Bidadari Pengecat Zebra Cross

New Picture

SETIYO BARDONO, penulis kelahiran Purworejo bermukim di Depok, Jawa Barat. Penulis buku antologi puisi Mengering Basah (Aruskata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (2012) dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (2012), serta novel Koin Cinta (2013) dan Separuh Kaku (2014).

 

Bidadari turun dari kahyangan ke muka bumi dengan meniti tangga pelangi. Menurut dongeng yang dituturkan ayah, mereka blusukan mencari sendang untuk mandi atau mengambil air minum. Bumi memang dianugerahi sumber daya alam melimpah yang menarik siapa saja termasuk warga kahyangan.

Selama merantau di ibukota, aku tak pernah melihat selarik pelangi. Mungkin karena pandangan mata tertutup gedung-gedung tinggi atau bidadari enggan turun ke belantara beton dengan kemacetan tak terperi. Kemana mereka akan mandi? Danau-danau di kota berubah menjadi pusat perbelanjaan. Jika memaksa turun ke kota, bidadari-bidadari pasti akan kecewa. Namun diskon besar-besaran aneka produk busana dan alat kecantikan, bisa membuat mereka kalap dan lupa jalan pulang ke kahyangan.

Salah satu bidadari yang tersesat itu kutemui sedang asyik mengecat permukaan jalan raya. Memang cuaca siang itu tak memberi isyarat kehadiran bidadari: tak ada gerimis, tak ada pelangi. Namun kecantikan perempuan itu membuatku terpana. Tanpa peduli terik matahari membakar tubuh, dengan anggun ia menggoreskan kuas besar di jalan aspal.

Apakah perempuan itu sedang menggambar selarik pelangi? Jika benar, ia membutuhkan tujuh warna untuk menyempurnakan lengkung pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Bukan warna putih terang, apalagi dalam goresan lurus terputus-putus.

Aku membaca kalimat yang tercetak pada kertas karton yang diletakkan berderet di jalan raya: Maaf Perjalanan Anda Terganggu, Ada Ruwatan Zebra Cross! Tulisan lain di salah satu karton membuatku miris: 18 Pejalan Kaki Tewas Setiap Hari. Hormati Hak Pejalan Kaki! Apakah hak pejalan kaki memang tidak dihargai di jalan-jalan kota ini?

Sebagai pejalan kaki, sudah kuhafal setiap lekuk liku trotoar di kota ini. Aku memang bisa berteriak, “Pejalan kaki adalah pemilik sah trotoar ini!” Tapi kakiku seringkali harus mengalah menghindari aneka rupa halang rintang. Mobil dan motor yang terparkir sembarangan di atas trotoar. Pedagang kaki lima yang seenaknya menggelar dagangan. Tenda kuliner, gerobak dagangan, pos keamanan, warung-warung kecil, kios pulsa, lapak batu akik, dan aneka rupa kesibukan yang menggasak trotoar.

Sebagai pejalan kaki, aku akrab mendengar sendok garpu bercengkerama di atas meja panjang. Aku terbiasa menerobos kabut pekat asap sate atau menghindari cipratan minyak goring yang menggelegak di atas wajan. Apalagi waktu jam makan siang atau selepas jam kerja, trotoar bisa berubah menjadi restoran sangat panjang. Kadang aku kikuk jika harus melangkah di antara punggung orang-orang kantoran yang asyik menikmat hidangan. Mereka santai-santai saja, saat aku berkali-kali mengucap kata, “Permisi, numpang lewat.”

Akhirnya, pejalan kaki memang harus mengalah, daripada mendapat masalah. Berjalan di pinggiran jalan aspal dengan bahaya siap mengintai kapan saja. Lalu lalang kendaran saling serobot berebut celah sempit. Hidup semakin tergesa, setiap celah dimanfaatkan sedemikian rupa.

Tak hanya jalan raya, seringkali motor naik ke trotoar demi mengejar waktu. Saat aku menghardiknya, justru pengendara motor yang marah-marah. Kemacetan jalan raya memang bisa mengubah perilaku. Di negeri ini, cara praktis untuk menutupi salah adalah dengan marah-marah. Mungkin inilah salah satu sebab mengapa hasil survei dari lembaga internasional menempatkan ibukota negeri ini sebagai kota paling tidak aman sejagat.

Pejalan kaki memang pemilik sah trotoar ini! Namun, sayangnya kaki-kaki masih terjajah dan tak bisa merdeka dalam melangkah. Entah kapan pejalan kaki bisa menjadi tuan rumah di trotoar, di negerinya sendiri.

Sebagai pejalan kaki, aku cuma bisa menggerutu dan tak bisa berbuat sesuatu. Sementara bidadari itu rela bermandi peluh mengecat zebra croos, agar pejalan kaki bisa memiliki jalur aman saat menyeberang jalan. Betapa mulia hatinya.

Merasa terus diperhatikan, perempuan itu berjalan mendekatiku.

“Maaf Mas zebra croos-nya belum bisa dilewati. Sementara lewat di sampingnya saja. Jangan kuatir, aman kok” katanya sopan sambil mengibaskan rambutnya yang hitam panjang. Bulir-bulir keringat memenuhi wajahnya yang agak kecoklatan mungkin karena terlalu sering terbakar panas matahari. Walau begitu, terik matahari sepertinya menyerah dan tak bisa memudarkan gurat kecantikan.

“Biarlah aku menunggu sampai catnya kering,” kataku tergagap. Kalimat itu keluar begitu saja tanpa kupikirkan sebelumnya.

“Enak saja berdiri kayak mandor kawat. Mengapa tidak membantu aku saja?” katanya sambil berdiri menyodorkan kuas. Aku sama sekali tak menduga dengan respon Sang Bidadari.

Dengan kikuk, aku mengambil kuas di tangannya. Sejenak, kami beradu pandang. Aku semakin salah tingkah. Dia lekas berlalu, mengambil botol air mineral dan kuas baru di dalam kantong plastik hitam. Tanpa sungkan, ia menenggak air mineral dan mengguyurkan bening air ke wajahnya. Aku terpana. Di perempatan jalan ada bidadari cantik membasuh mukanya.

“Ayo, tunggu apa lagi?”

Aku bergegas menghampirinya dan mencelupkan kuas ke dalam kaleng cat. Ah, mimpi apa semalam, sesiang ini harus mengecat jalan raya. Untung saja ada bidadari cantik yang menemaniku. Dalam sapuan kuas kesekian, aku memberanikan diri untuk mengorek identitasnya.

Walau bidadari di sampingku irit bicara, namun ia tak sungkan menyebutkan nama lengkap, “Nurul Permatasari.” Ketika kutanya mengapa ia mau bersusah payah mengecat zebra cross. Nurul menjawab singkat,“Sudah terlalu banyak pejalan kaki mati.”

Mungkin karena merasa diinterograsi, Nurul berbalik mengajukan tanya, “Mengapa dari tadi kamu memperhatikanku?”

“Kukira kamu seorang bidadari yang sedang melukis pelangi sebagai tangga menuju kahyangan.”

Nurul tertawa mendengar jawabanku.

“Kau pikir aku ini Nawang Wulan? Berarti kamu Jaka Tarub yang berniat mencuri selendang bidadari, menyekapku agar tak bisa terbang lagi. Aku hanya punya cat dan kuas, silakan ambil kalau kamu mau.”

Perjumpaan yang mengesankan itu berlanjut pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Sebagai pejalan kaki, aku menjumpai banyak persimpangan, pertigaan dan perempatan jalan dengan zebra cross berwarna pudar. Di situlah Sang Bidadari tanpa sungkan melakukan aksi. Kadang sendiri kadang bersama beberapa temannya. Tanpa diminta, aku tergerak untuk membantunya.

