Tuhan Hakim yang Maha Mulia

14718620_10207393046171922_2316599985923766196_n

Mokhamad Malikul Alam, lahir pada 23 September 1994. Mahasiswa Pegiat UKM KIAS (Unit Kegiatan Mahasiswa Kajian Ilmu Apresiasi Sastra) Univesitas PGRI Semarang. Serta penghuni Ponpes Al-Mansyuriah Semarang. Tinggal di kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, Semarang.

 

“Benar Tuhan Yang Maha Mulia, ada alasan aku membunuhnya.”

Aku sedang berada dalam persidangan itu dan benar keadaan ini telah membuat isi benakku berputar-putar. Bagaimana mungkin, sebenda mati sepertiku bisa dihidupkan dalam situasi peradilan ini, dan dalam posisi menjadi terdakwa pula. Aku merasa bingung dengan otakku, mana yang lebih dahulu harus aku pikirkan. Penghidupan atas diriku ataukah persidangan tentang kematian yang menimpa lelaki itu?

“Setidaknya ia dimasukkan ke neraka Yang Mulia.” Kata Iblis penuntut.

“Saya kira mohon pertimbangkan terlebih dahulu. Ia membunuh sebab alasan yang bisa dibenarkan.” Kata Malaikat pembela.

Di ruang yang serba putih. Tuhan berperan sebagai hakim, sedangkan para malaikat, iblis, jin, setan, dan manusia-manusia terpilih menjadi pembela, penuntut, jaksa, saksi, dan sebagian hanya menjadi penonton sebagai pelengkap. Aku menjadi seorang–atau sebenda bodoh terdakwa di sana. Keheranan dengan keadaan yang menurutku tak masuk akal.

Beberapa bulan sebelumnya aku berada di bumi, tepatnya di sebuah kota. Aku hanya benda yang tak bisa bergerak dan hanya berdiam saja di perempatan jalan raya. Lurus berdiri tegak, tertancap kakiku di sudut trotoar. Terbenam dan tubuhku kaku di sana selamanya. Di sekitarku ramai arus pengendara dan orang-orang yang berlalu lalang. Aku di sana bertugas memberi kode-kode kepada mereka dengan warna-warna yang aku nyalakan bergantian. Namaku lampu lalu lintas, tapi orang-orang memanggilku lampu merah.

Mereka tahu hijau sebagai penunjuk segera jalan. Kuning untuk berhati-hati dan merah adalah berhenti. Ya, tapi manusia memang menyebalkan. Mereka kerap melanggar setiap kode-kode yang aku sampaikan. Bagaimanapun, begitulah mereka, berlagak keren dengan berani melanggar setiap aturan. Peraturan dibuat untuk dilanggar- celetuk seorang pengendara muda kepada pemboncengnya beberapa waktu silam. Aku tambah sebal, hingga sekarang masih terbayang-bayang, cengirnya itu yang tak enak dipandang, yang kadang-kadang meneror hari-hariku yang bahagia.

Tetapi aku tetap berusaha sabar. Dari orang-orang yang berlalu lalang aku mendengar kalau orang yang sabar disayang Tuhan. Dan aku mengamininya, dan semoga dengan doaku itu, Dia (Tuhan Yang Baik Hati) melihat tingkah lakuku yang sangat berbaik hati dan kemudian mendengarku, dan menjawab doa-doaku yang tak muluk-muluk.

Aku suka berdoa kepadaNya, agar aku menjadi sebenda yang selalu tabah setiap kali ada orang-orang yang suka merusak tubuhku yang semula bersih dan sedap dipandang. Mereka merasa tak berdosa sering menempel poster-poster desain tak indah dan tak berwarna sembarang menawarkan atau menginformasikan apa pun. Tapi yang paling menjengkelkan kalau poster itu isinya berbau seksual misal poster iklan penambah kejantanan. Diih, aku selalu kesal dengan itu. Serasa menjadi benda yang ternoda dan terhina.

“Mas, itu ada iklan penambah kejantanan, catet nomornya!” kata perempuan muda.

“Gak ah ….” kata lelakinya.

“Catet!” Perempuan itu meninggikan suaranya.

Aku sungguh prihatin dengan lelaki itu. Meski aku tak berkelamin, baik yang laki-laki atau perempuan tapi aku tahu perasaan harga dirinya sebagai lelaki diinjak-injak oleh kaum hawa itu teramat pedih. Maka aku tidak suka poster itu ditempelkan di tubuhku. Tahulah, poster itu sering menimbulkan pertengkaran sepasang kekasih yang baru menikah. Yah, tapi terkadang geli juga saat seorang kakek meminta cucunya yang masih kecil mencatat nomor yang tercantum di sana.

Malam hari saat jalanan lengang dan sepi. Aku menjadi saksi dunia malam di tengah perkotaan. Malam-malam yang penuh dengan kehidupan yang keras, kejam dan penuh kenikmatan yang sesat. Aku selalu melihat pembalap liar, pemabuk, pelacur, banci, dan perampok yang berkeliaran di sana. Kejahatan yang paling tidak kusuka adalah mereka yang tiba-tiba serupa anjing dan mengencingi kakiku. Dan kejahatan-kejahatan lain sering aku lihat di dekatku.

Malam lalu seorang pengendara yang sedang menatap lampu merah, orang yang diboncengnya mengeluarkan pisau dari dalam tas, lalu menggorok leher pengendara hingga memuncratkan warna merah, dan menggelepar di jalanan aspal. Pembunuh itu membawa barang-barang yang dibunuhnya beserta kendaraannya dibawa lari secepat mungkin. Esok pagi ramai orang-orang berkerumun dan beberapa polisi di sana tengah menyelidiki mayat yang terlanjur kering darahnya. Di sini pekerjaan orang-orang terlalu lambat. Pikirku.

Lusanya muncul berita di koran, yang tak sengaja aku lihat ketika ada seorang bocah penjual koran berdiri di sampingku membacanya–atau sekadar melihat gambarnya. Berita besar di koran itu berjudul “Rombongan Pembegal Merajai Jalanan Kota Malam.” Bergambar foto pembunuhan kemarin. Aku heran dengan sok tahunya pembuat berita itu. Ia mengada-ada dan melebih-lebihkan. Aku ingin sekali mengabarkan kejadian sebenarnya, tapi tak bisa. Oh iya, tapi tubuhku terpampang di sana. Aku bahagia. Dengan begitu, semoga dengan pencitraanku itu aku menjadi terkenal seperti dewan-dewan pemerintahan itu.

Aku sering menemui mereka yang kerap menafsirkan sesuatu dengan menduga-duga dan ngawur. Sekitar menginjak bulan akhir tahun kemarin, pada jumat di siang yang terik aku melihat orang –orang berdemo melintas di depanku. Mereka berseragam serba putih. Salah satu truk melintas terpasang spanduk disampingnya tertulis dengan warna merah menyala “Yang Kafir Masuk Neraka!”

Sungguh kepalaku pusing melihat tulisan itu. Sebagai sebenda yang meyakini Tuhan, aku tahu Dialah yang berhak memutuskan siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka. Bukan manusia, apalagi saya. Lah itu, mereka bisanya menyamakan dirinya dengan Tuhan. Tentu tidak terima aku. Dan kepalaku tambah pusing bahwa yang dimaksudkan kafir oleh mereka adalah orang-orang yang tak seagama dengan mereka, menurut kitab-kitab, katanya. Ah, pendapat ngawur darimana itu? kurang ajar benar mereka.

Selalu saja semakin heran dengan tingkah manusia yang kerap berulah yang kadang tampak lucu tapi kadang membuat sedih dan geram. Aku malas melihat pengendara-pengendara yang tak sabar menunggu di belakang zebra cross. Seolah-olah adalah pembalap dadakan yang bersiap-siap memulai start perlombaan, dan memenangkan juara di garis finish untuk mendapatkan piala dunia. Semula keadaannya tenang, lalu aku nyalakan lampu hijau, seketika berisik tak karuan. Klakson-klakson melengking bersahutan di sepanjang jalan. Memedihkan telinga meski di tengah zebra cross seorang nenek terhenti, sebab tiba-tiba ia lupa darimana mulai menyeberang. Tapi mereka tak peduli!

Malam itu saat aku menyalakan lampu merah, aku tampakkan lampu kuning dahulu sebagai aba-aba. Tapi dari sepanjang pandanganku aku melihat seorang pengendara mengebut melewatiku sebelum lampu kuning berganti. Namun terlambat, aku sudah merah. Tapi ia tetap melajukan motornya dan hampir sampai perempatan, dan berada dari seberang sisi lain dekat denganku, aku terperanjat melihat pengendara lain tengah melajukan motornya menyeberang. Takdir telah digariskan dan tanpa diduga mereka pun bertabrakan. Pengendara terpental jatuh lalu berguling-guling ke aspal dan satunya terlempar menghantam tubuhku hingga tubuhku bengkong dan retak. Dan mereka pun bersimpah darah. Motor mereka hancur terpecah belah. Orang–orang sekitar berkerumun. Ada yang membantu mereka. Ada yang menonton. Ada yang tiba-tiba menjadi pencuri atau pencopet dadakan. Dan tak jauh beberapa meter dariku, seorang lelaki teriak kepada seorang temannya yang menonton di dekat si korban.

Kas, berapa nomor platnya?” Kata seorang lelaki didekatku.

Temannya berlari kembali ke tempat lelaki itu. “O 3470 YP,” katanya lirih.

“Bismillah, semoga dengan pasang nomor itu keluar nantinya.” Kata lelaki itu.

“Amin,” jawab temannya sekenanya. Mereka pun tertawa terkikih–kikih.

Aku mendengar mereka dan mengerti maksud isi dari percakapannya. Mereka bermain-main dengan kematian orang lain. Aku benar-benar geram dan marah ketika itu. Lalu sengaja aku mematahkan tubuhku, dan menjatuhkan kepalaku ke kepala salah seorang itu. kepalanya dan kepalaku hancur. Kami sama-sama mati saat itu juga.

Dan sampai pada tempat ini, di sebuah ruang yang serba putih aku disidang atas kasus pembunuhan yang sengaja kulakukan. Perdebatan-perdebatan yang tak lekas berujung membuat keriuhan di sini. Mereka saling mempertahankan dan menguatkan pendapatnya masing-masing. Dan kemudian Tuhan mengetuk palunya barkali-kali. Lekas semua diam.

“Dengarkan baik-baik wahai hamba-hambaku yang Aku cintai, sudah Aku putuskan. Bahwasanya ia, terdakwa itu, akan dijatuhi hukuman….” []

Semarang, 12 Juli 2017


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *