Apresiasi 

Budaya Sebagai Pembangunan Karakter dan Jati Diri Bangsa

Visi tanpa tindakan adalah sebuah mimpi belaka. Tindakan tanpa visi hanya akan menghabiskan waktu. Visi dengan tindakan akan mengubah dunia.

 

Dasar Pemikiran

Seperti kata pameo, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Kita melakukan flash back ke belakang, antara 70 – 80 tahun lalu ada dua cita-cita besar yang menggerakan para pendiri bangsa ini : Kemerdekaan dan Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan : para pendiri bangsa berjuang  untuk membebaskan bangsa indonesia dari penghinaan dan penjajahan oleh bangsa asing. Dan Keadilan : mereka bertekad menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena ada kekhawatiran, jangan-jangan sesudah berhasil membangun “Jembatan Emas” kemerdekaan, rakyat Indonesia kembali jatuh ke tangan kaum feodal, kaum kolonialis, kaum imperialis dan kaum kapitalis.

Setidaknya dua kali para pemuda dan pejuang kemerdekaan Indonesia  saat itu, membuktikan kebesaran hati serta spirit nasionalisme mereka :

Dalam Sumpah Pemuda mereka memilih bahasa minoritas, bahasa melayu, sebagai bahasa nasional, dengan harapan, agar bangsa Indonesia tidak jatuh di bawah hegemoni salah satu etnik kuat. Dan pada tanggal 18 Agustus 1945 mereka menempatkan bangsa dan negara di atas dasar lima sila , yang kemudian kita kenal sebagai Pancasila. Sebuah istilah yang dicetak oleh Bung Karno , yang menyatakan bahwa dalam bangsa dan negara Indonesia tidak akan ada perbedaan antara mayoritas dan minoritas. Bahwa semua warga bangsa , dari agama, etnik dan ras manapun, sepenuhnya diakui sebagai manusia sekaligus sebagai warga negara dengan semua kewajiban dan hak, tanpa adanya diskriminasi. Duduk sama rendah,  berdiri sama tinggi di mata hukum. Dan semuanya berhak menikmati sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan atas negeri ini.

Dalam keputusan-keputusan yang sangat strategis dan mendasar ini, memungkinkan adanya rasa persatuan sebagai sebuah entitas bangsa yakni Bangsa Indonesia  yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Tampak sekali idealisme dari generasi pertama republik ini : Penolakan terhadap segala sesuatu yang berbau sektarianisme, kepicikan agama maupun ras dan etnik. Terasa sekali semangat kebangsaan dengan kesediaannya berkorban bagi bangsa dan negara, serta memupuk rasa solidaritas yang besar dengan mereka yang tertindas.

Bagaimanakah situasi dan keadaan sekarang? Apakah semangat kebangsaan yang begitu kuat dan kental dari para pemuda tempo doeloe tersebut masih membekas dan tercermin pada diri setiap warganegara Indonesia pada umumnya dan generasi muda pada  khususnya untuk saat sekarang?

 

Titik Nadir

Banyak pengamat yang mengatakan bahwa inilah saat dimana dalam sejarah Nusantara, Indonesia berada di titik paling nadir. Indonesia diibaratkan bagai sebuah kapal besar yang perlahan-lahan sedang tenggelam.

Seberapa parahkan situasi kita sebenarnya sebagai sebuah entitas, sebagai sebuah negara bangsa?

Bukan hanya karena issue-issue separatisme, disintegrasi, dan generasi mudanya dihajar dengan narkoba, budaya-budaya instan dan sebagainya. Melainkan karena masyarakat kita, terutama secara kolektif, tidak tahu disiplin, tidak tahu apa itu fairness, tidak biasa berpikir panjang, pendek akal, berperasaan picik-sektarian-kesukuan, tidak mau berpandangan jauh ke depan, lemah dalam kepedulian sosial.

Bagaimana bangsa seperti ini mau bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia?. Apalagi di era global dan pasar bebas seperti sekarang ini? Betul, bila ketemu muka kita masih menemukan sopan santun tradisional serta kesediaan untuk saling membantu. Tetapi begitu mereka berada di luar konteks sosial tradisional, mereka menjadi keras, massal, tidak bertanggung jawab, bisa brutal dan kejam, mampu melakukan hal hal di luar batas batas etika dan kemanusiaan. Sesuatu yang sangat ironis bagi sebuah bangsa yang konon terkenal dengan adat istiadat ketimurannya,  santun dan penuh keramah tamahan.

Namun situasi yang paling mengancam atas keutuhan bangsa dan negara ini adalah kasus korupsi, khususnya korupsi di tingkat elite kita.

Di masa –masa sekarang inilah kita mengenal istilah yang sungguh sangat memalukan  “Korupsi berjamah”. Ini terjadi di hampir setiap lini aparatur penyelanggara negara. Para pejabat di pusat dan daerah. Korupsi di departemen dan kementerian, korupsi di tubuh polisi, di lembaga hukum dan peradilan. Money politics dan pragmatisme murahan di lembaga terhormat seperti DPR. Kita benar-benar terperosok dalam rawa kebusukan yang cukup dalam. Korupsi elit politik ini benar-benar merupakan sebuah penghianatan terhadap cita-cita yang pernah dicanangkan oleh para pendiri bangsa ini.

 

Indonesia adalah sebuah republik yang pemimpinnya seharusnya tahu apa yang semestinya mereka raih. Sayangnya banyak diantara mereka yang terombang ambing oleh kebimbangan ketika hendak menuntaskan pekerjaannya. Mereka sering bertabrakan dengan kepentingan-kepentingan sesaat sebagai pribadi dan golongan. Artinya ada sebagian pemimpin yang tidak sanggup ketika dituntut untuk lebih banyak berkorban demi mencapai tujuan yang lebih besar bagi bangsanya. Karena itu bangsa ini sering berhasil menyusun konsep-konsep dan dokumen-dokumen perencanaan yang bagus-bagus, namun sering gagal di dalam pelaksanaanya. Akibat dari itu, apatisme dan skeptisme semakin mengental di hati setiap insan di negeri ini. Rakyat sekarang lebih suka membunuh harapan-harapannya sendiri, bahkan sebelum harapan-harapan itu sempat dilahirkan. Di republik ini optimisme yang sehat sedang tergerus oleh sikap patah arang dan masa bodoh di satu sisi serta halusinasi di sisi yang lain.

 

Dengan jujur harus kita akui, bahwa tidak sedikit di antara kita yang telah menjadi manusia a-historis. Sebuah endapan anak-anak tanah air yang tak mengerti dan tak menghargai akar, dan akhirnya tidak peduli dan tidak menghargai proses. Di tengah-tengah bangsa kita, telah lahir koloni-koloni amnesia sebagai sebuah wabah. Kita memang sudah berhasil melepaskan diri dari the republic of fear  (republik yang mencekam di era otoriterisme Orde Baru), namun hanya untuk terdampar ke dataran the republic of forgetting (republik yang melupakan banyak hal, termasuk sejarah dirinya dan dunia di era reformasi dan revolusi mental ini).

Padahal, para pendiri bangsa ini, Bung karno, Bung hatta, Bung Syahrir dan para pendiri lainnya, telah meninggalkan kita dengan mewariskan republik Indonesia tercinta. Mereka telah selesai menunaikan tugas dan tanggung jawabnya. Hari ini, kita semua para pekerja budaya dan juga semua komponen bangsa ini, memiliki tugas untuk segera meloloskan diri dari the republic of forgetting menuju the republic of promised motherland : Republik dari ibu pertiwi yang kedatangannya telah dijanjikan oleh proklamasi dan deklarasi kemerdekaan dan pembukaan UUD 1945.

Indonesia kini, sedang mencari Bung Karno-Bung Karno baru, Bung Hatta-Bung Hatta baru, Bung Syahrir-Bung Syahrir baru, Ki Hajar Dewantoro baru, Buya Hamka Buya Hamka baru Gus Dur Gus Dur baru, WS Rendra WS Rendra baru yang memiliki ideologi, visi, semangat, keberanian, pengorbanan diri dan tanggung jawab meneruskan pekerjaan membangun elemen-elemen peradaban tanah air. Kita harus membuktikan kepada mereka bahwa kita bukanlah pewaris yang berjiwa kerdil atas warisan mereka yang besar.

Setidaknya itulah wajah serta konfigurasi dari seluruh persoalan yang melanda republik ini. Dan kalau kita biarkan berlarut-larut maka benarlah seperti kata banyak  orang bahwa negeri ini ibarat sebuah kapal besar yang sedikit demi sedikit sedang tenggelam: Dan tenggelam pulalah 250 juta penumpang yang ada di dalamnya.

 

 DIALOG BUDAYA

Mendengar, melihat,  merasakan situasi dan kondisi seperti hal tersebut di atas, tampaknya perlu sekali diciptakan sebuah dialog budaya. Dialog budaya yang membahas secara komprehensif dan holistik dari segala permasalahan sekaligus menjadikan budaya sebagai pembangunan karakter dan mengembalikan kembali jati diri bangsa.

Panggung Budaya Depok ini seyogyanya bisa menjadi semacam bentuk kepedulian kita para budayawan dan seniman,  sekaligus sebuah ajakan dan ikhtiar membuka ruang dialog untuk menemukan jawaban dari setumpuk persoalan yang sedang menimpa republik ini. Di tengah kebuntuan dialog secara verbal, baik secara vertikal maupun horizontal yang diakibatkan karena orang sudah tidak lagi percaya pada kata-kata. Ini disebabkan kata-kata yang berhamburan keluar dari mulut para penyelenggara negara serta politikus alih-alih bisa menyelesaikan persoalan tapi justru menambah kebingungan dan kebuntuan. Kata-kata justru telah menjadi kerangkeng, dan menjadi alat atau perangkat paling efektif untuk melakukan penindasan. Kata-kata telah menjadi beban yang harus dipikul sebagai nasib buruk oleh jutaan rakyat Indonesia.

Dalam perjalanannya ke depan nanti apa yang kita lakukan hari ini semoga dapat mengembalikan kembali karakter dan jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat, baik di mata rakyat Indonesia  sendiri maupun di mata bangsa-bangsa lain di dunia.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa serta rakyat Indonesia suka dan memberikan daya  kekuatannya, dengan apa yang kita lakukan.

Aamiin Ya robbal Alamiin.

Hidup seniman dan budayawan Depok

M E R D E K A !!

 

Depok, 12 September 2016

Weye Haryanto (Budayawan)

 

 

Related posts

Leave a Comment