Dalam beberapa kesempatan, seusai mengecat zebra cross, Nurul mentraktirku makan siang. Salah satunya mencicipi soto ceker di Jalan Seberang. Kami berbincang mengenai banyak hal sambil menikmati kelezatan kuliner ala kaki lima namun bercita rasa bintang lima.

“Sepertinya kita sekarang berada di tempat yang salah,” selorohku.

“Salah apanya? Memangnya kamu tak pernah makan di pinggir jalan?” tanya Nurul sambil menggerogoti ceker ayam.

“Mengapa kamu mengajak makan di warung yang ada di atas trotoar. Nanti teman-temanmu sesama pejuang hak pejalan kaki bisa marah lho.”

“Ha ha ha… Habis sotonya menggoda sih,” kata Nurul dengan cueknya.

Pada pertemuan kesekian aku melontarkan tanya, “Jika semua zebra cross di ibukota ini sudah dicat, engkau mau kemana lagi?”

“Aku bisa mengembara ke kota lain, mencari zebra cross berwarna pucat”

— oOo —

 

Sudah satu bulan lebih aku berjalan keliling kota, namun aku tak juga berjumpa dengan bidadari pengecat zebra cross. Di persimpangan jalan atau di tempat penyeberangan, zebra cross mulai menampakkan warna putih cerah. Seperti karpet yang digelar di atas hitam jalan aspal, memberi ruang aman bagi penyeberang jalan. Aku yakin, semua itu berkat polesan dari tangan-tangan lembut Sang Bidadari.

Hingga siang itu aku kembali menemukan seseorang yang sedang mengecat zebra cross di sebuah persimpangan jalan. Tapi yang mengecat bukan bidadari. Aku melihat seorang lelaki bertubuh tambun tekun mengayunkan kuas ke permukaan aspal. Bajunya lepek basah oleh keringat.

Aku menghampirinya dan menyodorkan sebotol air mineral sebagai jembatan awal percakapan. Lelaki tambun itu menerimanya dengan ucapan terima kasih. Kami bercakap sejenak di tepian jalan raya. Kudapatkan juga celah untuk menanyakan perihal bidadari pengecat zebra cross.

“Sesama tukang cat jalan raya pasti saya mengenalnya,” jawab lelaki itu.

Namun wajahnya seketika berubah sendu. Aku menangkap firasat yang tidak baik. “Sayang, dia lebih dahulu pergi untuk selamanya.” Akupun terbata mengajukan tanya, “Maksud Bapak sudah meninggal dunia?”. Lelaki itu menganggukkan kepalanya pelan, ”Ya, sebulan lalu.”

“Seorang pengendara sepeda motor telah menabraknya kemudian melarikan diri. Saat itu Nurul sedang mengecat zebra cross dekat Stasiun Kota Tua. Tubuh Nurul luka parah karena terlempar beberapa meter kemudian terjerembab ke jalan aspal. Ia sempat dibawa ke rumah sakit, namun Tuhan berkehendak lain. Oleh keluarganya, jenazah Nurul dibawa dan dikebumikan di kampung halamannya di Purworejo, Jawa Tengah.”

Kabar itu membuat tubuhku lemas. Akupun duduk di tepi trotoar. Kenapa orang sebaik Nurul harus mengalami nasib setragis itu? Tak terasa air mataku mengalir deras membasahi pipi.

Aku hanya pejalan kaki yang belum merdeka melangkah di trotoar ini. Tiap kali menyeberang jalan di zebra cross berwarna putih terang, sosok bidadari selalu terbayang. Bidadari yang peduli pada hak pejalan kaki. Namun keras kehidupan jalan raya telah merenggut nyawanya.

Bidadari itu kini telah kembali ke langit dengan meniti zebra cross.

— oOo —

Depok, 2015-2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *