PUISI 

Puisi-puisi Sultan Musa

SULTAN MUSA, berasal dari Samarinda Kalimantan Timur. Tulisannya tersiar diberbagai platform media daring & luring. Serta karya – karyanya masuk dalam beberapa Antologi bersama penyair Nasional & Internasional. Tercatat pula dibuku “Apa & Siapa Penyair Indonesia – Yayasan Hari Puisi Indonesia” Jakarta 2017. Merupakan 10 Penulis Terbaik versi Negeri Kertas Awards Indonesia 2020. Karya tunggal terbarunya berjudul “Titik Koma” (2021). IG : @sultanamusa97 /@sultanatakata

Read More
CERPEN 

Wanita Tercantik

  Cerpen Supadilah Iskandar ———————————————————————————–   Suatu hari di musim hujan, persisnya pada minggu-minggu pertama bulan Februari, saya pernah berpapasan dengan seorang perempuan tercantik yang selama ini saya idam-idamkan. Mungkin sebagian orang berpendapat bahwa ini adalah penilaian saya pribadi, karena setiap orang punya seleranya sendiri-sendiri. Mungkin juga ada orang berpendapat bahwa kecantikannya biasa-biasa saja, tidak begitu spesial. Potongan rambutnya biasa saja, seakan dibiarkan tergerai dan disisir sekadarnya. Usianya juga sudah agak lanjut, mungkin di atas 30-an. Karena itu, sepantasnya dia dipanggil ‘Ibu’, paling tidak ‘Mbak’, jadi sudah kurang pas jika…

Read More
ARTIKEL 

PUISI DAN DEMOKRASI

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, penyair dan pelayan sastra. —————————————————————————————–  Ada hubungan yang cukup signifikan antara puisi dan demokrasi. Puisi adalah mata kanan demokrasi. Ia menjadi penyeimbang ketika demokrasi  berkembang kurang sehat dan praktek politik menunjukkan kecenderungan yang menyimpang. Kiranya tidak sedang bergurau ketika John F. Kennedy, seperti dikutip Quotes.pub, mengatakan, “Ketika kekuasaan mengantar manusia pada kesombongan, puisi mengingatkannya akan keterbatasannya. Ketika kekuasaan mempersempit area pemikiran manusia, puisi mengingatkannya akan kekayaan dan keragaman eksistensi. Ketika kekuasaan korup, puisi akan membersihkannya.” Dalam pandangan mendiang presiden AS itu puisi memiliki kekuatan untuk mengingatkan…

Read More
ARTIKEL 

BENANG MERAH NILAI ISLAMI DALAM SASTRA INDONESIA

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, pengajar dan pelayan sastra ——————————————————————————————   Jika kita cermati dengan seksama akan kita temukan bahwa sastra Indonesia berakar pada sastra daerah. Kita akan menemukan ada benang merah nilai-nilai Islami yang jelas di dalamnya. Nilai-nilai Islami itu ada dalam sastra daerah Melayu (Riau), Jawa, Sunda, Bugis, dan daerah-daerah yang mendapat pengaruh nilai-nilai Islam dalam perkembangan kebudayaannya. Benang merah itu terlihat sejak sastra Melayu klasik masa kesultanan Aceh, dan sastra Jawa zaman kesultanan Demak, sampai pada masa sastra Indonesia kontemporer seperti terlihat pada karya-karya Sutardji Calzoum Bachri, Abdul…

Read More
CERPEN 

Kenangan Bersama Haris

Irawaty Nusa, penulis cerpen dan kritik sastra yang disiarkan di berbagai harian nasional dan media daring, di antaranya Kabar Madura, Kabar Banten, Tangsel Pos, Satelit News, nusantaranews.co, klipingsastra.com,  kawaca.com, Jurnal Toddoppuli, Ahmad Tohari’s Web, dan lain-lain.   Setiap tiga bulan sekali, sebagaimana lazimnya seorang anak berpendidikan tinggi, saya mengunjungi kedua orang tua yang tinggal di sebuah apartemen di wilayah Jakarta Timur. Meskipun jarak antara Anyer dan Jakarta mencapai ratusan kilometer, sebagai anak perempuan satu-satunya yang memiliki rasa tanggung jawab, saya berusaha menyempatkan diri untuk selalu berjumpa dengan mereka, dalam keadaan…

Read More
ESAI 

Menyoal Budaya dan Peradaban Kampung

Muhamad Muckhlisin adalah cerpenis dan kritikus sastra, tinggal di daerah Bogor, Jawa Barat. Pemenang pertama lomba cerpen nasional (2017). Karyanya banyak disiarkan beragam media.   Setelah mudik ke kampung halaman, senantiasa kita menemukan konsep diri yang lebih arif dan bijaksana, bahwa memang ada batasan antara ‘kita’ yang berpendidikan ketimbang ‘mereka’ yang minim secara intelektual. Tapi bagaimanapun, mereka yang minim secara keilmuan itu merupakan bagian dari darah daging kita sendiri, yang membuat hidup kita menjadi berwawasan seperti saat ini. Kita tak mungkin sanggup mengecap pendidikan tinggi tanpa peran dan jerih-payah orang…

Read More
CERPEN 

Pikun

Muhamad Muckhlisin, cerpenis dan esais sastra, tinggal di daerah Bogor, Jawa Barat, pemenang pertama lomba cerpen nasional 2017 Istri Syamsul, Juleka betul-betul naik pitam. Ia mengusir suaminya sepulang dari gardu ronda di perempatan Kampung Jombang. Ia berjalan sempoyongan sambil memaki-maki istrinya, anak perempuan satu-satunya, bahkan memaki-maki seluruh perempuan di permukaan bumi ini. Baginya, perempuan itu makhluk aneh atau makhluk jadi-jadian yang terbuat dari tulang rusuk. Lalu, ia berkata seenaknya bahwa istrinya terbuat dari tulang rusuk anjing.

Read More
PUISI 

Puisi-puisi Mohammad Cholis

Mohammad Cholis, lahir pada tanggal 28 Agustus 2001 di kampung Telenteyan, Longos, Gapura, Sumenep. Allumni di PP. Annuqayah daerah Lubangsa Raya. Sekarang aktif menulis di Garawiksa Institute Yogyakarta. Puisi-puisinya telah disiarkan banyak media baik cetak atau digital.   SURAT UNTUK AYLA   Ayla, di koran hari ini puisi seperti banjir bandang airnya terus meluap-luap dari mata penyair yang entah miris sayang, ketika kulihat sepasang matanya adalah oretan sketsa dari kepergian kekasihnya atau…

Read More
CERPEN 

Farhat dan Kucing Kesayangannya

Muhamad Pauji, cerpenis dan kritikus sastra kontemporer Indonesia, aktivis organisasi pemuda OI (Orang Indonesia). Artikel dan cerpennya bisa dijumpai di berbagai media massa lokal, nasional, dan media online.   Sejak kecil Farhat dikenal santun dan memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Sifatnya yang polos dan lugu seringkali menjadi bahan guyonan teman-teman di sekolahnya. Ia sangat menyukai hewan, dan kedua orangtuanya memanjakannya dengan mengizinkan memelihara beberapa binatang. Bersama mereka ia banyak menghabiskan waktunya. Tak ada kebahagiaan hidup yang lebih nikmat ketimbang saat-saat ia memberi makan dan bersenang-senang bersama binatang peliharaannya.

Read More