Puisi-Puisi Arif Purnama Putra

14720391_1462308683784007_4658456140691950389_n

Arif Purnama Putra, tempat tanggal lahir, Surantih, Pesisir Selatan Sumatera Barat. Sekarang mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP PGRI PADANG. Aktif bersama Komunitas Daun Ranting. Bagiku menulis adalah menertawakan hidup.

 

Cerita Seorang Penyair Luka

 

Sudah puluhan tahun ia mengumpulkan kata-kata puitis

Disetiap jengkal kalimat puitis ia selalu berujung pilu

Langit mengabsahkan rangkaian-rangkaian puisinya

Pada baris-baris makna, ia mengeluh pada hati-hati yang luka

Tiada arti yang mampu diselipkan, meski sudah tulis ribuan kali tentang luka

Kecewa teramat dalam menghujam jantung yang rapuh

Kebodohan seakan bertandang membawa bungkusan-bungkusan penuh malas

Diksinya benar tidak kuasa, sampai membunuh ragam rasa.

 

Itu adalah kekecewaan

Yang dipelajari ribuan jam, sampai melupakan masa bermain

Meniadakan kawan-kawan dalam hari-hari yang hampa

Pernah terlihat wajah seorang penyair idolanya tampil di sebuah majalah, dengan rangkaian kata dan makna yang satire

Penulis bernama, berjaya dengan suara-suara tulisannya, sampai benar memprovokasi dunia

Dituliskan dengan selembar kertas hitam putih yang ditemani gambar absurd

Sampai ia harus menempelkan itu pada dinding-dinding kamar

Agar luka tetap ada, dan puisinya hidup pada dada-dada yang mengangah.

 

“Aku ingin seperti yang ada di majalah”

“Aku ingin jadi seorang penyair”

“Aku ingin kau bersatu dengan pikiranku dan membuatmu bermakna”

“Aku benar-benar ingin seperti mereka yang menjatuhkan dunia dengan rangkaianmu: kata, kalimat dan seruan menjanjikan.”

Ia mengetahui itu, walau untuk terlihat bodoh pun ia harus menjadi orang bodoh.

 

Padang, 2016

 

Kerlip Kesedihan

 

Itu adalah bulan dan bintang, dikalungi perhiasan yang dibuat dari kesedihan

Jejak masa lalu memenjarakan hati

Umpat dalam dada bersarang

Aku sedang tertinggalkan, mati menahan rasa yang terbuang

Dan hari-hari selanjutnya aku menahan sabar

Memupuknya dengan doa-doa Tuhan, agar kelak tidak ada lagi kematian.

 

Padang, 2016

 

Kepulangan

 

Saban hari di jalan-jalan menuju sawah

Rumput-rumput mendulang dingin, menempel embun subuh

Pematang sawah yang liuk menukik pada baris-baris padi, burung mulai riuh, membagi tempat persinggahan

Segerombolan kerbau menyeruat dari kubangan, memanggil Tuan yang berjalan gontai dengan beban sekarung rumput

Sedang matahari berusaha mengintip dari barat

Ia tersenyum, keluh lupa akan disampaikan pada aroma-aroma daun padi

Bukit yang melandung mengembun, mengumpal asap dari halaman pondok ladang

Hati dibuai dendang ibu yang sedang memandikan anaknya

Menggema melewati sela-sela telinga, sampai pada hati yang resah

Suara parau ibu penjual sayur menyahut ke setiap rumah

Panggilan untuk pembeli memanggilnya.

 

Itu adalah kampung yang melahirkan anak-anak rindu di tanah rantau

Sampai pulang benar-benar memaksa untuk bersua

Dan melupakan banyak pesona-pesona kota.

 

Padang, 2016

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *