Tahun Panas di Jakawaca

22687658_1620532034685841_1453779070216468013_n

Elvan De Porres, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur. Sejumlah tulisannya berupa puisi, esai, dan cerpen telah disiarkan di sejumlah media. Bukunya yang telah terbit berjudul Menggaris dari Pinggir, kumpulan esai (Malkas Media, 2017). Penulis sekarang bergiat di Komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) Maumere.

 

Berita-berita di pelbagai media massa menyebutkan bahwa tahun ini merupakan tahun panas. Musababnya, hajatan-hajatan pemilihan kepala daerah akan berlangsung di seluruh negeri dan perang urat syaraf mulai dilancarkan masing-masing calon. Di kota-kota besar, hampir setiap hari, televisi menayangkan tudingan dan kritik dari satu calon ke calon lainnya. Juga serangan-serangan balik dan semuanya seperti tayangan sinetron picisan yang tak punya substrat matang dan jelas.

Para pendukung pasangan calon itu lebih sengit lagi. Mereka memanfaatkan media sosial dan grup-grup chattingan untuk mempropaganda satu sama lain. Gagasan-gagasan beradu. Hasutan dan caci maki pun laku keras. Dan semuanya itu merujuk pada upaya untuk menjorokkan kubu lawan sampai ke dasar kloset toilet. Sedalam-dalamnya, senista-nistanya.

Orang-orang di kampung Jakawaca, kabupaten Cikacika turut merasakan atmosfir tahun panas ini. Meskipun aktivitas calon-calon bupati mereka tak pernah ditayangkan televisi, dan hanya muncul di headline-headline surat kabar lokal dengan judul bombastis.

Di ladang jagungnya, Bapak Petrus, seorang tuan tanah, mewedarkan analisisnya di hadapan penggarap-penggarap yang sedang bekerja.

“Sepertinya pasangan dari wilayah barat akan terpilih jadi bupati daerah kita. Sejak dua tahun lalu, dia telah menyusur hampir seluruh pelosok kabupaten ini. Tapi, pejabat yang baru kembali dari ibu kota itu memiliki uang lebih banyak. Dia juga punya peluang untuk menang,” tuturnya dengan gaya mencak-mencak dan penuh kewibawaan laiknya analis politik paling nirmala. Para penggarap yang kebanyakan merupakan tamatan sekolah dasar itu hanya mengangguk-angguk. Entah mereka paham atau tidak.

Di pangkalan Hello Gaes, para tukang ojek sepakat mendukung calon bupati dari partai Bulu Rusa. Beberapa hari yang lalu, salah seorang tim sukses partai itu memberikan amplop-amplop putih berisikan uang lima puluh ribu rupiah. Bukan sebagai sogokan, tapi untuk beli bensin. Begitulah dalil yang tersuar dari mulut si pemberi.

Rumah tangga Mama Nona dan Bapa Nong seketika menjadi dingin. Mama Nona memutuskan untuk mendukung calon petahana, sementara Bapa Nong sudah masuk dalam relawan pemenangan koalisi Jangkrik. Semenjak tahu Bapa Nong tak satu pikiran dengannya, mama Nona pun berhenti membikinkan kopi untuk suaminya pada pagi hari. Bapa Nong tak mau kalah. Uang setoran untuk sang istri dari profesinya sebagai penyuluh kesehatan dikurangi. Saat makan bersama, keduanya pun lebih banyak berdiam diri. Biasanya, mereka akan saling bercanda satu sama lain ataupun menggosip para tetangga.

Hal yang berbeda dialami oleh Mandus dan Mundus. Keduanya bersahabat akrab dan bekerja serabutan di kampung Jakawaca. Rupanya, mereka baru sadar bahwa kehidupan di kampung itu semakin hari, semakin tegang saja. Kepala desa tak lagi menegur sekretarisnya. Kepala sekolah mengusir guru honornya karena tahu bahwa sang guru mendukung calon lain lewat sebuah unggahan status di facebook. Ibu Marta juga tak lagi membeli sayur di kios langganannya. Sementara Bapak Dorce disuruh berhenti memanjat pohon kelapa di kebun Om Lipus. Kau tahu, orang-orang di kampung itu telah menyusun kekuatannya masing-masing. Mereka sibuk mencari kroni-kroni. Blok-blok tercipta.

Mandus dan Mundus benar-benar semakin merasakan keanehan tersebut. Gosip-gosip jumpalitan. Isu-isu miring bertebaran. Obrolan-obrolan di warung kopi memanas. Keharmonisan hidup di kampung Jakawaca selama ini tercerabut seketika.

Apa yang terjadi di kampung tersebut sangat mengancam profesi Mandus dan Mundus sebagai pekerja serabutan. Orang-orang yang biasanya mempekerjakan mereka mulai menebar rasa curiga. Jangan sampai keduanya mendukung pasangan calon ini atau itu. Atau, mereka berdua telah tercokok ke dalam tim sukses tertentu. Ironisnya, keduanya pun tak lagi mendapatkan pekerjaan sebagaimana biasa.

“Orang di kampung kita ternyata suka politik. Padahal, tak ada satu pun yang belajar politik,” tutur Mandus kepada sahabatnya Mundus. Ketika mereka sedang duduk nongkrong di sebuah persimpangan jalan tengah kampung. Sambil merenungi nasih hidupnya masing-masing.

“Barangkali mereka mendapatkan uang dari sana,” Mundus melanjutkan.

“Ah, tidak mungkin. Zaman sekarang sudah tidak berlaku yang namanya politik uang itu,” sela Mandus, “masyarakat sekarang sudah cerdas.” Keduanya lalu berdiam diri dan kembali larut dalam permenungan. Juga kebingungan tentu saja. Sejak saat itu, mereka bertekad tidak bicara tentang politik agar tidak menyinggung perasaan para warga. Mereka membiarkan diri untuk jadi penonton dan pendengar saja bagi warga kampung yang tiba-tiba jadi ahli politik.

Dan, berita tentang Mandus dan Mundus yang belum punya pilihan politik itu tersebar juga di kampung. Orang-orang penting di kampung itu pun berusaha membujuk keduanya supaya ikut menjagokan calon-calonnya. Itu karena keduanya dianggap bisa memengaruhi pilihan politik warga lainnya. Memang di kampung itu, Mandus dan Mundus memiliki banyak bakat sehingga jasanya selalu dibutuhkan orang-orang. Mereka bisa bekerja dan melakukan hal-hal apa saja.

Hal tersebut tentu berdampak baik. Mandus dan Mundus kembali dipanggil untuk bekerja di tempat-tempat warga. Namun, ketika disinggung-singgung tentang pemilihan kepala daerah, keduanya lebih banyak memasang telinga dan mengancing mulut kuat-kuat. Mereka tahu bahwa gerak-gerik mereka akan diperhatikan warga lainnya. Sehingga bila merespons, rezeki mereka di tempat lain hanya akan berujung pada kata nihil.

Mereka kemudian dipanggil Bibi Uli untuk membetulkan saluran pipa rumahnya. Ketika sedang bekerja, Bibi Uli berbicara panjang lebar tentang calon bupati junjungannya. Kebetulan sang calon berasal dari kampung yang sama dengan suami Bibi Uli. Namun, sebagaimana telah direncanakan, keduanya tetap diam dan hanya fokus bekerja.

Warga lain yang melihat Bibi Uli gagal memengaruhi Mandus dan Mundus tentu merasa senang. Artinya, kedua anak muda itu belum menetapkan pilihan. Mereka dipanggil untuk bekerja di tempat lain. Akan tetapi, perilaku yang sama tetap ditunjukkan. Hal ini berlangsung terus-menerus dan orang-orang pun semakin penasaran atas pilihan politik keduanya. Setiap kali para calon bupati datang berkampanye di kampung Jakawaca, keduanya juga tak menunjukkan batang hidung sama sekali.

Pada suatu malam, ketika suasana kampung telah sepi, Mandus dan Mundus duduk bersama dan kembali membahas fenomena yang terjadi di kampung Jakawaca. Mereka sadar bahwa kampung itu telah disusupi kepentingan-kepentingan dan orang-orangnya mendadak gila politik. Pemilihan kepala daerah nanti takkan lagi berlangsung bebas, rahasia, jujur, dan adil. Setiap suara telah memiliki nominalnya. Harga diri orang-orang menyempil begitu saja. Mandus dan Mundus tentu tak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun hanya akan menjadi saksi bagaimana tahun panas itu menyeruak di dalam diri orang-orang Jakawaca.

Kau tahu, sampai pada hari pemilihan, keduanya tak menentukan siapa calon kepala daerah yang harus dipilih. Di dalam bilik tempat pemungutan suara, mereka mencoblos sekenanya saja. Blash! Intinya, surat suara telah tertusuk. Tanpa tahu figur mana yang dipilih.

Sementara itu, masyarakat kampung Jakawaca larut dalam ketegangan yang luar biasa. Menanti hasil perhitungan. Mandus dan Mundus kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka sadar bahwa ada soal lain yang lebih panas daripada kontestasi pemilihan kepala daerah yang telah mengubah perilaku orang-orang di kampungnya.

Sudah enam bulan terakhir, hujan tak pernah turun di kampung itu. Entahlah orang-orang Jakawaca sadar ataupun tidak. Tahun ini memang tahun panas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *