SANGKAR-SANGKAR PREDIKSI

New Picture (1)

Fajar Laksana, mahasiswa sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Founder Jawasastra Culture Movement. Pimpinan redaksi majalah bahasa Jawa Arekan, Mapah Mangsa. Saat ini sedang merampungkan novel bahasa Jawa berjudul Rampog. Kini tinggal dan bergiat di Tegalrejo, Yogyakarta.

 

Seluruh pengunjung mengolok-olok Mansur, manusia slendro pencuri rokok dan kopi. Kirman tidak peduli, ia berkonsentrasi pada lusinan semangka yang diusap sampai seribu kali. Baginya Mansur bukan urusan penting, dan mencaci hanya akan menghabiskan waktu yang seharusnya bisa digunakan oleh teman-temannya untuk aktivitas lain.

Tiga pusat peradaban berjajar. Gelanggang lomba kicau, pasar buah dan deretan warung kopi. Puluhan sangkar burung peserta lomba kicau menggelayut di atap warung kopi. Kain penutup yang warna-warni menjadikan hari itu lebih semarak dari hari biasanya. Para peserta silih berganti meninggalkan pesanan kopi sekadar untuk menengok burung pesaingnya di arena perlombaan. Secara naluriah terbentuk dua kubu, para pedagang buah dan peserta lomba kicau. Mansur meringkuk di pojokan warung. Bertelanjang dada, memakai celana pendek yang bolong di bagian ‘burung’. Tangannya meraih kedua lutut, ia menunggu kesempatan untuk menyambar kopi milik seseorang. Matanya kosong, tapi entah, tidak ada yang tahu bagaimana isi dalam kepalanya.

“Cuit, cuit, cuit” Seorang peserta lomba kicau bersiul ke sangkar burung miliknya, namun tak ada sahutan. Ia terus mencoba.

“Kalau di kelas pleci aku sulit menang, tapi kalau murai, beda ceritanya!” Suara peserta lomba kicau lain menyombong pada dua temannya.

“Man, mbok ya berhenti, waktunya ngaso kok ngelap semangka.” Yono meneriaki Kirman, buruhnya yang workaholic. Sebenarnya dia merasa senang atas apa yang menjadi kebiasaan Kirman, hanya saja terkadang muncul rasa iba, mengingat Kirman juga manusia yang berhak untuk beristirahat, walau sekadar seteguk kopi, untung-untung kalau menunggu habisnya sebatang kretek.

“Kirman, yang kau gosok itu cuma semangka, bukan lampu ajaib Aladdin!” Yuk Sum, wanita tua penjaga warung mendadak berkomentar. Akibatnya, seluruh sudut warung terbahak-bahak.

Baik peserta lomba kicau maupun para pedagang buah lupa atas kesadaran diri mereka sendiri. Ada yang memegangi perut, ada yang memukul-mukul meja, ada juga yang tersedak karena mendengar perkataan Yuk Sum saat sedang makan gorengan, yang tidak boleh terlewat adalah, ketika ada sebuah lelucon pasti selalu ada orang yang menimpali lelucon tersebut.

“Baru tahu aku kalau jin milik Aladdin itu pindah ke dalam semangka…”

“Pasti warna jin itu merah…”

Dua pernyataan itu disemprotkan dari peserta kicau yang dari tadi berusaha membuat burung miliknya bersuara. Kebiasaan menimpal perkataan kiranya tidak sekadar terbatas pada lelucon, hal-hal yang seharusnya tak serius pun bisa menjadi bahan sasaran. Biasanya orang seperti itu akan berhenti dengan sendirinya, karena lama-lama ia akan bosan untuk menjadi seorang trouble maker karena tidak diladeni.

“Idreng! Kenapa diam saja?” Beberapa kali ia sia-sia memanggil-manggil nama burungnya.

“Tadi sudah bunyi!” Kirman memberi tahu dengan sedikit berteriak, karena ia mulai terusik dengan siulan yang konsisten disuarakan namun jauh dari merdu.

“Sudah bunyi? Kapan?” Peserta lomba kicau yang mengganggu itu balik bertanya. Ia merasa heran, tidak mungkin burungnya berkicau tanpa disadari.

Yuk Sum, para pedagang buah dan para peserta lomba kicau yang berada di warung saling pandang. Mereka tidak mengerti kenapa Kirman bisa begitu teliti. Kicau burung pleci cukup lantang untuk mengisi ruangan. Jarak antara warung menuju arena lomba kicau sekitar sepuluh meter, dari jarak tersebut tentunya menimbulkan perbedaan antara burung yang sedang lomba dengan burung yang sedang digantung di atap warung. Mereka sedari tadi memang mendengar samar suara burung-burung yang sedang lomba, tapi untuk suara burung yang dari tadi tak terdengar bicaranya dan berada di dalam warung adalah kasus lain. Sebab setiap burung memiliki ciri khas masing-masing, sehingga bukan hal yang sulit untuk membedakan antara satu burung dengan burung yang lain.

“Man! Kapan bunyinya?! Kukira dari tadi kamu menggosok semangka.” Yuk Sum mendesak.

“Ya tadi…” Gedebug, Kirman menjawab pertanyaan Yuk Sum sembari melempar semangka.

“Kalian terlalu keras tertawa sampai tak bisa mendengarkan, jangankan suara yang pelan, suara burung yang begitu keras saja kalian tidak mendengarnya.” Dengan muka masam Kirman meneruskan ucapannya, pun tetap konsisten mengusap semangka.

Si pemilik burung merasa sedang dibodohi. Terlebih cara bicara Kirman memang terlihat merendahkan orang-orang yang ada di dalam warung. Ketika si pemilik burung mengepalkan tinju lalu maju menuju tempat Kirman bekerja, ia segera dihadang oleh Yono. Kendati Kirman sedikit menggores perasaannya, Yono meyakini bahwa karyawan kepercayaannya memiliki maksud tersendiri. Selain alasan tersebut, kalau sampai Kirman babak belur, maka dirinya sendiri yang harus repot karena mengurus biaya pengobatan.

“Sudah mas, dia hanya bercanda.” Yono mencoba menentramkan suasana panas yang menyelimuti kepala pemilik burung.

“Bercanda ya bercanda, tapi bukan begitu caranya!” Si pemilik burung malah meninggikan nada bicara. Kehormatannya adalah burung peliharaannya, bukan istrinya atau mungkin bahkan keluarganya. Semuanya tentang burung.

Yuk Sum menempatkan diri di tengah, merentangkan kedua tangan, mencegah supaya kedua orang tersebut tidak sampai baku hantam. Mendung hangat menyelimuti seisi warung. Pecahan tawa yang tadi berserak ke setiap telinga telah hilang.

Es degan, es teh, es jeruk dan segala minuman yang hakikatnya dingin menjadi panas. Mendidih di tangan yang sedang susah payah meredam nafsu amarah. Si pemilik burung yang tak bisa membuat burungnya bernyanyi adalah seseorang yang menjengkelkan di kalangan kelompok pecinta burung. Kebiasaannya, selalu bersiul di manapun tempat, kapanpun waktu. Sedangkan Kirman, adalah seorang karyawan penjual buah yang juga lumayan menjengkelkan, tingkat konsentrasinya yang selalu tinggi menyiratkan bahwa dia bukanlah seseorang yang suka tertawa, akibatnya pedagang buah yang lain selalu kikuk jika berhadapan berdua dengannya.

Yono dan si pemilik burung menjadi pusat perhatian. Keduanya memiliki perawakan yang berbeda, tubuh Yono sedikit gempal, penampilannya necis, ujung mulutnya mengatup menahan kretek dan di jari tengah kedua tangannya bercokol batu akik pancawarna. Sedangkan si pemilik burung berbadan kurus dengan rambut yang bagian depannya disemir kuning.

Atmosfer di dalam warung semakin gerah, para penjual buah yang berkumpul mencabik kancing kerah, dan ada juga yang melepas kaos partai murahan miliknya. Di pihak peserta lomba kicau, semprotan air untuk memandikan burung ditaruh, siulan-siulan para peserta lomba kicau juga dihentikan. Yang tersisa diantara sulut emosi hanya satu yaitu lagu dangdut. Yono, Kirman, Mansur, si pemilik burung, para pedagang buah dan para peserta lomba kicau tutup mulut, terjerembab masuk ke dalam setiap hitungan prediksi.

“Dia pasti akan bicara lagi, kalau sampai hal itu terjadi maka akan kulempar gelas kopiku ke mukanya yang menjijkkan itu!” Si pemilik burung berandai-andai dalam kepala.

“Tubuhnya kecil, kurus, dan jelas ketahanannya ringkih. Pukulannya tidak akan berdampak padaku, kecuali dia menggunakan benda keras, gelas contohnya.” Otak Yono pun menyusun strategi.

“Setiap hari bikin risih telinga, dasar maniak burung kurang belaian! Tinggal menunggu pergerakan Yono.” Seorang pedagang buah memijit telapak tangannya.

“Mereka pasti akan baku hantam, tapi bagianku nanti adalah menjatuhkan sangkar-sangkar, karena tubuhku terlampau gemuk.” Satu lagi pikiran mengerikan muncul dari salah seorang pedagang buah, kepalanya tertunduk tapi matanya melirik langit-langit warung, mengestimasi seberapa cepat dan seberapa banyak ia bisa menyebabkan kerusakan, khususnya pada sangkar-sangkar.

Tidak mau kalah, para peserta lomba kicau juga ikut menyusun imaji strategi, mempersiapkan diri bila pertempuran terjadi. Pandangan lembut serupa tatapan kosong burung lovebird kini menjelma menjadi sorot elang. Mata memerah, kedua alis mereka saling berjumpa ujungnya. Kesadisan mereka bisa dikatakan setara dengan rencana milik para pedagang buah.

“Orang yang menghadang Tarno itu pasti akan mengayunkan kepalan dan menyasar pelipis menggunakan akik.” Seorang peserta lomba kicau menyeruput kopi dengan pandangan tenang, penuh perhitungan.

“Baku hantam tidak bisa dihindarkan, ini persoalan yang lebih dari sekadar antara pedagang buah dengan maniak burung, ini lebih tentang harga diri. Para pedagang buah terlalu sombong, terlalu merasa kaya dan punya segalanya! Aku akan menjauh dari warung ini, kemudian menuju lapak-lapak buah, ketika pecah, aku akan menginjak-injak dagangan mereka, eh, bukan menginjak, aku akan menggilasnya pakai mobil!” Seorang peserta lomba kicau yang lain menyusun rencana mengerikan, sambil beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan es teh yang sisa setengah. Bila memang dia berani melakukannya, jelas kerugian lebih banyak menimpa pihak pedagang buah.

Yuk Sum ketir-ketir, sebagai seorang penjaga warung tidak ada kekhawatiran apapun selain rusaknya perabotan, meja dan kursi. Sebelumnya ia telah berhasil meredam ulah gila Mansur menggunakan segelas air. Namun kini muncul di hadapannya peristiwa yang jelas lebih gila daripada ulah orang gila.

“Sepertinya aku akan dipecat.” Rentangan tangannya diturunkan, kemudian melangkah lunglai menuju tempat duduk.

Kirman sadar kalau dia yang menjadi penyulut atas api yang hampir berkobar, tapi hatinya terlanjur keras, persetan dengan apa yang akan terjadi. Lima belas menit kemudian, dua kelompok yang bertikai masih dalam posisi yang sama. Mereka tidak bergerak sedikitpun untuk mewujudkan prediksi yang telah tersusun, entah apa lagi yang mereka tunggu. Sungguh mengejutkan, beragam kengerian hasil ciptaan imaji mereka terbentur pada tembok gaib, membuat mereka bertempur, beradu kekuatan sekadar dalam bayang-bayang.

Di lain pihak. Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu, tanpa pikir panjang Mansur mewujudkan prediksi atau mungkin cita-citanya yang telah tersusun rapi. Lebih matang dan tertata dibanding pikiran-pikiran waras. Dia bangkit berdiri dan tanpa rasa was-was menyahut segelas kopi lalu meminumnya sambil jalan. Kirman sadar akan perbuatan Mansur, tapi dia memilih tetap menggosok semangka yang sebenarnya sudah ia bersihkan semua. Lagipula perbuatan Mansur tidak memberi dampak yang negatif bagi dirinya sendiri.

Yogyakarta, 16 September 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *