Category Archives: PERCIKAN

Puisi: Sebuah Pembacaan Umum

17098232_1606782562669951_8873580348079086135_n

Puisi tentu saja suatu yang tak asing bagi hampir semua orang. Menulis puisi banyak dilakukan orang saat mereka berada pada suatu momentum di mana kondisi batin sedang mengalami tegangan, keresahan, atau bahkan saat sedang jatuh cinta. Ini kerap dilakukan orang banyak (Baca; awam atau pemula). Mereka menjadikan puisi sebagai curahan batin. Tentu itu sah-sah saja karena pada faktanya itu bisa kita temukan di banyak orang. Kita bisa membaca puisi tersebut di lembaran kertas atau catatan harian seseorang, di media sosial seperti fesbuk atau bisa jadi dari kiriman pesan seseorang di aplikasi whatsap. Ini adalah suatu hal yang lumrah.

Pemain, Penonton, dan Komentator

16996146_1597945216887019_6427061576636257882_n

Dunia dalam lingkaran

 

Dalam dunia sastra tanah air khususnya genre puisi, kerap kali kita menyaksikan seorang penyair berperan sebagai penonton sekaligus komentator. Sederhananya banyak dalam event sastra kita menyaksikan seorang penyair adalah juga penonton yang kadang juga berperan sebagai komentator. Dalam lingkup yang lebih luas, bukan pada suatu event ternyata hal semacam itu tetap berlangsung. Misal saja dalam ruang yang lebih terbuka, di dunia maya atau media sosial atau juga interaksi antar para penyair sehari-hari.

Fiksi, Imajinasi, dan Realitas yang Terbagi

light-hole

Saat kita membaca karya sastra baik puisi, prosa atau mungkin menonton drama, kita akan beranggapan bahwa itu hanya fiksi. Tak salah, karya sastra adalah karya fiksi. Puisi, cerpen, dan novel tentu berbeda dengan karya non fiksi seperti buku sejarah, biografi, science, atau laporan jurnalistik. Kita mungkin tak bisa menjadikan puisi dan novel sebagai referensi ilmiah secara umum kecuali hanya pada wilayah analisa fakultas sastra semata yang tentu saja sudah memasuki wilayah akademis. Kita akan melihat karya sastra tentu dengan perangkat akademis di mana puisi, cerpen, dan novel telah menjadi sebuah pertaruhan akademis yang ternyata tak sesederhana seperti yang dibayangkan banyak orang.

Sumpah Pemuda: Puisi yang Tak Pernah Mati

sumpah-pemuda

Sumpah Pemuda yang dicetuskan dan diikrarkan oleh para pemuda 88 tahun yang lalu adalah sesuatu yang dianggap satu momentum bersejarah yang menandai sebuah kesadaran kolektik dari bermacam organisasi pemuda yang kemudian menjadi pengikat untuk berada pada satu semangat persatuan. Lahirnya banyak organisasi beberapa tahun sebelumnya masih bercorak primordial, hanya berupa perubahan pola perjuangan dari fisik menuju ideologis. Masih begitu kental sekat-sekat sektarianisme dan primordialisme dalam organ-organ yang ada sebelum sumpah pemuda diikrarkan. Sekat agama, suku, profesi, dan terlebih sekat bahasa masih sangat menonjol.

Masyarakat Santri dan Tradisi Sastra

images

Suasana di kota santri

Asyik senangkan hati

Tiap pagi dan sore hari

Muda-mudi berbusana rapi

Menyandang kitab suci

Hilir-mudik silih berganti

Pulang pergi mengaji

Kematian Kecil dan Masa Depan Penyair

561

“Sahabat, Minggu ini, adalah hari terakhir saya menjadi redaktur tamu halaman “Hari Puisi” di harian Riau Pos. Minggu berikutnya, saya tidak tahu pasti, apakah halaman puisi itu akan tetap ada atau tidak-tentu hanya Tuhan yang tahu. Dan tentu, sebagai ‘tamu’ ini peristiwa biasa saja…..”

(Marhalim Zaini)

Idul Fitri dalam Sepenggal Sastra Indonesia

lebaran2

Oleh: Mahrus Prihany, divisi kaderisasi dan organisasi KSI Pusat

 

Idul Fitri adalah kembali ke fitrah. Hari kemenangan bagi mereka yang meyakini bahwa mereka telah memenangkan pertarungan terhadap hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa dan menahan diri secara fisik dan batin. Suatu pertanyaan yang muncul sejauh manakah sesungguhnya kemenangan yang ummat Islam telah raih. Adakah kemenangan tersebut hanya berupa selebrasi yang penuh dengan hura-hura seperti yang nampak pada perayaan Idul fitri yang penuh dengan makanan tumpah ruah semacam pesta tahunan dan baju baru yang harus lebih satu bagi anak-anak seperti yang kita saksikan dan lakukan tahun demi tahun.

Sastra dan Manusia Religius

98f13708210194c475687be6106a3b84_1422014721

oleh: Mahrus Prihany, divisi kaderisasi dan organisasi KSI Pusat.

 

Sastra, jika kita sandingkan dengan agama saat ini seperti suatu hal yang terpisah dan berbeda. Masing-masing memiliki dimensi, ruang lingkup, pijakan dan karakteristik yang saling melekat dan keduanya mungkin hanya memiliki sedikit persamaan. Universalisme dalam sastra ataupun agama sebatas pada gagasan dan konsep yang mengalami jalan terjal dalam praktiknya. Agama sangat terkesan dimaknai dengan nilai dan ritual. Begitu juga sastra, sebatas pada permainan kata dan tanda yang bebas dari beban, tanggungjawab atau peran-peran yang membebaskan manusia dari belenggu dan sekat apapun. Jika agama terkesan memiliki aturan ketat, sastra seakan memiliki aturan yang sangat longgar dan memiliki kebebasan yang demikian luas.

Dialog dengan Nurani

Hati-dan-Nafs-678x340

Mahrus Prihany: Divisi kaderisasi dan organisasi KSI Pusat.

 

Karya sastra baik berupa puisi, cerpen, novelet, novel, dan drama pada dasarnya adalah sebuah karya yang lahir dari suatu perenungan yang dalam. Siapa saja bisa menulis karya sastra. Imaginasi, pikiran, gagasan atau pembacaan seseorang atas teks dan realitas masyarakat adalah hanya berupa cara bagi seseorang melahirkan karya sastra.

Derrida pun Mengerutkan Dahinya

Jacques-Derrida-Paris-12-de-se_54215948225_53389389549_600_396-1

Oleh Mahrus Prihany, cerpenis, ketua divisi kaderisasi dan organisasi KSI Pusat

 

Jacques Derrida (1930-2004) mungkin termasuk salah satu filsuf Prancis yang banyak diperdebatkan meski tak bisa dipungkiri pemikirannya cukup berpengaruh dalam perkembangan teks modern. Banyak yang menyebutkan bahwa pemikiran Derrida sesungguhnya cocok diterapkan untuk filsafat, bukan pada teks sastra meski pada kenyataannya kini kita bisa membaca karya sastra dengan perspektif Derrida.