Lelaki Itu Tak Boleh Belajar

11960146_855194617883503_487700431082340852_n

Surya Gemilang, lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Antologi cerpen tunggal pertamanya berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di lebih dari delapan antologi bersama dan sejumlah media massa. Menjadi salah seorang pemenang anugrah sastra Litera 2017 dengan kategori “Penulis Puisi Terpuji.” Kini tinggal dan bergiat di Renon, Denpasar, Bali.

 

Si Kutu tinggal di kepala si Lelaki yang berambut lebat. Rambut lebat itulah yang membuat tempat itu nyaman untuk ditinggali. Sayangnya, gara-gara si Lelaki jadi rajin belajar, rambutnya pun mulai rontok.

Si Lelaki mulai rajin belajar sejak ia berpacaran dengan si Perempuan—alasannya sederhana saja, yakni agar kehidupan rumah tangganya dengan si Perempuan kelak dipenuhi kecerahan. Tetapi jelas saja si Kutu tak bahagia dengan rencana tersebut. Oleh sebab itu, si Kutu memikirkan bagaimana cara membuat si Lelaki jadi malas belajar supaya rambutnya tidak rontok lagi.

 

***

 

“Kenapa kau tidak pindah ke kepala orang lain saja?” tanya si Nyamuk suatu ketika.

“Aku sempat melakukan hal itu beberapa kali,” sahut si Kutu. “Aku pernah melompat ke kepala ibunya, kepala ayahnya, dan kepala pacarnya, tetapi rambut di kepala-kepala itu, entah kenapa, tak mampu membuatku merasa senyaman di kepala ini. Rasa darah di balik kulit kepala ini pun adalah yang paling enak yang pernah kucicipi.”

Plak! Tepukan tangan si Lelaki hampir saja mengenai si Nyamuk yang berdengung-dengung di dekat kepalanya. Kemudian si Nyamuk hinggap di rambut si Lelaki, tepatnya di samping si Kutu, dan tak lagi berdengung-dengung sehingga si Lelaki kembali fokus ke buku pelajarannya, karena ia pikir si Nyamuk telah pergi atau mati.

“Omong-omong, bukankah rambut lelaki ini bukan di kepala saja, Kutu?”

“Maksudmu, aku harus pindah ke bagian tubuhnya yang lain yang juga berambut? Semisal … kemaluan?”

“Begitulah. Lagi pula, rambut kemaluan tak akan rontok serajin apa pun pemiliknya belajar.”

“Ah! Tidak berkelas sama sekali!”

Sekonyong-konyong enam helai rambut kepala si Lelaki rontok dan mendarat di pundaknya. Kecemasan semakin menusuk si Kutu. Itu baru rambut yang rontok dengan sendirinya. Jika si Lelaki belajar sembari menggaruk-garuk kepalanya—entah karena gatal yang muncul dengan sendirinya atau karena gatal yang ditimbulkan oleh aktivitas si Kutu—rambut yang rontok bakal lebih banyak lagi.

 

***

 

Rupanya ide itu muncul dengan sendirinya di benak si Kutu. Dan, ia yakin ide tersebut akan berhasil.

Malam itu, si Lelaki, sepertinya biasanya, sedang duduk di hadapan meja belajar, fokus pada buku pelajarannya. Tanpa disadarinya, si Kutu bergerak memasuki kepalanya melalui lubang telinga kanan, dan tak lama kemudian sampailah makhluk kecil itu di otaknya.

“Mau apa kau di sini, Makhluk Asing?!” sambut si Pikiran, tak ramah.

“Aku di sini untuk menemuimu … dan mengubahmu.”

“Pergilah! Aku sedang sibuk menerima data-data dari si Mata!”

Tetapi si Kutu tak mau pergi dari sana …

 

***

 

Si Buku Pelajaran bingung bukan main sebab tiba-tiba saja si Lelaki mencampakkannya dan meraih si Ponsel untuk dijadikan titik fokus.

Si Kutu keluar dari kepala si Lelaki—melalui lubang telinga kanannya pula—sembari tertawa puas. Si Kutu, yang telah sukses mengubah si Pikiran, yakin bahwa rambut si Lelaki tidak akan rontok lagi sebab kini ia memiliki hobi baru, yaitu bermain game.

“Ini semua pasti ulahmu!” hardik si Buku Pelajaran. “Mau jadi apa lelaki ini kalau ia bermain game terus dan tidak belajar?!”

Taik kucing! Aku tidak peduli!”

 

***

 

Bagaimanapun, si Kutu tak dapat mengubah sifat serba-ingin-tahu si Lelaki yang besar, karena sifat serba-ingin-tahu itu bukan hanya ada di pikirannya, melainkan di hatinya juga.

Semula, keberhasilan rencana si Kutu tampaknya akan abadi sebab si Lelaki tidak lagi rajin belajar karena sibuk bermain game di ponselnya. Rambutnya pun tak lagi rontok dan dengan cepatnya bertumbuh. Namun, karena sifat serba-ingin-tahunya yang besar terhadap game, si Lelaki akhirnya mulai belajar keras—di antara kesibukannya bermain game—lagi agar di masa depan ia bisa menjadi pembuat game yang handal, mendapatkan banyak uang, dan hidup bahagia bersama si Perempuan. Buku-buku pelajarannya, terutama buku-buku tentang teknologi, pun kembali senang. Alhasil, rambut si Lelaki rontok lagi.

 

***

 

Saban belajar di kelas, rambut si Lelaki rontok dua kali lebih banyak dari biasanya—apalagi kalau ia belajar di kelas sembari menggaruk-garuk kepala. Itulah alasan kenapa si Kutu membenci kelas, meskipun kini si Lelaki tak seratus persen belajar selama di kelas, melainkan beberapa kali mencuri kesempatan buat bermain game di ponselnya kala si Guru lengah.

Jam istirahat tiba. Si Lelaki berjalan ke kantin, sementara si Kutu mengamat-amati aktivitas para murid di sekitarannya dan mereka-reka aktivitas manakah yang bakal membuat si Lelaki jadi pemalas murni. Tetapi, di sepanjang perjalanan menuju kantin itu, ia tak menemukan satu pun aktivitas yang tepat.

Di kantin, si Kutu melihat banyak orang sedang makan dan berpikir untuk membuat si Lelaki jadi suka makan banyak agar kegemukan, mudah lelah, dan sering mengantuk, sehingga tak sempat belajar. Kemudian ia pun berpikir bahwa bisa saja nanti si Lelaki malah jadi rajin mempelajari buku-buku kuliner dan yang lainnya—yang berhubungan dengan makanan.

“Kenapa belakangan ini kau jadi sering bermain game?” tanya kekasih si Lelaki, si Perempuan.

“Ini adalah bagian dari pelajaranku,” jawab si Lelaki, sesaat mengalihkan fokus ke wajah si Perempuan, tetapi jari-jemarinya tetap menari-nari di permukaan layar ponsel. “Belakangan, aku bercita-cita menjadi pembuat game yang handal. Untuk menjadi pembuat game yang handal, salah satu yang harus kulakukan tentu saja bermain game.”

Si Perempuan hanya tersenyum kecil.

Di pojok sana, si Kutu melihat beberapa orang murid sedang memakai narkoba secara diam-diam. Si Kutu berpikir bahwa, di mana-mana, para pecandu narkoba pasti pada malas belajar. Tapi, bagaimana kalau si Lelaki malah jadi rajin mempelajari cara-cara membikin narkoba, juga cara-cara menyelundupkannya, sampai-sampai rambutnya rontok? Kalaupun tidak begitu, bisa saja kerontokan pada rambutnya itu disebabkan oleh penggunaan narkoba.

Di pojok yang lain, sekelompok murid sedang mengerjai seorang murid yang tampaknya begitu lemah. Murid yang tampaknya begitu lemah itu sepertinya sebentar lagi akan menangis. Si Kutu berpikir bahwa mungkin saja si Lelaki akan melupakan kewajibannya untuk belajar jikalau dibuatnya jadi suka mengerjai orang yang lemah. Tapi secepat kilat pemikiran itu dibantahnya dengan pemikiran lain: Bisa saja orang yang dikerjai si Lelaki nanti terluka parah, kemudian melapor pada polisi, dan si Lelaki mendapatkan sebutan “penjahat”; karena mendapatkan sebutan itu, si Lelaki pun jadi rajin mempelajari cara-cara agar dirinya tak sampai ditangkap oleh polisi. Seandainya ia tidak mempelajari cara-cara tersebut, maka ia akan ditangkap, masuk penjara, mengalami depresi berat, kemudian rambutnya mengalami kerontokan.

“Kau tahu, Sayang, taring adikku yang waktu itu dicabut sekarang sudah tumbuh,” kata si Perempuan, menyurutkan keheningan yang sempat menggenang di antara mereka berdua.

“Benarkah?” Si Lelaki meletakkan ponselnya di meja, di antara piring makanan dan buku pelajarannya. Ia tampak begitu tertarik dengan apa yang diucapkan oleh si Perempuan. “Cepat sekali!”

“Begitulah. Waktu tadi pagi aku bangun tidur, ia langsung menunjukkan taringnya yang baru tumbuh itu padaku.”

Si Kutu terkejut mendengar kalimat itu.

Waktu tadi pagi aku bangun tidur …

aku bangun tidur …

tidur …

 

***

 

Pak Guru terkejut begitu melihat si Lelaki tertidur di kelasnya, padahal biasanya ialah yang paling bersungguh-sungguh menyimak pelajaran.

“Halo?” kata Pak Guru sembari mengguncang-guncang tubuh si Lelaki secara perlahan. Jikalau yang tertidur adalah murid yang lain, pastilah Pak Guru akan memukul atau menendangnya supaya terbangun. “Kau sakit, atau bagaimana?”

Si Lelaki tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.

Si Kutu tertawa puas.

Sebab si Lelaki tetap tidur meski telah diguncang-guncang lebih keras dan beberapa kali diciprati air, Pak Guru pun memutuskan untuk membopong si Lelaki ke UKS.

 

***

 

Hingga pulang sekolah, bahkan hingga dibawa ke rumah sakit oleh kedua orangtuanya, si Lelaki tetap tak bisa dibangunkan. Para dokter akhirnya pasrah, kedua orangtuanya menangis, dan si Perempuan yang mendengar kabar buruk itu memutuskan untuk mencari kekasih baru.

“Ia seperti tidak sakit … tapi juga tidak sehat,” kata seorang dokter. “Mungkin ia terjangkit suatu penyakit baru.”

Si Lelaki pun dipulangkan dan ditidurkan di kamarnya. Selama tidur, ia hanya makan melalui infus serta buang air melalui selang-selang yang dipasang sedemikian rupa.

Hari demi hari, rambut si Lelaki melebat tanpa rontok sama sekali, sebab ia tak ada belajar. Si Kutu merasa telah menang. Tentu saja ia bahagia. Namun kebahagiaan tak pernah abadi.

Dua bulan kemudian, masih tetap tidur, rambut si Lelaki mulai rontok lagi. Rupanya, si Lelaki telah menemukan cara untuk belajar di alam mimpi. Ia belajar serajin di dunia nyata demi masa depannya bersama si Kekasih Baru yang dijumpainya di alam itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *