PERCIKAN 

Buku, Pesan Abadi, dan Semangat Zaman

Membaca barangkali adalah suatu hal yang sangat biasa bagi kita. Dari kecil, sejak kita bisa bicara dan mengenal sesuatu, terlebih saat usia kita memasuki masa belajar di play group atau Taman kanak-kanak, kita akan diajarkan membaca oleh orangtua kita. Membaca yang pertama dilakukan tentunya adalah membaca huruf atau aksara.

Jika kita merenung sejenak, bahwa nabi Muhammad pun ketika akan diangkat oleh Allah sebagai Rasul, beliau diajari membaca oleh malaikat Jibril meski sejarah mencatat bahwa Nabi adalah manusia yang tidak pandai membaca aksara.

Menilik dari cerita Nabi tersebut, tentu membaca tidak semata proses mengenal tulisan atau aksara lalu kita baca pesan harfiahnya. Membaca tentu lebih dari sekedar sebuah pengenalan akan huruf dan aksara. Ada pesan lain yang kita maknai dari sebuah aktifitas yang disebut membaca.

Ketika kita membaca puisi, tentu kita tak sekedar membaca struktur, permainan, atau keindahan kata-kata yang rapi tertata penuh cinta. Lebih dari itu, ada makna implisit yang kita baca. Kemampuan membaca makna dari puisi tersebut juga dipengaruhi seberapa banyak bacaan yang kita baca. Bagi mereka yang banyak membaca, tentu akan mampu membaca makna lebih dalam dibanding mereka yang jarang atau kurang suka membaca. Begitu juga ketika kita membaca prosa. Sebagian orang mungkin akan membaca bahwa prosa yang berupa Cerpen, Novelet, dan Novel hanyalah sebuah bacaan berisi sebuah cerita atau peristiwa, lalu setelah orang membacanya, buku-buu tersebut akan ditaruh begitu saja dalam lemari atau kemudian rusak tak terawat. Tapi sebagian lain akan memaknai prosa sebagai sebuah karya yang menyimpan sejuta cerita dan peristiwa yang mampu membawa pengaruh besar. Ada yang berbeda pada setiap yang kita baca.

Sejarah mencatat betapa banyak bacaan dalam hal ini karya sastra yang mampu menjadi inspirasi banyak orang bahkan mampu merubah suatu pola pikir atau realitas masyarakat. Hal yang sering tak kita sadari ialah banyak kisah besar masa lalu tentang perjuangan pahlawan, kisah cinta agung, atau para manusia yang mengubah dunia justru terekam dan sampai kita lewat karya sastra baik puisi, prosa atau drama.

Hayy ibnu Yaqthan, roman filsafat karya filsuf Ibnu Thufail (1105-1185) misalnya, kisah tentang anak manusia yang terdampar dan hidup sendiri di sebuah pulau lalu menemukan kebenaran akan pemikiran yang masuk akal dan mulai menentang dogmatisme. Karya Thufail kemudian mempengaruhi Daniel Defoe (1660-1731) yang menulis Robinson Crusoe, adalah kisah tentang manusia yang mampu bertahan dan mampu membangun dasar pemikiran tersendiri. Jauh sebelum masa itu, kita mengenal karya epik dahsyat berbentuk puisi The Iliad dan the Odyssey karya pujangga Yunani, Homer (kira-kira 800-701 SM).

Betapa banyak buku sastra begitu mempengaruhi tatanan kehidupan dan adakalanya menjadi dianggap membahayakan akan kekuasaan suatu rezim. Begitu juga di zaman modern ini. Sebut saja Ibunda karya Maxim Gorky (1868-1931), 1984 karya George Orwell (1903-1950), atau Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez (1927-2014).

“Setiap buku memiliki takdir dan sejarahnya sendiri”

Hari ini meski mulai banyak buku yang dianggap membahayakan mengalami potensi untuk mulai diberangus, meski kita tak tahu pasti ditujukan pada siapa buku itu dianggap berbahaya, kita semakin tahu, betapa buku tak semata catatan, lebih dari itu buku adalah pembawa pesan abadi yang memiliki banyak tafsir dan makna pada tiap zaman yang berbeda.

Membaca sesungguhnya juga tak sekedar membaca huruf, aksara atau kata. Kata hanyalah sebuah contoh dari suatu tanda. Ada banyak hal yang bisa kita baca. Membaca gambar, membaca gerak, membaca symbol, membaca alam semesta atau bahkan membaca manusia. Mungkin hinggap pertanyaan dalam fikiran kita. mampukah kita membaca itu semua? Silahkan anda sendiri yang menjawabnya.

Sekedar memberi ilustrasi, bahwa segala disekitar kita adalah tanda yang harus kita baca. Nah semakin banyak kita membaca, akan semakin banyak pula yang kita bisa. Maka membaca adalah sebuah proses tanpa akhir. Memang Tak ada sesungguhnya yang sempurna. Tetapi mereka yang paling banyak membaca akan menjadi mulia di mata lainnya dan di mataNya. Tak perlu kita takut terhadap apa yang kita baca. Meski kita akan semakin bodoh karena ternyata banyak hal yang belum kita ketahui, tapi yakinlah dengan membaca kita akan menemui banyak jalan saat menghadapi banyak persoalan. Selamat membaca.

 

Mahrus Prihany

Related posts

Leave a Comment