (1996), Cyber Album Indonesia – Australia (1998), Force Majeure (2007), Rainbow: Indonesian Womens Poet (2008), Word Without Borders (2009), E- Books Library For Diffabel (2007) dan lebih dari 25 buku sastra lainya.

Mendapat Penghargaan Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (1998). Menjadi pemenang dalam Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (2003). Dinobatkan sebagai tokoh “10 Anak Zaman Menerobos Batas” – Majalah As-Syir’ah (2004). Memperoleh anugerah IKAPI – Balai Bahasa Award (2008) dan, Adab Award dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (2009). Dinobatkan sebagai “Sepuluh Muslimah Kreatif” – Majalah NooR (2010). Memperoleh Anugerah Sastra dari Kemendikbud RI. (2011). Karya-karyanya, terutama cerpen dan novel, telah dikaji dan dijadikan bahan penelitian dan penulisan skrpsi, tesis, disertasi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, dan luar negeri, yang jumlahnya lebih dari 100 buah.

Bukunya yang sudah terbit: Ibuku Laut Berkobar (1997), Menari Di Atas Gunting (2001), Perempuan Berkalung Sorban (2001), Atas Singgasana (2002), Genijora (2004), Mahabbah Rindu (2007), Nirzona (2008), Mikraj Odyssey (2009), Kisah Tuhu dari Melayu (2009), Menebus Impian (2010), Mataraisa (2012), Akulah Istri Teroris (2014), Mimpi Anak Pulau (2015), Bait-Bait Multazam (2015), Santri Cengkir (2016) dan, Nyanyian Seribu Bulan (2016).

Karyanya yang sudah dialihkan ke dalam bentuk film layar lebar; Perempuan Berkalung Sorban (novel), Menebus Impian (novel), Mahabbah Rindu (novel), Mimpi Anak Pulau (novel) dan, Pulang Tanpa Alamat (cerita pendek).

Nirzona: Tsunami of Emotion

index

(Litera)– Beberapa waktu yang lalu tepatnya pada bulan Oktober, Abidah El Khalieqy diundang dan diwawancarai mengenai novelnya yang berjudul Nirzona. Abidah sedang menghadiri seminar dan serangkaian acara sastra selama beberapa hari bersama beberapa sastrawan tanah air di Frankfurt, Jerman. Novel Nirzona adalah sebuah novel dengan latar peristiwa tsunami Aceh yang telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Amerika Serikat.

Membaca Penari dari Kuraitaji

penari-bundo-2

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, ketua lembaga literasi indonesia

 

Sebagaimana judul-judulnya, cerpen-cerpen Free Hearty (Bundo Free) menarik untuk dibaca. Dengan gaya realis, cerpen-cerpen Bundo yang terkumpul dalam buku Penari dari Kuraitaji (Penerbit Kosa Kata Kita, 2015) umumnya terasa ringan, renyah, dan enak dikunyah. Terasa dulce et utile, kata Horatius, menyenangkan dan berguna. Gaya penyajian demikian memang penting bagi genre prosa fiksi, baik cerpen maupun novel, yang ber-“mazhab” realis, agar enak dinikmati pembaca, menghibur, dan dipahami isi serta pesannya.

Budaya Sebagai Pembangunan Karakter dan Jati Diri Bangsa

14333094_1416931418321734_2423358767662416009_n

Visi tanpa tindakan adalah sebuah mimpi belaka. Tindakan tanpa visi hanya akan menghabiskan waktu. Visi dengan tindakan akan mengubah dunia.

 

Dasar Pemikiran

Seperti kata pameo, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Kita melakukan flash back ke belakang, antara 70 – 80 tahun lalu ada dua cita-cita besar yang menggerakan para pendiri bangsa ini : Kemerdekaan dan Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan : para pendiri bangsa berjuang  untuk membebaskan bangsa indonesia dari penghinaan dan penjajahan oleh bangsa asing. Dan Keadilan : mereka bertekad menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena ada kekhawatiran, jangan-jangan sesudah berhasil membangun “Jembatan Emas” kemerdekaan, rakyat Indonesia kembali jatuh ke tangan kaum feodal, kaum kolonialis, kaum imperialis dan kaum kapitalis.