Pria yang Menolak Berulang Tahun

New Picture (1)

Rizqi Turama, dosen di Universitas Sriwijaya. Beberapa cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak nasional dan lokal seperti Kompas, Magelang Ekspress, Koran Pantura, dan lain-lain. Aktif di Sanggar EKS dan Komunitas Kota Kata Palembang. Buku terbarunya berjudul Teriakan dalam Bungkam.

 

Ia benci dengan ulang tahun. Perayaan tahunan itu selalu menyiksanya. Membuat ia harus mengingat lembaran-lembaran usia yang dilempar ke keranjang masa lalu. Tanpa bisa dipungut lagi. Hanya bisa dipandang dari jarak yang telah pasti.

Baginya masa lalu tidak perlu diingat-ingat, apalagi dirayakan. Bukan masa lalu itu yang penting, melainkan cara untuk menjejakkan kaki dari masa lalu untuk mengantarkan kita ke masa depan yang lebih baik. Jadi, merayakan ulang tahun itu seperti memandangi jejak yang sudah tertutup debu, lalu membuat kita lupa untuk tetap melangkah. Begitu terus dia berujar di dalam hatinya sendiri. Terdengar klise, tapi ia yakini itu sepenuh hati.

Karena keyakinan yang seperti itu, ia selalu menghilang dari teman-temannya sesaat menjelang hari ulang tahunnya. Beberapa teman dekatnya di kantor ada yang sebal juga dengan tingkahnya yang seperti itu. Sebab mereka sudah mempersiapkan kejutan ulang tahun, dan selalu saja persiapan-persiapan tersebut jadi sia-sia. Menanggapi itu, sang lelaki justru berkata, “Kalau bisa, aku tidak perlu berulang tahun. Dan memang aku tidak butuh ulang tahun.”

Sebuah ucapan sinis yang cukup membuat teman-temannya yang paling dekat di kantor pun berhenti mempersiapkan kejutan-kejutan ulang tahun. Toh nanti akan sia-sia saja. Bahkan atasan lelaki itu pun tak bisa menolak pengajuan cuti setiap menjelang ulang tahunnya. Sebab memang tak ada alasan untuk menolak lelaki yang cukup ulet bekerja itu.

***

 

Menulis dan melakukan perjalanan jauh adalah dua hal paling disukai si lelaki, terutama ketika ia menghindari perayaan ulang tahunnya. Orang lain menyebutnya sebagai kegiatan membunuh waktu, tapi sang lelaki tak setuju. Baginya waktu tak bisa dibunuh. Justru waktulah yang selalu berbaik hati mengantarkan kita pada kematian. Lelaki itu beranggapan bahwa hal terbaik yang bisa dilakukan manusia terkait dengan waktu adalah menghindarinya, mencoba melepaskan diri, dan mencapai dimensi di luar waktu.

Tentu banyak orang yang bingung dengan pemikiran itu. Meskipun ia kemudian mejelaskan bahwa di dalam waktu, kita menderita, tapi ketika keluar dari waktu, kita bisa asyik dan khusyuk, tetap tak banyak yang mengerti. Namun, itu tak masalah. Sesedikit apapun yang mengerti, ia tetap yakin bahwa menulis dan melakukan perjalanan jauh membantunya keluar dari dimensi waktu.

Kedua hal itulah yang ia lakukan juga untuk tahun ini. Membeli tiket kereta untuk perjalanan delapan jam ke arah barat dari tempatnya bekerja. Mempersiapkan sebuah buku kecil untuk mencoret-coret kata yang mungkin melintas selama perjalanan itu. Mungkin satu atau dua puisi bisa ia selesaikan nanti. Syukur-syukur kalau ada yang bisa dimuat lagi di media massa.

Kegemaran lelaki itu menulis memang sudah diketahui oleh orang-orang di sekitarnya. Puisi-puisinya dimuat di beberapa koran. Meskipun begitu, dia bukan sastrawan. Namanya juga tidak, atau sangat kecil kemungkinannya, tertulis di dalam sejarah sastra Indonesia. Ia menulis hanya untuk kesenangan pribadi dan pemuatan di media massa hanya sebuah bonus penyemangat.

Yang jelas, malam itu, saat malam sedang pekat-pekatnya, ia sedang berada dalam kereta. Kelas eksekutif. Memegang buku tulis kecil di tangan kiri, dan pena di tangan kanan. Dahinya berkerut-kerut. Kegiatan itu diselinginya dengan membaca-baca buku Kahlil Gibran, Chairil Anwar, atau Joko Pinurbo. Membuatnya tampak aneh di tengah orang-orang yang sibuk memainkan handphone. Pria itu kembali merenung, mengingat-ingat alasan ia menolak perayaan ulang tahun, sambil terus mencoba merangkai kata di atas kertas.

Selesai menulis dua bait puisi, lelaki itu melihat jam tangan. Jam dua malam. Orang-orang sudah tertidur. Dia juga butuh istirahat. Maka terlelaplah ia. Masih empat jam lagi sebelum sampai tujuan. Dan kereta terus berguncang. Seiring dengan napas para penumpangnya. Dan ia melaju. Dan ia melaju. Dan ia melaju.

Lima jam kemudian ia terbangun. Dibangunkan oleh petugas kereta yang memberi tahu bahwa mereka sudah sampai tujuan. Kereta sudah mulai kosong. Orang-orang sudah berjalan menuju tempat keluar. Ia sempat mengucek mata, memperbaiki posisi kerah baju, mengambil barang, sebelum akhirnya berjalan pelan meninggalkan kereta.

Di luar sana, orang-orang berkerumun layaknya semut yang mengantre untuk mengangkut gula. Tawaran jasa untuk membantu mendorong barang dan mengantar ke tujuan-tujuan tertentu, tak begitu ia hiraukan. Ia hanya menjawab dengan senyuman yang berarti sebuah penolakan.

Ia ingin berjalan kaki saja. Dua bait puisi yang tadi dibuatnya masih terngiang-ngiang di kepala.

“Bakal manggung lagi?”

Suara seorang lelaki memecah lamunannya. Ternyata itu si penjaga warung di pertigaan dekat stasiun. Ia hanya mengangguk. Sambil tersenyum, tentunya.

“Kali ini baca puisi atau potongan cerpen?”

“Puisi, Pak. Aku biasanya gagal kalau membacakan cerpen. Tidak dapat feel-nya.”

Si penjaga warung yang kali ini mengangguk sambil tersenyum.

“Buatan sendiri?”

“Iya. Seperti biasa.”

“Ya sudah. Duluan saja. Jamnya seperti biasa, kan? Nanti aku ikut nonton juga.”

Lelaki itu sekali lagi, mengangguk dan tersenyum. Kemudian melanjutkan langkah. Meninggalkan warung itu. Terus berjalan ke arah barat. Masih sekitar satu kilometer lagi.

***

 

Sambil menunggu, lelaki itu kembali merenungi soal waktu. Dibukanya lagi buku-buku puisi yang ia bawa. Lalu menulis di buku tulis yang sudah disiapkan. Ia tampak begitu asyik dengan kata-kata. Tak menghiraukan orang yang menangis sesengukan di ujung sana. Atau orang-orang yang bergerumbul di sudut lain. Semuanya, tangis dan keheningan di sekitarnya, hanya seperti bayangan yang melintas di sekitar bagi si lelaki. Dalam istilahnya sendiri, ia merasa sudah keluar dari waktu.

Ia baru kembali terjebak dalam waktu ketika puisinya yang ketiga selesai. Saat itulah ia baru tersadar bahwa hari sudah mulai terik. Dilihatnya jam di tangan kiri. Sebentar lagi waktunya bagi dia untuk tampil membacakan puisi. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Cukup ramai. Tak lupa, lima meter dari tempatnya berada, si penjaga warung sudah duduk. Menunggunya untuk beraksi.

