ESAI 

MENGENANG DIHA, PENYAIR “REKOR MURI”

 

Dunia sastra kehilangan satu tokohnya lagi. Sosok yang dianggap sebagai ibu penyair Indonesia, peraih Rekor Muri 2010, Diah Hadaning (Diha), meninggal dunia pada 1 Agustus 2021. Penyair ini lahir di Kota Kartini Jepara, tahun 1940, dan wafat dalam usia 81 tahun. Selama hidupnya, Diha sangat produktif menulis puisi (Indonesia dan Jawa) serta artikel sastra. Selain itu, juga aktif sebagai juri cipta dan baca puisi serta sebagai pembicara berbagai seminar sastra. Beberapa penghargaan sastra juga telah diraihnya, antara lain pemegang Rekor Muri 2010 dan Pemenang Anugerah Puisi Putera Gapena 1982. Pada tahun 1980-an, almarhum juga tercatat pernah melelang puisinya seharga satu miliar rupiah. Dananya, konon, akan digunakan untuk menyantuni para penyair yang hidup serba kekurangan.

***

 

Saya mengenal nama Diha pada tahun 1978, ketika mulai mencoba-coba mengirimkan sajak-sajak ke media massa, saat masih tinggal di kampung, selepas dari SMA. Nama yang puitis itu saya temukan di Mingguan Swadesi. Bagi penulis pemula yang tinggal di desa, di Kaliwungu, Kendal, kolom puisi Swadesi cukup menggoda untuk menjadi salah satu media publikasi. Dua tahun kemudian, tahun 1980, saya sempat bertemu langsung dalam sebuah acara sastra di Harian Berita Nasional (Bernas), Yogyakarta. Saat itu saya memang sudah kuliah di Yogya dan sudah aktif menulis di media massa, termasuk di Bernas.

Saat itu, Diha sebenarnya sudah hijrah ke Jakarta (sejak 1975), menjadi redaktur Swadesi, dan kemudian mendirikan LSM bimbingan menulis, Warung Sastra Diha. Awal 1980-an, tepatnya 1982, prestasi Diha melejit dengan meraih Anugerah Puisi Putera dari Gapena Malaysia, sebuah penghargaan yang dua tahun sebelumnya diraih oleh Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisi Diha pun terus setia mengunjungi penggemarnya lewat Swadesi, Suara Karya Minggu, Sinar Harapan, Pelita, dan berbagai media massa lain. Tahun 1987, ketika saya mengikuti ajang Temu Penyair Indonesia, yang diadakan oleh DKJ era Abdul Hadi WM, kami bertemu kembali di TIM. Tentu, saat itu, Diha masih muda dan cantik. Kemudian, setelah saya hijrah ke Jakarta, kami lantas sama-sama aktif di KSI, karena memiliki kepedulian yang sama pada para penyair pinggiran yang luput dari perhatian pusat-pusat sastra di Jakarta.

Ketika Dia merayakan ulang tahunnya yang ke-70,   Alhamdulillah, saya mendapat kehormatan untuk mengantarkan buku kumpulan puisi terbarunya saat itu, 700 Puisi Pilihan, Perempuan yang Mencari (Yayasan Japek dan Pustaka Yashiba, 2010), setebal 700 halaman dan berisi 700 puisi pilihan. Semuanya “serba tujuh”, karena memang diterbitkan dalam rangka hari ulang tahunnya yang ke-70. Buku ini merupakan buku kumpulan puisi modern Indonesia yang ketebalannya menempati urutan kedua setelah Kerygma & Martyria  karya Remy Sylado (Gramedia Pustaka Utama, 2004) setebal  1.056 halaman, yang tercatat di MURI sebagai  buku kumpulan puisi paling tebal di Indonesia. Dan, Alhamdulillah, atas buku kumpulan puisinya ini Diha juga mendapatkan rekor MURI dengan kategori ”Penulis Antologi Puisi Tertebal pada Usia Tertua, 700 Halaman pada Usia 70 Tahun”.

Memiliki buku kumpulan puisi sangat tebal, tentu merupakan prestasi sekaligus prestise, dan sekaligus dapat mengukuhkan posisi kepenyairan seseorang. Tetapi, buku tebal tampaknya tidak selalu segalanya. Buktinya, buku tebal Remy Silado itu dikalahkan oleh buku tipis hanya setebal 80 halaman, kumpulan puisi Kekasihku (Gramedia, 2004) karya Joko Pinurbo, dalam ajang Khatulistiwa Literary Awards (KLA) 2005. Keduanya sama-sama masuk nominasi, tapi Kekasihku yang berhasil meraih KLA 2005.

