PERCIKAN 

Baca Puisi Tanpa Memarahi Puisi

MUSTAFA ISMAIL | @MUSISMAIL | Penulis dan pegiat sastra | Secara guyonan, saya kadang suka iseng nyelutuk saat melihat orang membaca puisi dengan teriakan-teriakan membahana: “Tolong jangan memarahi puisi.” Tentu ucapan spontan itu tak akan terdengar oleh orang yang sedang membaca puisi. Tapi orang-orang di sekeliling saya boleh jadi mendengarnya.

Read More
PERCIKAN 

Penamu Adalah Harimaumu

Oleh: Iman Sembada, penggiat seni dan budaya. Aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Buku puisi tunggalnya yang terbaru Perempuan Bulan Ranjang (2016). Apa kabar puisi Indonesia? Semoga puisi Indonesia hari ini dan hari yang akan datang baik-baik saja. Tapi jika terlalu anteng dan tenang seakan tidak ada proses kehidupan yang lebih baik. Sampai hari ini puisi masih ditulis. Masih ada orang yang menulis puisi. Secara kuantitas memang perpuisian Indonesia sangat menggairahkan. Tapi secara kualitas masih perlu pengkajian dan penelitian yang serius.

Read More
PERCIKAN 

Hari Puisi Sedunia dan Semangat Gerakan Literasi

Oleh: Iman Sembada, pegiat seni dan budaya. Aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Puisi telah menjadi peradaban dunia. Puisi memiliki peran penting dalam sejarah, seni dan kebudayaan manusia, dari dahulu hingga kini. Unesco menetapkan Hari Puisi Sedunia pada November 1999 ketika penyelenggaraan pertemuan Unesco di Paris, Prancis. Tapi, peringatan Hari Puisi Sedunia pertama kali pada 21 Maret 2000. So, tahun ini merupakan perayaan Hari Puisi Sedunia ke-18.

Read More
PERCIKAN 

[Puisi] Bukan Bacaan Iseng-iseng

Oleh: Iman Sembada, penyair dan aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Akhir pekan menjadi moment yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak penulis fiksi, salah satunya adalah penyair. Apa sebab? Hanya pada akhir pekan sejumlah media massa cetak atau online menerbitkan karya sastra, seperti puisi dan cerita pendek. Para penulis puisi (penyair) tak ingin melewatkan untuk membeli atau sekadar melihat media massa-media massa tersebut. Hal ini sebuah upaya untuk mengecek dan mastikan apakah puisinya yang dikirim ke media massa dimuat atau tidak. Sebab banyak media massa yang tidak memberi tahu penulis yang…

Read More
PERCIKAN 

Puisi: Sebuah Pembacaan Umum

Puisi tentu saja suatu yang tak asing bagi hampir semua orang. Menulis puisi banyak dilakukan orang saat mereka berada pada suatu momentum di mana kondisi batin sedang mengalami tegangan, keresahan, atau bahkan saat sedang jatuh cinta. Ini kerap dilakukan orang banyak (Baca; awam atau pemula). Mereka menjadikan puisi sebagai curahan batin. Tentu itu sah-sah saja karena pada faktanya itu bisa kita temukan di banyak orang. Kita bisa membaca puisi tersebut di lembaran kertas atau catatan harian seseorang, di media sosial seperti fesbuk atau bisa jadi dari kiriman pesan seseorang di…

Read More
PERCIKAN 

Pemain, Penonton, dan Komentator

Dunia dalam lingkaran   Dalam dunia sastra tanah air khususnya genre puisi, kerap kali kita menyaksikan seorang penyair berperan sebagai penonton sekaligus komentator. Sederhananya banyak dalam event sastra kita menyaksikan seorang penyair adalah juga penonton yang kadang juga berperan sebagai komentator. Dalam lingkup yang lebih luas, bukan pada suatu event ternyata hal semacam itu tetap berlangsung. Misal saja dalam ruang yang lebih terbuka, di dunia maya atau media sosial atau juga interaksi antar para penyair sehari-hari.

Read More
PERCIKAN 

Fiksi, Imajinasi, dan Realitas yang Terbagi

Saat kita membaca karya sastra baik puisi, prosa atau mungkin menonton drama, kita akan beranggapan bahwa itu hanya fiksi. Tak salah, karya sastra adalah karya fiksi. Puisi, cerpen, dan novel tentu berbeda dengan karya non fiksi seperti buku sejarah, biografi, sains, atau laporan jurnalistik. Kita mungkin tak bisa menjadikan puisi dan novel sebagai referensi ilmiah secara umum kecuali hanya pada wilayah analisis fakultas sastra semata yang tentu saja sudah memasuki wilayah akademis. Kita akan melihat karya sastra tentu dengan perangkat akademis di mana puisi, cerpen, dan novel telah menjadi sebuah…

Read More
PERCIKAN 

Sumpah Pemuda: Puisi yang Tak Pernah Mati

Sumpah Pemuda yang dicetuskan dan diikrarkan oleh para pemuda 88 tahun yang lalu adalah sesuatu yang dianggap satu momentum bersejarah yang menandai sebuah kesadaran kolektik dari bermacam organisasi pemuda yang kemudian menjadi pengikat untuk berada pada satu semangat persatuan. Lahirnya banyak organisasi beberapa tahun sebelumnya masih bercorak primordial, hanya berupa perubahan pola perjuangan dari fisik menuju ideologis. Masih begitu kental sekat-sekat sektarianisme dan primordialisme dalam organ-organ yang ada sebelum sumpah pemuda diikrarkan. Sekat agama, suku, profesi, dan terlebih sekat bahasa masih sangat menonjol.

Read More