Tepat pukul dua belas siang, saat matahari sedang panas-panasnya, lelaki itu berdiri. Maju tiga langkah. Naik ke tempat yang telah ia sediakan sendiri. Meskipun hanya berupa tumpukan kayu yang ia susun seadanya, namun tempat itu sudah cukup baginya sebagai panggung. Ia membungkuk sedikit, seperti memberi hormat. Lalu mulai membacakan puisi.

Orang-orang di sekitar sana mulai menolehkan kepala. Orang yang tadinya menangis, agak terhenti juga tangisnya. Orang yang tadinya bergerombol dalam hening, mulai berbisik-bisik melihatnya. Merasa heran ada yang berteriak-teriak di tempat seperti itu. Sebagian mengernyitkan dahi. Sebagian lagi menganggap lelaki itu sebagai orang gila. Sebagian yang lain mulai tertarik dan berkumpul. Menonton.

Di antara para penonton itu, ada yang duduk di sebelah lelaki penjaga toko. Sambil tetap memerhatikan lelaki yang membaca puisi, ia berbisik.

“Gila?”

“Mungkin.”

“Kok baca puisi di kuburan?”

“Itu kuburan pacarnya,” tunjuk lelaki penjaga warung ke pusara di dekat sang pembaca puisi berdiri.

Yang bertanya membelalakkan matanya. Mengangguk-angguk. Berpura-pura kembali menikmati pembacaan puisi di tempat yang ganjil ini. Lelaki penjaga warung tersenyum saja melihatnya. Lalu tanpa diminta, ia membeberkan perihal si pembaca puisi. Bahwa kekasihnya itu mati di hari ulang tahun sang lelaki. Di jalan menuju rumah si lelaki, sambil membawa kue dan kado ulang tahun. Tertabrak mobil yang melaju kencang. Sejak itu, si lelaki pindah ke kota yang jauh. Hanya kembali ke sini setiap ualng tahunnya. Memperingati hari kelahiran dan kematian sekaligus.

“Aku tebak, pacarnya mati jam dua belas siang?”

Yang ditanya menganggukkan kepala.

“Sudah berapa lama?”

“Tujuh tahun.”

Orang yang bertanya angguk-angguk kepala lagi. “Selama tujuh tahun itu nonton terus?”

Tapi pertanyaan kali ini tidak dijawab. Lelaki penjaga warung meletakkan telunjuk di depan bibir, pertanda menyuruh diam. Di tengah kerumunan orang yang semakin ramai. Suara berdengung-dengung memenuhi gendang telinga. Orang yang bertanya itu tak bisa mendengar apa-apa lagi secara jelas. Semuanya samar-samar. Akan tetapi di antara itu semua, dia mendengar sepenggal kalimat dengan terang.

               dan waktu memaksaku

               kembali ke pangkuanmu

               tempat kau meninggalkanku

               lalu aku merayakannya dalam kesendirian

Pembacaan puisi selesai. Perlahan-lahan orang bubar. Kembali ke kesibukannya masing-masing. Menyisakan dua orang saja selain si pembaca puisi yang tampak menikmati waktu kesendiriannya. Duduk di hadapan pusara. Dia akan langsung pulang sore itu juga. Kembali ke kota tempatnya bekerja. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, ia mengecup pusara pacarnya, seperti sebuah salam perpisahan. Dan berujar pelan, “Aku benci ulang tahun. Kalau bisa, aku tidak perlu berulang tahun. Dan memang aku tidak butuh ulang tahun.”

Entah kenapa, lelaki yang tadi banyak tanya, berkaca-kaca menyaksikan itu. Mungkin tahun depan ia akan menunggu untuk menyaksikan pembacaan puisi di makam ini lagi.

***

 

ART.

Palembang, 2 Februari 2018

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *