PERISTIWA 

BANGKITNYA TRADISI TULIS BETAWI

JAKARTA (LITERA) — Meski kuat dalam tradisi lisan, kaum Betawi juga memiliki tokoh-tokoh tradisi tulis. Ahmadun Yosi Herfanda, wartawan dan sastrawan, dalam endorsement Kembang Goyang (Penerbit Padasan, 2011), menulis, “Di tengah kesunyian, sastra yang diusung para penulis berdarah Betawi atau Peranakan-Betawi ini diam-diam menyeruak di dalam kancah nasional diiringi kesahajaan aroma tanah kelahiran mereka.”

Read More
PERISTIWA 

Sutardji Calzoum Bachri dan Ahmadun YH Baca Puisi di Malam Puisi Tangerang

  TANGERANG (LITERA) – Presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, dan penyair Ahmadun Yosi Herfanda, belum lama ini, membaca puisi di Semanggi Center, Tangerang. Acara bertajuk Malam Puisi Tangerang, “Musim yang Kita Ciptakan Sendiri”, ini berlangsung dari sore sampai malam. Sore hari menampilkan Rini Intama, membahas puisi-puisinya yang terkumpul dalam buku Kidung Cisadane.

Read More
PERISTIWA 

NOVEL PERANG GOWA PENTING UNTUK DIBACA GENERASI MUDA AGAR MELEK SEJARAH

JAKARTA (LITERA) – Banyak nilai sejarah yang patut diteladani dalam novel Perang Gowa karya Andi Makmur Makka, terutama kepahlawanan raja Gowa, Sombaya. Menurut Ahmadun Yosi Herfanda, Raja Gowa itu adalah pejuang yang pantang menyerah pada penjajah, meski dikejar-kejar sampai dianggap ghaib, dan rakyat Gowa melanjutkan perlawanan rajanya itu. “Novel ini penting untuk dibaca gerasi muda agar melek sejarah, agar mereka tidak buta sejarah,” katanya dalam talk show di Philanthropy Building, belum lama ini. 

Read More
ESAI 

PERANG GOWA DALAM NOVEL MAKMUR MAKKA

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, esais, cerpenis, penyair. ________________________________________________________________       Membaca judul dan isinya, Perang Gowa karya Makmur Makka dapat disebut sebagai “novel sejarah”. Novel sejarah adalah fiksi naratif yang berlatar waktu, peristiwa, dan tokoh-tokoh dari masa lalu. Fiksi tersebut tentu tidak sama persis dengan apa yang terjadi di masa lalu. Pengarang berpeluang menafsirkan peristiwa sejarah di masa lalu, mengidupkannya kembali, sehingga menarik untuk dibaca, dan dipahami nilai-nilainya oleh generasi masa kini dan generasi yang akan datang. Fiksi naratif ini memadukan fakta sejarah dengan tokoh dan alur buatan pengarang…

Read More
PERISTIWA 

HACIA TODO, MENDUNIAKAN PUISI INDONESIA

 JAKARTA (LITERA) — Yayasan Hari  Puisi (YHP) menduniakan puisi Indonesia melalui penerbitan antologi puisi dwi-bahasa Hacia Todo: Antología Bilingüe de Poesía Indonesio-Española (Kepada Segala: Antologi Puisi Dwibahasa Indonesia–Spanyol). Buku ini merupakan seri pertama program yang digagas YHP sebagai bagian dari rangkaian Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026.

Read More
PERISTIWA PPN 

PPN IV ACEH JADI PERTEMUAN GAGASAN, NILAI, DAN HARAPAN BERSAMA

Banda Aceh (Litera) — “PPN bukan hanya pertemuan penyair, tetapi juga pertemuan gagasan, nilai, dan harapan bersama. Sastra mampu menjembatani perbedaan bahasa, budaya, daerah, bahkan negara,”  kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, pada sabutannya saat membuka Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh–Indonesia tahun 2026 di Istana Wali Nanggroe, Darul Imarah, Aceh Besar, Senin malam lalu.

Read More
PERISTIWA PPN 

PPN KELILING NUSANTARA

Pesta Penyair Nusantara (PPN) lahir dari Pertemuan Penyair Indonesia The 1st International Poets Gathering di Medan, 25-29 Mei 2007. Disetujui oleh Direktur Kesenian Mukhlis Paeni, yang hadir memberi materi ketika itu, PPN menjadi kesepakatan lima komunitas sastra dari lima negara di Asia Tenggara. Tercatat, dari Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Ahmadun Yosi Herfanda dan Viddy AD Daeri, dari Persatuan Penulis Nasinala (PENA) Malaysia Moh. Saleeh Rahamad dan SM Zakir, serta dari Angkatan Sastrawan dan Sastrawani (Asterawani) Brunei Zefri Ariff. Kemudian, Djamal Tukimin dari ASAS 50 Singapura, dan Nik Rakib bin Nik Hasan dari Pusat…

Read More
ESAI PPN 

PUISI NUSANTARA MAKIN KITA SAJA

Membaca puisi-puisi Nusantara serasa membaca puisi-puisi kita saja. Sebab, Nusantara adalah kita, kita adalah Nusantara. Maka, puisi-puisi kita adalah puisi-puisi yang bercita rasa Nusantara. Dan, puisi-puisi Nusantara adalah puisi-puisi yang bercita rasa kita. Meski ada perbedaan diksi dan makna kata, serta perbedaan budaya lokal yang mempengaruhi kelahiran puisi masing-masing negara asal penyair, tapi cita rasa puisi Nusantara adalah cita rasa kita. Perbedaan pengucapan, metafor, dan simbol, terjadi karena perbedaan kreativitas penyair dan latar budaya itu.

Read More