CERPEN 

Kiai Sepuh

Cerpen: Muhtadi ZL ______________________________________________________________________ Setiap pulang dari dhalem Kiai Sepuh, wajah Rakmin selalu tampak murung. Pikirannya kerap bingung dengan pertimbangan Kiai Sepuh. Karena ketika menuturkan pembaharuan desa, tidak jarang Kiai Sepuh menolak mentah-mentah. Apesnya lagi, saat dimusyawarahkan dengan perangkat desa yang lain, dirinya dihujani hujatan. Sampai-sampai ia tidak tahu harus melakukan apa supaya desa yang ia pimpin bisa sejahtera.

Read More
PUISI 

Milik Siapakah Kota Ini

Puisi-puisi: Iman Sembada _______________________________________________________________   PEREMPUAN ITU MENJADI BAPAK Perempuan itu telah menjadi bapak Mengasah kata-kata setajam kapak Untuk menetak angka-angka di almanak Angin bangkit dari celah ranting Kering. Setiap siang dan malam Selalu ingin kau tuntaskan Fatwa dalam ruang-ruang virtual

Read More
ESAI 

Cerpen Indonesia, dari Cetak ke Digital

Esai Ahmadun Yosi Herfanda _______________________________________________________________   Sejauh ini masih dipahami bahwa cerpen adalah fiksi atau cerita rekaan yang mengungkapkan satu masalah tunggal dengan satu ide tunggal yang disebut “ide pusat”. Lazimnya, cerpen memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi tertentu pada satu saat, sehingga memberikan kesan tunggal terhadap konflik yang mendasari cerita tersebut.

Read More
CERPEN 

Jalan Pulang

Cerpen: Firman Fadilah __________________________________________________________________   Bulan bulat sempurna pada malam kepulanganku. Sinarnya yang terang sedikit melegakan kerisauan, cemas bercampur amarah di dadaku. Aku yang sering ngotot kepada adik iparku untuk selalu memberi kabar jika terjadi sesuatu kepada istriku, Tania, di tengah kehamilannya yang sudah memasuki bulan terakhir, tak begitu diindahkannya. Dianggapnya kecemasanku ini adalah main-main. “Ah, tenang saja. Tidak usah berlebihan. Ada aku dan Ibu yang menjaga istrimu. Meski cerewet dan suka bikin kesel, dia tetap Kakaku.” Kuingat kata-kata terakhirnya itu dengan mencebik kesal.

Read More
PUISI 

Membunuh Pagi

Puisi-puisi: Akhmad Idris _______________________________________________________________   SAJAK UNTUK SAPARDI Abadi, Mati, dan Pergi. Adalah sekumpulan kata-kata tak bermakna yang menjadi surga di hadapan tangan-mu. Sementara waktu, buku, dan rindu adalah rentetan kejadian di pasar loak yang perlahan membeku di musim panas.

Read More
CERPEN 

Cinta sang Penyair dan Bunga Desa

Cerpen: Wahyu Arshaka __________________________________________________________________ Keadaan desa Sinar Jaya kini sudah tak lagi dibilang udik. Tidak ada lagi rumah yang berdinding bilik, semuanya sudah menggunakan bata dengan atap genteng. Kisah rumah berdinding bilik, beratap jerami, dan beralaskan tanah itu hanya tinggal sejarah, yang tersimpan rapi dalam kenangan warga desa, yang kini bisa berbangga, dapat menikmati kemajuan zaman. Dua mini market yang selalu berdekatan, seperti sepasang kekasih yang sulit dipisahkan, hadir juga di prapatan desa, berdiri berhadap-hadapan hanya dipisahkan jalan yang beraspal mulus.

Read More
PUISI 

Buku Terakhir Filsafat Stoa

Puisi-puisi Vito Prasetyo __________________________________________________________________ LAMPU-LAMPU KAFE wajahnya, serupa raut kafe. dari secangkir kopi, memantik aroma. duduk dan memancar gelisah. sandarkan penat di pelukan kursi kayu. di antara kelap-kelip lampu. redup bulan mengintip. bagai bunga perdu, sorot mata itu. merajam angin.

Read More
CERPEN 

Kabar Kematian Seorang Pujangga

Cerpen Hafis Azhari ______________________________________________________________________   Saya sedang membaca buku ketika siaran televisi menayangkan kematian sastrawan yang saya kagumi begitu lama. Seketika saya mengamit ponsel dari atas meja, ingin menelepon seseorang. Tapi, siapa yang harus saya hubungi? Kalau saya menghubungi Fatia, mantan kekasih saya, yang juga sangat mengagumi sastrawan tersebut, lalu apa yang mesti saya katakan? Lagipula, apakah saya masih punya nomor ponsel Fatia?

Read More
PUISI 

Percakapan di Stasiun, Selesai Subuh Pagi Itu

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS _____________________________________________________________________   PERCAKAPAN DI STASIUN, SELESAI SUBUH PAGI ITU sebaiknya tunggu tak lama aku menjemput, katamu lewat telepon genggam. pagi berkabut dan sedikit gerimis. lanjutmu, hanya lima menit aku berkemas lalu menemuimu di pagi dingin dan lamur sebaiknya kubawa kau memutari kota ini. pagi berkabut dan rinai hujan menyambutmu juga. tubuh ini nanti akan membuatmu hangat;

Read More