PERCIKAN 

Seniman, Nasibmu Kini

Ketika mendengar kata seniman, mungkin kita memiliki banyak persamaan persepsi. Jika pun terdapat perbedaan, mungkin itu tak begitu signifikan. Persepsi sama yang muncul bisa jadi sosok seorang pelukis, sastrawan yang dalam hal ini adalah penyair atau juga sosok yang identik dengan alat musik seperti gitar, harmonika dan ukulele. Memang tak ada riset serius untuk ilustrasi seniman seperti yang tersebut di atas.

Read More
PERCIKAN 

Sastra dan Perjuangan

Sastra bagi sebagian besar orang dipahami hanya sebagai sebuah hobi atau kesenangan. Bagi mereka yang suka membaca, maka sastra bisa menjadi media. Dengan membaca karya sastra, mereka akan memperoleh kepuasan. Karya sastra yang dalam anggapan masyarakat awam identik dengan puisi, cerpen atau novel, juga bisa jadi teater adalah hanya sebuah karya fiksi dan menjadi hiburan semata.

Read More
PERCIKAN 

Seni, Cinta dan Peradaban

Suatu ketika filsuf dan Sastrawan besar Jerman Goethe (1749-1832) pernah mengatakan “Hidup ini terlalu singkat untuk sekadar menikmati seni.” Ucapan Goethe tersebut mungkin terkesan hiperbolik dan bombastis, tapi jika kita memahami secara filosofis, sesungguhnya ucapan itu benar adanya.

Read More
ESAI PERCIKAN 

Kesunyian dalam Keramaian

Kesunyian barangkali adalah milik seorang sastrawan, bisa jadi ia adalah seorang penyair atau pujangga, cerpenis, dan novelis atau bahkan dramawan. Banyak sastrawan membutuhkan suatu kesunyian untuk menulis karya-karya mereka. Bahkan acapkali dalam mencari inspirasi seorang sastrawan harus mengasingkan dirinya dari dunia yang hingar bingar ke tempat yang sunyi.

Read More
PERCIKAN 

Honor

Bagi seorang penulis, bernegosiasi tentang honor ketika diminta mengisi sebuah acara, entah jadi pembicara seminar, workshop atau baca puisi atau cerpen, itu sah-sah saja. Bahkan sejak awal, sebelum kegiatan, sebaiknya soal honor dan transport sudah klir antara penulis dengan pengundang. Sebab, menulis adalah kerja profesional.

Read More
PERCIKAN 

Melawan Korupsi dengan Puisi

OLEH: AHMADUN YOSI HERFANDA, penyair. Hingga hari ini, melalui gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK) masih dapat kita baca teks-teks puisi anti-korupsi. Kita dapat menyimak bagaimana persoalan korupsi di mata para penyair Indonesia — semua penyair membenci korupsi. Bahkan, banyak di antaranya yang meluapkan kemarahan terhadap para koruptor dan tak kurang yang mencaci mereka. Seperti dicatat oleh para penyair, makin hari kasus korupsi makin menggerogoti kesehatan tubuh bangsa ini, dan jika tidak kunjung dapat dihentikan, mungkin bangsa ini akan benar-benar bangkrut.

Read More