ESAI 

REAKTUALISASI FITRAH RELIGIUS SASTRA

Esai Ahmadun Yosi Herfanda, pelayan sastra                                                  ——————————————————————————————   Sampai hari ini belum ada definisi yang paling pas tentang religiusitas selain semangat untuk setia pada hati nurani, serta sifat-sifat dan kehendak Yang Maha Agung. Dan, demikianlah sastra religius, adalah sastra yang memancarkan semangat religiusitas tersebut.

Read More
ESAI 

KETIKA KSI MERANGKUL YANG TERPINGGIRKAN

Masyarakat sastra pernah nyaris terbelah oleh wacana pusat dan pinggiran. Para penjaga gawang sastra yang menempati pusat-pusat pentasbihan, seperti Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Horison, dianggap kurang memberi tempat pada “sastrawan pinggiran”. Dalam dasawarsa 1970-an dan 1980-an, dua lembaga itu dicurigai sengaja meminggirkan sastrawan daerah, dan bahkan sastrawan Jabotabek, yang belum punya nama.

Read More
ESAI 

NOSTALGIA KOMUNITAS SASTRA INDONESIA

KSI atau Komunitas Sastra Indonesia adalah lembaga nirlaba yang didirikan untuk memberdayakan masyarakat sastra dan meningkatkan sumber daya di bidang sastra. KSI lahir ketika sastra koran sedang berjaya serta isyu pusat dan daerah, tengah dan pinggiran, sedang memanas. Sejumlah sastrawan yang merasa dipinggirkan, atau merasa mewakili sastrawan pinggiran, berhimpun untuk melakukan pemberdayaan agar pusat-pusat sastra, seperti Taman Ismail Marzuki (TIM) dan media sastra koran-koran nasional, bisa direbut dan dibuka – menerima karya-karya sastra mereka untuk ikut berbicara.

Read More
ESAI 

Cerpen Indonesia, dari Cetak ke Digital

Esai Ahmadun Yosi Herfanda _______________________________________________________________   Sejauh ini masih dipahami bahwa cerpen adalah fiksi atau cerita rekaan yang mengungkapkan satu masalah tunggal dengan satu ide tunggal yang disebut “ide pusat”. Lazimnya, cerpen memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi tertentu pada satu saat, sehingga memberikan kesan tunggal terhadap konflik yang mendasari cerita tersebut.

Read More
ESAI 

Komunitas Cerpen Sepeninggal Korrie

Sudah lama Komunitas Cerpen Indonesia (KCI) seperti mati suri sepeninggal ketua umumnya, Korrie Layun Raman. Almarhum Korrie adalah hasil Kongres KCI di Menado, pada November 2012. Namun, beberapa lama setelah terpilih sebagai ketua umum, Korrie jatuh sakit. Sempat mempersiapkan untuk melaksanakan kongres berikutnya, dan sempat mengagendakan rapat pengurus di Jakarta. Tapi, Korrie meninggal dunia sebelum kongres dilaksanakan.  

Read More

PERIHAL PALESTINA DAN TIMOR LESTE

Oleh Enzen Okta Rifai, pengajar _______________________________________________________________   Menelusuri karya-karya Abdulrazak Gurnah secara mendalam, akan ditemukan benang-benang merah yang lebih revolusioner dari kerangka pemikiran Pramoedya Ananta Toer. Persoalan kampung halaman (homeland) ditelaah secara arif dan bijaksana, hingga tersirat rasa empati pada nilai-nilai kemanusiaan. Ketika kenyamanan diberikan oleh suatu tempat (wilayah), boleh jadi seseorang atau sekelompok orang akan memilih wilayah tersebut sebagai domisili atau tempat kediamannya.

Read More

Sastrawan dan Martabat Karya Sastra

Oleh Irawaty Nusa, cerpenis dan peneliti sejarah —————————————————————————————— Kita memahami, bahwa dengan keagungan karya sastra, suatu bangsa dan negara mampu menciptakan jembatan yang membawa mereka ke dalam percaturan sejarah, yang bukan semata-mata urusan sandang dan pangan. Tapi yang lebih utama adalah nilai-nilai manusia Indonesia bersama kualitas kemanusiaan, yang meliputi impian dan harapan tentang keadilan, pergaulan hidup yang baik, dan bukan hanya retorika omongan semata.

Read More

MENGENANG DIHA, PENYAIR “REKOR MURI”

  Dunia sastra kehilangan satu tokohnya lagi. Sosok yang dianggap sebagai ibu penyair Indonesia, peraih Rekor Muri 2010, Diah Hadaning (Diha), meninggal dunia pada 1 Agustus 2021. Penyair ini lahir di Kota Kartini Jepara, tahun 1940, dan wafat dalam usia 81 tahun. Selama hidupnya, Diha sangat produktif menulis puisi (Indonesia dan Jawa) serta artikel sastra. Selain itu, juga aktif sebagai juri cipta dan baca puisi serta sebagai pembicara berbagai seminar sastra. Beberapa penghargaan sastra juga telah diraihnya, antara lain pemegang Rekor Muri 2010 dan Pemenang Anugerah Puisi Putera Gapena 1982.…

Read More
ESAI 

REAKTUALISASI FITRAH RELIGIUS SASTRA

Esai Ahmadun Yosi Herfanda, pelayan sastra                                                  ——————————————————————————————   Sampai hari ini belum ada definisi yang paling pas tentang religiusitas selain semangat untuk setia pada hati nurani, serta sifat-sifat dan kehendak Yang Maha Agung. Dan, demikianlah sastra religius, adalah sastra yang memancarkan semangat religiusitas tersebut. Semangat religius adalah semangat sastra yang paling fitrah (hakiki). Sebab,  seperti diyakini oleh Iqbal dan kalangan penyair sufi — juga ditegaskan oleh Mangunwidjaja dalam Sastra dan Religiusitas (1981) — pada mulanya segala sastra adalah religius. Karena itu, religiusitas dapat dianggap sebagai fitrah sastra. Berdasarkan tesis…

Read More

SASTRA DAN KEGILAAN MENEKUNI BAHASA

Oleh Supadilah Iskandar, cerpenis dan pengajar ————————————————————————————– Dalam novel-novel karya Iwan Simatupang nampak jelas penggambaran dirinya yang terlalu masuk ke dalam arus eksistensialisme Barat, tentang manusia-manusia yang kesepian, kesendirian, keterasingan, yang merasa bahwa seluruh aspek kehidupan manusia hanyalah siklus benang kusut, amoral, nisbi, tanpa pegangan kepercayaan hingga cenderung areligius. Tetapi, pengertian “areligius” ini janganlah diartikan sebagai “anti-religi” ataupun “anti-moral”. Mereka sebenarnya terombang-ambing dalam pemikiran dan kesadaran bahwa “Tuhan telah mati”. Namun paling tidak, yang dipersoalkan oleh mereka hanyalah suatu pemberian fungsi tentang agama dan Tuhan.

Read More