KRITIK 

POTRET BURAM NEGERI MAJOI

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, pelayan sastra

___________________________________________________________________                                                                         

Ketika menghadapi zaman yang banyak diwarnai kerusuhan sosial, penyimpangan hukum, dan perselingkuhan birokrasi, penyair Taufiq Ismail menulis puisi  “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (MAJOI). Puisi ini sepintas mengingatkan pada syair “Zaman Edan”, yang ditulis  pujangga Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha, yang merupakan tanggapan kritis terhadap situasi sosial pada masa Kesunanan Surakarta.

Puisi “MAJOI” merepresentasikan keadaan bangsa yang membuat Taufiq merasa malu menjadi orang Indonesia, karena perilaku birokrat dan pejabat pemerintah sudah sangat keterlaluan. “Langit-langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak, Hukum tak tegak, doyong berderak-derak,” tulisnya pada bait kelima “MAJOI”.

Ronggowarsito menyebut zamannya sebagai “zaman edan”, karena orang kaya semakin kaya secara tidak wajar, sedangkan orang miskin semakin tidak berdaya. Zaman penuh dengan ketidakjelasan. Kebenaran dijungkirbalikkan dan hukum dipermainkan. Ketidakadilan pun meraja lela. “Yang tidak ikut edan tidak kebagian,” tulis Ronggowarsito.

——————————–

Foto diambil dari detik.com

——————————–

Puisi “MAJOI” ditulis pada tahun 1998, pada masa akhir pemerintahan Soeharto. Rendra, yang menghadapi masa yang sama, pada  puisi “Sajak Bulan Mei 1998” juga menyebut zaman akhir masa Orde Baru sebagai “zaman edan”. Sementara,  syair “Zaman Edan” yang menjadi bait ketujuh Serat Kalatidha itu ditulis pada tahun 1860.

Tulisan ini akan mengungkap lebih dalam makna puisi “MAJOI” karya Taufiq Ismail itu dengan pendekatan mimetik sosiologis. Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mengkaji karya sastra dengan cara memahami hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra, yang ditanggapi secara kritis-imajinatif oleh sastrawan. Istilah mimetik berasal dari kata mimesis (bahasa Yunani) yang berarti tiruan. Dalam pendekatan ini karya sastra dianggap sebagai tiruan kehidupan (Abrams, 1981).

Sedangkan sosiologi sastra beranggapan bahwa karya sastra merupakan dokumen sosial. Kenyataan bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah kenyataan yang telah ditafsirkan dan dialami secara subjektif sebagai dunia yang bermakna dan koheren. Tetapi, hubungan antara sastra dan kenyataan bukanlah hubungan searah dan sederhana. Hubungan itu merupakan interaksi yang kompleks dan tidak langsung: ditentukan oleh kovensi bahasa, konvensi sosio-budaya, dan konvensi sastra (Teeuw, 1984).

Dengan demikian, pendekatan mimetik sosiologis  terhadap “MAJOI” akan mengungkap bagaimana tanggapan kritis-imajinatif Taufiq, serta representasinya sebagai tiruan kenyataan sosial yang kompleks dalam konvensi bahasa, sosio-budaya, dan sastra. Ungkapan-ungkapan mimetik khas Taufiq yang bersifat sosiologis akan menjadi pembahasan utama dalam tulisan ini.

Jika kemudian dikutip puisi-puisi karya penyair lain, atau penyair dari zaman yang berbeda, hanyalah untuk memperkuat tesis bahwa penyair yang peduli pada nasib bangsanya akan melakukan kritik sosial yang sama melihat kebrobrokan moral bangsanya itu. Penyair, yang selalu setia pada hati murani, akan merasa sedih, prihatin, dan mengemukakan tanggapan kritis terhadap keadaan di negerinya.