Meskipun begitu, buku tebal tetaplah potensial untuk mengusung berbagai keunggulan. Setidaknya, karena ketebalannya, ia dapat merekam perjalanan panjang kepenyairan sang penyair “Rekor Muri”, termasuk (yang utama) perkembangan estetik dan tematiknya. Dan, begitulah buku kumpulan puisi tebal Diha, yang merekam sajak masa awal kepenyairannya pada awal 1970-an hingga sekarang. Buku Perempuan yang Mencari ini memuat puisi yang ditulis Diha pada Desember 1973, yakni “Wanita dan Bumi Merdeka” (hlm. 691), dan sajak paling anyarnya, yakni “Balada Lanjar, Lelaki Malang yang Mencari Keadilan” yang ditulis pada Februari 2010, dua bulan sebelum buku ini diluncurkan. Dengan demikian, buku ini merekam sekitar 37 tahun masa kepenyair Diha, suatu rentang masa kepenyairan yang sangat panjang.

Pada rentang waktu yang panjang itulah, melalui buku itu, kita dapat melihat perkembangan estetik dan tematik sajak-sajak Diha. Pada aspek estetik, kita dapat melihat bagaimana perkembangan pemahaman, wawasan, pencarian, serta penemuan puitika Diha dan bagaimana ia mengaplikasikannya dalam menulis puisi. Apakah ia cukup bertumpu pada bakat alam dengan pemanfaatan puitika (aspek instrinksik puisi) secara apa adanya (sederhana saja), ataukah terus mencari dengan temuan-temuan puitika baru yang lebih segar dan pas untuk mewadahi ide-ide kreatifnya.

Begitu juga ketika kita menyimak perkembangan tematik (isi dan pesan) yang diangkat ke dalam sajak-sajaknya dari waktu ke waktu, kita dapat melihat apakah Diha hanya sibuk berbicara tentang kegelisahan batinnya atau mencoba terus berdialog dengan keadaan zamannya yang terus berubah dengan berbagai persoalan baru yang makin pelik.

***

 

Mari kita menyimak sajak-sajak Diha, sang penyair “Rekor Muri”, sejak puisi yang tertua sampai yang terbaru, meskipun dapat saja dengan melompat-lompat. Uniknya, urutan tahun penciptaan sajak-sajak dalam buku Perempuan yang Mencari ini disusun mundur ke belakang, dari sajak yang terbaru (di depan) sampai sajak yang terlama. Jadi, kalau kita membaca dari depan (dari kiri ke kanan) berarti melakukan pelacakan mundur ke belakang. Jika ingin mencermati sajak terlama hingga terkini, berarti harus membukanya dari kanan ke kiri, seperti membuka Alquran.

Sajak terlama Diha, yakni “Wanita dan Bumi Merdeka” (hlm 690-691) nyaris sama sekali tidak memerhatikan aspek instrinksik (tipografi, rima, ritme, diksi, dan pencitraan) puisi. Bahasanya lugas, nyaris tanpa imaji asosiatif maupun simbolik yang puitis dan sugestif. Kalaupun ada imaji simbolik, maka tidak dalam deretan baris-baris puitis yang prismatik, tapi tetap dalam  baris-baris pernyataan yang verbal, dalam deretan kata-kata yang denotatif. Rima dan ritmenya juga tidak tergarap. Begitu juga tipografinya. Puisi ini hanya terdiri dari 58 potong baris pernyataan kritis tentang eksitensi kaum wanita dan keadaan zamannya (1973) yang disusun begitu saja tanpa mengenal pembaitan.

Kesadaran estetik baru muncul pada sajak tertua Diha yang ketiga, yakni “Jakarta 75” (hlm 688), yang mencatat peristiwa hijrahnya ke Jakarta, dan ditulis pada Juni 1975. Sajak ini mulai mengenal pembaitan, sehingga tipografinya tampak lebih manis, dengan rima dan ritme yang mulai tertata dengan apik. Meskipun citraan-citraannya tidak bermakna asosiatif ataupun simbolik, tapi imaji-imaji alam yang dipadu dengan imaji perkotaan – rembulan di langitmu terpotong puncak gedung, matahari di langitmu terpotong siluet benang —muncul secara sangat puitis dan mengesankan:

 

JAKARTA 75

 

Glamournya menyebar liar

Sampai ke kota tua

Mengejek kampung utara

Aku ternganga

Ketika suatu saat

Harus mengetuk pintunya

Untuk bermukim

 

Glamournya memilih-milih

Tak sampai pada jalan menuju rumahku

Aku bukan sahabat

Aku datang tanpa diundang

Salah diri terbongkok udang

Nembang menatap awang-awang

Jakarta, bagaimana harus menyebutmu

 

Rembulan di langitmu

Terpotong puncak gedung

Matahari di langitmu

Terpotong siluet benang

Impian di langitmu

Membuatku jadi kepompong

Akankah di sini lama aku

 

Jakarta, Juni 1975

 

Membandingkan sajak tertua pertama, kedua dan ketiganya tersebut, tampak adanya semacam loncatan pencapaian prestasi estetik pada proses kepenyairan Diha. Sayangnya, tahun 1973 dan 1974 hanya diwakili masing-masing satu sajak. Sedangkan tahun 1975 hanya dua sajak, yang pencapaian estetiknya kurang lebih sama. Kita tidak melihat ada sajak-sajak seperti apa sebelum Diha mengalami loncatan pencapaian estetik pada sajak-sajak tahun 1975.

Dan, pencapaian estetik pada sajak tahun 1975 itu kemudian cenderung dipertahankan oleh Diha pada sajak-sajak setelahnya, dengan ciri khas: transparan tapi tetap puitis, sederhana tapi indah, dan menghindari ungkapan-ungkapan yang cenderung gelap.  Ciri lain yang dominan pada sajak-sajak Diha adalah kecenderungannya untuk memperhatikan makna kata dan kebermanfaatannya bagi pembaca. Kecenderungan ini dapat kita lihat pada sajak yang ditulisnya hingga sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, dan tiga puluh tujuh tahun kemudian, saat Diha mulai bermain-main dengan citraan-citraan simbolik yang unik dan segar, namun tetap komunikatif dan jelas pesan pencerahannya.

 

 

PROYEKSI DARI SENTANI

 

Gerimis pagi Bekasi melukis bias wajah

Lelaki tua dari Sentani lama – Yan Yapo

Memadat di wajah coklat tua

Dua anak muda Papua

Di lembab Januari

Tempat kakek moyangnya kini

Menjaga bumi Papua sejati

 

Yan Yapo, tak bisa kuterjemahkan

Yan Yapo, tak bisa kuuraikan

Sendainya di tanahmu

Terjadi keajaiban usung perubahan

Seandainya di hari-harimu

Papua tak lagi ulang-ulang lagu “sorata”

Yamdena tak disapa bencana kering memasir

Tambang-tambangmu tak disentuh gadai

Yang lamanya puluhan tahun, wahai

 

Yan Yapo, gunung hijau jadi lembah terburai

Kulihat lekat di wajah gelap

Dua anak muda Papua di Panti

Yang tak mengerti arus sejarah tumpah darah

Tergerogoti aneka sewa-menyewa

O, biji emas ada saatnya ludas

O, perubahan jangan jadi kano kandas

 

Bekasi, Januari 2010

 

                                                ***

 

Secara tematik, sajak-sajak Diha, sejak masa awal kepenyairannya sampai saat masih produktif, adalah sajak-sajak peduli sosial. Dalam buku ini nyaris tidak ditemukan sajak yang berkutat dalam kegelisahan personalnya, baik tentang cinta, kesepian, maupun kerinduan pada seseorang. Dalam bersajak, Diha lebih menempatkan diri sebagai mahluk sosial yang terpanggil untuk ikut memperhatikan, dan jika bisa memperbaiki, keadaan buruk lingkungan hidupnya, sejak lingkungan alam, lingkungan sosial, sampai lingkungan politik. Di sela-sela kepeduliannya itu, Diha mencari dan terus mencari, keadilan dan kebenaran sejati, yang makin raib dari kehidupan. Walaupun, mungkin, tidak akan pernah diremukannya sampai pada akhir masa hidupnya.

Sajak-sajak yang dikutip secara melompat-lompat di atas dengan jelas menunjukkan kepedulian Diha itu. Diha sangat peduli pada nasib kaumnya, nasib bocah-bocah miskin yang mengadu nasib di kota, lingkungan alam yang makin rusak, nasib anak-anak bangsa yang terpinggirkan, sampai kondisi politik yang tidak memihak pada rakyat. Jika pada tahun 1980-an sempat muncul ide tentang pentingnya sajak-sajak yang kontekstual, sajak-sajak yang peduli pada persoalan masyarakatnya, seperti dilontarkan oleh Arief Budiman dan Ariel Heryanto (lihat buku Perdebatan Sastra Kontekstual, Penerbit Rajawali, Jakarta, cetakan pertama, 1985), maka sajak-sajak Diha dapat disebut sebagai contohnya. *Ahmadun Yosi Herfanda, pelayan sastra.

Related posts

Leave a Comment