Category Archives: PERCIKAN

Penamu Adalah Harimaumu

FB_IMG_1521690506429

Oleh: Iman Sembada, penggiat seni dan budaya. Aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Buku puisi tunggalnya yang terbaru Perempuan Bulan Ranjang (2016).

Apa kabar puisi Indonesia? Semoga puisi Indonesia hari ini dan hari yang akan datang baik-baik saja. Tapi jika terlalu anteng dan tenang seakan tidak ada proses kehidupan yang lebih baik. Sampai hari ini puisi masih ditulis. Masih ada orang yang menulis puisi. Secara kuantitas memang perpuisian Indonesia sangat menggairahkan. Tapi secara kualitas masih perlu pengkajian dan penelitian yang serius.

Hari Puisi Sedunia dan Semangat Gerakan Literasi

FB_IMG_1521690506429

Oleh: Iman Sembada, pegiat seni dan budaya. Aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI)

Puisi telah menjadi peradaban dunia. Puisi memiliki peran penting dalam sejarah, seni dan kebudayaan manusia, dari dahulu hingga kini. Unesco menetapkan Hari Puisi Sedunia pada November 1999 ketika penyelenggaraan pertemuan Unesco di Paris, Prancis. Tapi, peringatan Hari Puisi Sedunia pertama kali pada 21 Maret 2000. So, tahun ini merupakan perayaan Hari Puisi Sedunia ke-18.

[Puisi] Bukan Bacaan Iseng-iseng

IMG_20180221_201112

Oleh: Iman Sembada, penyair dan aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI).

Akhir pekan menjadi moment yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak penulis fiksi, salah satunya adalah penyair. Apa sebab? Hanya pada akhir pekan sejumlah media massa cetak atau online menerbitkan karya sastra, seperti puisi dan cerita pendek. Para penulis puisi (penyair) tak ingin melewatkan untuk membeli atau sekadar melihat media massa-media massa tersebut. Hal ini sebuah upaya untuk mengecek dan mastikan apakah puisinya yang dikirim ke media massa dimuat atau tidak. Sebab banyak media massa yang tidak memberi tahu penulis yang karyanya dimuat. Sangat sedikit media massa yang memberi tahu, via telepon atau e-mail, penulis yang karyanya akan dimuat.

Puisi: Sebuah Pembacaan Umum

17098232_1606782562669951_8873580348079086135_n

Puisi tentu saja suatu yang tak asing bagi hampir semua orang. Menulis puisi banyak dilakukan orang saat mereka berada pada suatu momentum di mana kondisi batin sedang mengalami tegangan, keresahan, atau bahkan saat sedang jatuh cinta. Ini kerap dilakukan orang banyak (Baca; awam atau pemula). Mereka menjadikan puisi sebagai curahan batin. Tentu itu sah-sah saja karena pada faktanya itu bisa kita temukan di banyak orang. Kita bisa membaca puisi tersebut di lembaran kertas atau catatan harian seseorang, di media sosial seperti fesbuk atau bisa jadi dari kiriman pesan seseorang di aplikasi whatsap. Ini adalah suatu hal yang lumrah.

Pemain, Penonton, dan Komentator

16996146_1597945216887019_6427061576636257882_n

Dunia dalam lingkaran

 

Dalam dunia sastra tanah air khususnya genre puisi, kerap kali kita menyaksikan seorang penyair berperan sebagai penonton sekaligus komentator. Sederhananya banyak dalam event sastra kita menyaksikan seorang penyair adalah juga penonton yang kadang juga berperan sebagai komentator. Dalam lingkup yang lebih luas, bukan pada suatu event ternyata hal semacam itu tetap berlangsung. Misal saja dalam ruang yang lebih terbuka, di dunia maya atau media sosial atau juga interaksi antar para penyair sehari-hari.

Fiksi, Imajinasi, dan Realitas yang Terbagi

light-hole

Saat kita membaca karya sastra baik puisi, prosa atau mungkin menonton drama, kita akan beranggapan bahwa itu hanya fiksi. Tak salah, karya sastra adalah karya fiksi. Puisi, cerpen, dan novel tentu berbeda dengan karya non fiksi seperti buku sejarah, biografi, science, atau laporan jurnalistik. Kita mungkin tak bisa menjadikan puisi dan novel sebagai referensi ilmiah secara umum kecuali hanya pada wilayah analisa fakultas sastra semata yang tentu saja sudah memasuki wilayah akademis. Kita akan melihat karya sastra tentu dengan perangkat akademis di mana puisi, cerpen, dan novel telah menjadi sebuah pertaruhan akademis yang ternyata tak sesederhana seperti yang dibayangkan banyak orang.

Sumpah Pemuda: Puisi yang Tak Pernah Mati

sumpah-pemuda

Sumpah Pemuda yang dicetuskan dan diikrarkan oleh para pemuda 88 tahun yang lalu adalah sesuatu yang dianggap satu momentum bersejarah yang menandai sebuah kesadaran kolektik dari bermacam organisasi pemuda yang kemudian menjadi pengikat untuk berada pada satu semangat persatuan. Lahirnya banyak organisasi beberapa tahun sebelumnya masih bercorak primordial, hanya berupa perubahan pola perjuangan dari fisik menuju ideologis. Masih begitu kental sekat-sekat sektarianisme dan primordialisme dalam organ-organ yang ada sebelum sumpah pemuda diikrarkan. Sekat agama, suku, profesi, dan terlebih sekat bahasa masih sangat menonjol.

Masyarakat Santri dan Tradisi Sastra

images

Suasana di kota santri

Asyik senangkan hati

Tiap pagi dan sore hari

Muda-mudi berbusana rapi

Menyandang kitab suci

Hilir-mudik silih berganti

Pulang pergi mengaji

Kematian Kecil dan Masa Depan Penyair

561

“Sahabat, Minggu ini, adalah hari terakhir saya menjadi redaktur tamu halaman “Hari Puisi” di harian Riau Pos. Minggu berikutnya, saya tidak tahu pasti, apakah halaman puisi itu akan tetap ada atau tidak-tentu hanya Tuhan yang tahu. Dan tentu, sebagai ‘tamu’ ini peristiwa biasa saja…..”

(Marhalim Zaini)

Idul Fitri dalam Sepenggal Sastra Indonesia

lebaran2

Oleh: Mahrus Prihany, divisi kaderisasi dan organisasi KSI Pusat

 

Idul Fitri adalah kembali ke fitrah. Hari kemenangan bagi mereka yang meyakini bahwa mereka telah memenangkan pertarungan terhadap hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa dan menahan diri secara fisik dan batin. Suatu pertanyaan yang muncul sejauh manakah sesungguhnya kemenangan yang ummat Islam telah raih. Adakah kemenangan tersebut hanya berupa selebrasi yang penuh dengan hura-hura seperti yang nampak pada perayaan Idul fitri yang penuh dengan makanan tumpah ruah semacam pesta tahunan dan baju baru yang harus lebih satu bagi anak-anak seperti yang kita saksikan dan lakukan tahun demi tahun.