 

Makna Puisi “MAJOI”

Puisi “MAJOI” dimuat dalam himpunan puisi tebal Taufiq Ismail, Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit, jilid 1, yang diterbitkan oleh Panitia 55 Tahun Taufiq Ismail dalam Sastra Indonesia dan Majalah Sastra Horison, dalam. Buku ini memuat puisi-puisi 55 tahun masa kepenyairan Taufiq Ismail (1953-2008). Sangat tebal, 1076 halaman, dengan sampul hard cover bergambar foto dirinya dan masa kecilnya. Puisi “MAJOI”, yang cukup panjang (hampir empat halaman), menempati halaman 373-376.

Puisi panjang ini terdiri dari 22 bait, yang terbagi dalam empat bagian. Sebagai puisi kritik sosial, puisi ini merepresentasikan kesaksian Taufiq pada kedaan di negaranya sejak menjadi siswa SMA kelas tiga di Pekalongan sampai menjadi penyair terkemuka di Jakarta. Ketika masih menjadi siswa SMA, Taufiq masih merasa bangga menjadi anak Indonesia. Dia bercerita tentang teman sekelasnya, Thomas Stone, yang kagum pada revolusi Indonesia. Dengan bangga Taufiq bercerita tentang pertempuran Surabaya dengan tokoh utama Bung Tomo. “Dulu dadaku tegap bila aku berdiri. Mengapa sering benar aku merunduk kini,” tulisnya pada bait empat puisi “MAJOI”. Coba simak rasa bangga Taufiq menjadi anak Indonesia, pada kutipan puisi “MAJOI” sebagai berikut:

 

Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia

 

Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia

 

(“MAJOI” Bagian I, bait ketiga dan keempat)

 

Setelah dewasa dan tahu keadaan bangsanya, Taufiq mulai merasa malu menjadi orang Indonesia. Rasa malu itu ia rasakan ketika berjalan-jalan di luar negeri, dan ketika menyaksikan keadaan di dalam negeri. Sebab, ia melihat, moralitas bangsanya runtuh. Hukum pun tak bisa ditegakkan. Ia kecewa berat. Tetapi, seperti Ronggowarsito yang kecewa melihat keadaan masyarakat pada masa Kasunanan Surakarta, Taufiq pun hanya bisa bersuara dalam puisi. Pada bagian II puisi “MAJOI” Taufiq dengan lugas mengekspresikan rasa malunya itu:

 

Langit-langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roso Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Aku malu jadi orang Indonesia

 

         (“MAJOI” bagia II, bait kelima)

 

Ungkapan “aku malu” dalam bahasa yang gamblang dan dengan metafor yang mengerikan itu menjadi pernyataan pedas terhadap bangsanya yang sungguh memalukan. Bagaimana tidak. Taufiq sampai membenamkan wajahnya di balik kaca mata hitam dan topi baret di kepala. Saking malunya Taufiq sampai menyembunyikan wajahnya, seperti takut dikenali orang yang berpapasan dengannya. Rasa malu itu Taufiq rasakan ketika berjalan-jalan di luar negeri, karena ingat akhlak bangsanya yang rubuh berserak-serak. Sementara, hukum tak bisa ditegakkan, dan doyong berderak-derak.

Dengan metafor “langit akhlak rubuh… berserak-serak” dan “hukum doyong berderak-derak”, Taufiq menggambarkan betapa parahnya situasi sosial-politik, dan birokrasi pemerintahan, pada masa akhir pemerintahan Orde Baru. Secara mimetik-sosiologis gambaran itu terasa pas sekali merepresentasikan keadaan ketika itu, keadaan yang mendorong ribuan mahasiswa bergerak dalam aksi unjuk rasa, menduduki Gedung DPR/MPR, dan merurunkan Soeharto dari kursi kekuasaannya.

Ungkapan puisi seperti itu tidak hanya menjadi rekaman keadaan zaman, tapi juga menjadi dokumen sosial, sebagaimana dikehendaki pendekatan mimetik sosiologis, dan karena itu bernilai sejarah. Sejarah bangsa yang buram. Gambaran kebrobrokan birokarsi pemerintah itu berlanjut pada bait-bait berikutnya. Pada puisi “MAJOI” bagian III, keadaan yang parah itu direpresentasikan secara lugas dan detil, tanpa tedeng aling-aling:

 

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu.

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang

susah dicari tandingan.

 

Di negeriku anak lelaki anaka perempuan, kemenakan, sepupu, dan

cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran

seujung kuku tak perlu malu.

 

Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan, senjata,

pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong

birokrasi lebih separuh masuk kantong jas safari.

 

 

Pada kutipan baris-baris puisi di atas tergambar betapa bobroknya birokrasi pemerintahan pada masa akhir Orde Baru, menjelang reformasi 1998. Dunia bisnis pun bersekongkol dengan birokrasi untuk menumpuk keuntungan pribadi. Korupsi dan manipulasi terjadi di berbagai sektor birokrasi dan anggaran belanja negara, sejak pembelian senjata, pesawat tempur, dan kapal selam, sampai pembelian kedelai, terigu, dan peuyeum. Mimetik perilaku birokrasi yang bobrok dan sangat memalukan. Sebuah dokumen sosial yang penuh penyimpangan. Pantaslah kalau Taufiq Ismail merasa malu menjadi orang Indonesia.

Penyimpangan yang dicatat Taufiq tidak hanya sampai di situ. Dalam Pemilu pun penyimpangan dan manipulasi suara terjadi: “Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan.” Dan penipuan suara Pemilu itu masih diperparah dengan kebijakan yang represif terhadap khotbah-khotbah dan media massa. Sementara, pasar tradisional dibakar untuk pusat belanja pemodal raksasa. Pada kutipan puisi “MAJOI” bagian III, bait 13-14, kekacaun sosial, keos yang dihadapi masyarakat itu, terekam dengan jelas:

 

Di negeriku dibakar pedagang pedagang jelata supaya berdiri

pusat belanja modal raksasa.

 

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi sahid dan syahidah,

Ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang saja

Sementara mereka kalah, kelak perencana dan pembunuh itu

Di dasar neraka oleh satpam akherat akan diinjak

Dan dikunyah lumat-lumat

 

Dari kasus Marsinah, Taufiq lantas merepresentasikan keprihatinannya pada keputusan pengadilan yang dapat ditawar-tawar layaknya jual-beli barang di pasar. Diungkap juga persoalan pungutan liar, penyadapan telepon, penyebaran fitnah, kekisruhan sepak bola, penculikan dan penyiksaan rakyat tak berdosa, kasus-kasus kekerasan oleh aparat di Aceh, Tanjung Priok, Lampung, Haur Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian, dan Banyuwangi, serta hilangnya budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah rekaman rentetan kekacauan sosial, penyimpangan hukum dan birokrasi, yang bisa menjadi dokumen sejarah masa lalu bangsa yang buram:

 

Di negeriku ada pembunuhan, penculikan, dan penyiksaan rakyat

Terang-terangan di Aceh, Tanjung Priok, Lampung, Haur Koneng,

Nipah, Santa Crus, Irian, dan Banuwangi, ada pula pembantahan

Terang-terangan yang merupakan dusta, terang-terangan di bawah

Cahaya surya terang-terangan, dan matahari tidak pernah dipanggil

Ke pengadilan sebagai saksi terang-terangan.

 

(“MAJOI” bagian III, bait 20)

 

Dengan membaca baris-baris puisi tersebut di atas, mestinya, masyarakat dan aparat negara bisa belajar pada catatan sejarah bangsa yang buram semacam itu, agar tidak terulang kembali dengan sia-sia. Kekacauan-kekacauan sosial-politik semacam itu jelas merugikan bangsa sendiri. Aparat negara mestinya bisa lebih bijaksana dalam menyikapi persoalan-persoalan yang memicu kurusuhan-kerusuhan sosial seperti itu.

Setelah mengungkapkan kebrobrokan sosial, hukum, dan birokrasi, puisi ”MAJOI” kemudian ditutup dengan Bagian IV yang kembali menegaskan kenapa Taufiq merasa malu menjadi orang Indonesia:

 

Langit-langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roso Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Aku malu jadi orang Indonesia

 

 

Puitika Puisi “MAJOI”

Sebagaimana puisi-puisi kritik sosial Taufiq yang lain, puisi “MAJOI” tampaknya tidak begitu memperhatikan aspek puitika. Puisi semacam ini biasanya cenderung hanya mengandalkan daya kritis, dan keberanian untuk mengkritik berbagai kepincangan sosial, sehingga kalau dibaca di atas panggung atau di depan podium, mengundang tepuk tangan. Kalangan penyair biasa menjuluki puisi semacam itu sebagai puisi auditorium, puisi panggung, atau “puisi tepuk tangan”.

Hal itu bukan berarti tidak ada upaya dari Taufiq untuk mengemas puisinya secara indah, mempesona, dengan majas yang elok. Taufiq memanfaatkan majas paralelisme untuk mempercantik puisi “MAJOI”. Majas paralelisme sangat menonjol, berupa pengulangan frasa puitik “di negeriku” pada tiap awal bait sejak bagian ketiga, bait keenam sampai bait ke-21, atau bait terakhir menjelang bait penutup.

Majas paralelisme itu menegaskan bahwa yang ditulis Taufiq itu adalah puisi, walaupun isinya prosais, seperti orasi pengunjuk rasa. Pesona puisi “MAJOI” bukan berupa ungkapan kata-kata yang indah dan bermajas rumit, tapi pada ketajaman dan keberaniannya dalam melihat berbagai persoalan bangsa. Dengan kata lain, daya kritis Taufiq dipertaruhkan dalam puisi “MAJOI”.

Jika dikaitkan dengan pendekatan mimetik sosiologis, terlihat bahwa dalam menulis puisi “MAJOI”, Taufiq cenderung lebih memperhatikan konvensi bahasa dan sosio-budaya, dan kurang memperhatikan konvensi sastra yang berupa keindahan bahasa dan puitika. Sebagaimana dikemukakan Teeuw (2008), hubungan antara penyair dengan realitas sosial ditentukan oleh kovensi bahasa, konvensi sosio-budaya, dan konvensi sastra.

Perhatian Taufiq pada konvensi bahasa terlihat bahwa dalam menulis puisi “MAJOI” ia sangat memperhatikan kaidah (konvensi) bahasa Indonesia yang baik dan benar, atau yang baik dan kontekstual. Tidak ditemukan sedikitpun penyimpangan bahasa. Sepertinya Taufiq ingin membuktikan bahwa dalam sikap kritis sekalipun konvensi bahasa harus tetap dijaga, karena bahasa adalah cermin budaya bangsa. Setidaknya, walaupun dari aspek sosial-politik Taufiq menghadapi “zaman edan”, bahasa perlu tetap dijaga agar penyair dan apresian tetap menjadi makhluk yang berbudaya. Bahasa diharapkan menjadi benteng terakhir budaya bangsa.

Konvensi sosio-budaya terlihat pada semangat Taufiq untuk menegakkan berbagai pranata sosial yang rusak, akhlak yang rubuh, hukum yang doyong, dan membuatnya malu menjadi orang Indonesia.  “Langit-langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak. Hukum tak tegak, doyong berderak-derak.”  Taufiq ingin semua itu, hukum dan pranata sosial, akhlak bangsa, bisa ditegakkan kembali, agar ia tidak malu menjadi orang Indonesia, agar kalau berjalan-jalan di luar negeri ia tidak perlu menyembunyikan wajahnya di balik kacamata hitam dan membenamkan kepalanya dalam topi baret.

Sedangkan konvensi sastra tidak begitu diperhatikan oleh Taufiq. Keindahan bahasa dan puitika, selain majas paralelisme berupa pengulangan frasa puitik “di negeriku” sejak bait keenam sampai bait ke 21, dan beberapa majas yang lugas maknanya, seperti “langit-langit akhlak rubuh di atas negeriku berserak-serak.” Dan “hukum doyong berderak-derak.” Majas-majas yang jelas maknanya itu cukup memberi sentuhan keindahan pada puisi “MAJOI” sebagai puisi kritik sosial yang tajam:

 

Di negeriku rasa aman taka da karena dua puluh pungutan, lima

Belas ini itu tekanan dan seputuh macam ancaman

 

Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja

Fotokopi gossip da fitnah bertebar disebar-sebar

 

Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan terror

Penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil

Bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor

Pertandingan yang disetujui Bersama.

 

(“MAJOI” bagian III, bait 16-18)

 

Sajak-sajak lain karya Taufiq Ismail, yang ditulis pada tahun yang sama, pada masa akhir Orde Baru (1998), juga menggunakan ungkapan-ungkapan yang lugas, dengan metafor yang jelas maknanya, seperti sajak “Ketika sebagai Kakek di Tahun 2040 Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu” (Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit, hlm. 404). Sajak ini berisi nostalgia seorang kakek yang pada tahun 1998 ikut berunjuk rasa di Gedung DPR/MPR dan dikejar aparat keamanan masuk ke kampus. Pada penutup sajak, Taufiq berpesan, “Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu. Kita percayakan Nasib pada Yang Satu Itu.”

Ada juga sajak “Pegawai Negeri” (Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit, hlm. 405-406), yang menyindir tradisi penghargaan yang diberikan pemerintah kepada pegawai negeri di Istana Negara, namun tidak satupun penghargaan pemerintah diberikan kepada “pegawai negeri paling jujur tahun ini”. Taufiq menyindir nasib pegawai negeri yang jujur dan istikomah dalam bekerja, serta tidak pernah mengejar dana proyek dan komisi, namun rejekinya pas-pasan saja. Suatu gambaran tentang kondisi pegawai negeri yang cukup pas pada era Orde Baru.

Penyair lain yang merambah kritik sosial sebagai wilayah ekspresi, seperti Rendra, terutama dalam buku kumpulan sajak Potret Pembangunan Dalam Puisi  (1985) dan sajak-sajak lepas, seperti “Sajak Bulan Mei 1998” juga memilih ungkapan-uangkapan yang lugas dan tajam, dengan metafor yang gampang ditebak maknanya. Rendra juga menyebut masa akhir pemerintahan Orde Baru sebagai “zaman edan”, seperti terbaca pada kutipan sajak berikut ini:

 

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja.
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan.
Amarah merajalela tanpa alamat.
Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.
Pikiran kusut membentuk simpul-simpul sejarah.
O, jaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan.

(Bagian awal “Sajak Bulan Mei 1998” karya Rendra)

 

Sebutan “zaman edan” sudah diungkapkan pujangga Ronggowarsito, yang melihat batin manusia (para pelaku sejarah) sedang sakit, dan melahirkan perilaku yang sakit. Ia sekaligus memprediksi apa yang bakal terjadi di masa depan, jika hati nurani masyarakat, terutama para pemangku negara, sedang sakit. Berbagai penyimpangan, yang mengarah ke kerusuhan sosial, cenderung akan terjadi. Peringatan tentang zaman edan dalam Serat Kalathida itu tetap relevan sebagai bahan renungan hingga sekarang:

Hidup di zaman edan,
gelap jiwa bingung pikiran
turut edan hati tak tahan
jika tak turut
batin merana dan penasaran
tertindas dan kelaparan
tapi janji Tuhan sudah pasti
seuntung apa pun orang yang lupa daratan
lebih selamat orang yang menjaga kesadaran.

 

(Terjemah syair ”Zaman Edan” karya Ronggowarsito)

 

Zaman edan cenderung akan terus berulang, ketika banyak pejabat negara dan tokoh masyarakat yang sakit. Zaman diwarnai banyak kebohongan. Penipuan menjadi biasa,  berita hoax berseliweran, dan buzzer politik dibayar mahal untuk menutupi kebobrokan. Orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin sengsara. Korupsi, kolusi, dan money laundry, menjadi budaya sehari-hari. Hukum cenderung berpihak pada yang kuat serta berkuasa, dan yang lemah menjadi korbannya. Kemewahan dipamerkan, walau dengan hasil menilep uang negara.

Hati nurani penyair dan pujangga, hati nurani Taufiq, Rendra, dan Ranggowarsito, tersayat ketika melihat akhlak bangsa yang rusak parah, karena hati nurani pemangku negara sedang tidak waras. Situasi sosial menjadi carut-marut, birokrasi pemerintah dipenuhi perselingkuhan, dan hukum sulit ditegakkan. Mereka kecewa berat. Tetapi, yang bisa mereka lakukan hanya menulis puisi, menulis syair. Puisi, syair, menjadi perekam kekacauan sosial, perekam sejarah bangsa yang buram, sekaligus peringatan bagi generasi muda dan generasi yang akan datang agar hidup lebih eling dan waspada.

 

Epilog

Sejak muda, Taufiq Ismail memang dikenal sebagai penyair yang peduli pada nasib bangsanya. Seperti halnya Rendra dan Ronggowarsito, ia banyak melahirkan puisi kritik sosial, yang mengungkap berbagai persoalan bangsa. Puisi-puisi kritik sosialnya dikemas dalam bahasa yang lugas dan tidak begitu memperhatikan konvensi sastra, terutama keindahan bahasa, dan puitika. Untuk memperindah puisi “MAJOI”, Taufiq cukup memanfaatkan majas paralelisme dan majas lain yang lugas dan gampang ditafsirkan maknanya. Keunggulan puisi “MAJOI” tidak pada keindahan bahasanya, atau puitikanya, tetapi ketajamannya dalam mengkritisi berbagai persoalan bangsa.

Dengan pilihan bahasa ungkap yang demikian, Taufiq justru bisa mengkritik dengan tajam, mengungkap berbagai kebrobrokan sosial, penyimpangan hukum dan birokrasi, untuk manjadi dokumen sosial, dan catatan sejarah bangsa yang buram. Pada catatan-catatan buram itu diharapkan masyarakat, terutama generasi yang akan datang, bisa belajar untuk hidup berbangsa dan bernegara secara lebih arif dan bijaksana.

 

Tangerang Selatan, April 2023

 

 

Daftar Pustaka:

  1. Abrams, MH. 1981. A Glossary of Literary Lamps. New York: Holt Rinehart and Winston.
  2. Hasanuddin WS, Prof. Dr., dkk. 2008. Leksikon Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu.
  3. Herfanda, Ahmadun Yosi. 2012. “Sastra dan Pembentukan Karakter Bangsa”. Makalah untuk Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia. Malang: Universitas Brawijaya.
  4. Ariel, MA. 1985. Perdebatan Sastra Kontekstual. Jakarta: Penerbit Rajawali.
  5. Ismail, Taufiq. 2008. Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit. Jilid 1. Jakarta: Panitia 55 Tahun Taufiq Ismail dalam Sastra Indonesia.
  6. Ismail, Taufiq. 2013. Debu di Atas Debu. Jakarta: Majalah Sastra Horison.
  7. 1980. Potret Pembangunan dalam Puisi. Jakarta: Lembaga Studi Pembangunan.
  8. 1988. “Sajak Bulan Mei 1988”. Jakarta: IndoNews.id.
  9. 2008. “Megatruh Kambuh: Renungan Seorang Penyair dalam Menanggapi Kalabendu”. Teks pidato penerimaan gelar Doktor Honoris Causa dari UGM. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
  10. Roggowarsito, R.Ng. 2017. Zaman Edan. Penerjemah: Ahmad Norma. Yogyakarta: Narasi Buku Seru.
  11. Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
  12. Berbagai berita di surat kabar dan media on-line tentang berbagai kasus kerusuhan, korupsi, dan penyimpangan hukum serta birokrasi di Indonesia, dalam tahun 1980-1988.

 

 

 

Related posts

Leave a Comment

7 + seventeen =