PERISTIWA 

Sebuah Kota Menyambutku dengan Secangkir Robusta

JAKARTA (Litera) – Sebuah antologi puisi bertajuk Sebuah Kota Menyambutku dengan Secangkir Robusta (KopiKita,id, 2023) diluncurkan di Taman Ismail Marzuki (TIM), meramaikan Indonesia Coffee Summit 2023. Acara yang berlangsung 22 Oktober 2023 dimeriahkan dialog literasi dengan Gola Gong, parade baca puisi, dan musik acapela.


Penyunting antologi puisi Iwan Kurniawan menjelaskan, pihaknya menerima 200 kiriman berisi 400-an puisi tentang kopi.   “Setelah membaca sekitar 200 kiriman yang berisi 400-an puisi, akhirnya Panitia Penerbitan Buku Puisi Kopi Indonesia Coffee Summit 2023 menerbitkan puisi karya 43 penyair,” katanya.

———————-

Foto diambil dari GolaGong Kreatif

———————-

Judul buku antologi puisi ini, Sebuah Kota Menyambutku dengan Secangkir Robusta, diambil dari judul puisi Ahmadun Yosi Herfanda, yang kutipannya sbb.

 
SEBUAH KOTA MENYAMBUTKU

DENGAN SECANGKIR ROBUSTA

 

Sebuah kota menyambutku dengan secangkir robusta. Ada pohon-pohon besar dan tua di sana, seperti datang dari mimpi masa kecilku. Dalam gerimis, di gerbangnya yang perkasa, seseorang menyambutku sambil mengulurkan tangannya. “Selamat berjumpa kembali dengan kota tercinta, dengan secangkir robusta,” katanya.

Aku sungguh tak mengenali sosok itu lagi, tapi ia tampak begitu bahagia seperti bertemu kembali dengan saudaranya yang telah lama pergi. “Lihatlah, kota kita telah bersolek. Tapi, tetap saja tampak tua, dan pohon-pohon besar itu masih ada di sana. Lihat, itu kebun kopi kita,” katanya di balik asap robusta di atas meja, kopi hitam tanpa gula kesukaannya. Kesukaanku juga.

Kulihat pohon-pohon besar itu memang masih ada. Bertahan dalam hujan dan hangat matahari. Di celah-celahnya merimbun kebun kopi. Tapi, jalanan tak lagi sunyi. Keriuhan tak lagi tersembunyi. Agaknya ada yang menyulap kota itu jadi daerah wisata kopi.

Aku sungguh tak mengenali lagi sosok yang dulu sering bernyanyi untukku itu. Gurat-gurat pada wajahnya menandakan ia telah begitu tua. Dan, senyumnya, ah senyumnya, tak pernah memudar dalam remah kopi.

 

Tangsel, 2023

 

Kelompok acapela dari The Indonesia Youth Choir membuka acara Indonesia Coffee Summit, dilanjutkan dengan kampanye membaca dan menulis lewat kopi, puisi, dan musiklisasi puisi yang serba kopi. Iwan Kurniawan lantas menampilkan Gola Gong selaku Duta Baca Indonesia.

Gola Gong menceritakan program unggulan Safari Literasi dan Gerakan Indonesia Menulis. Setelah itu ia membacakan puisi berjudul “Susu, Telor, Madu, Kopinya Mana?” Menjawab pertanyaan Iwan tentang proses kreatif buku puisi “Air Mata Kopi” (Gramedia, 2014), Gola Gong lantas bercerita tentang 50 hari perjalanan kopi dari Sabang sampai Lampung.

Parade pembacaan puisi diisi LK Ara, Tulus Wijanarko, Willy Ana, Asril Koto, Fikar W Eda, Devi, dan Sanggar Mataharinya, serta beberapa penyair yang hadir.

Indonesia Coffee Summit ini digelar oleh  PT Demi Kopi Indoneisa (KopiKita.id), meliputi 18 iven berupa konferensi, workshop, kompetisi, festival, business matching, dan pameran, berlangsung dari 21-23 Oktober 2023.

Faunding Director ICS Yuswohady mengatakan, ICS ini merupakan upaya diplomasi komoditas kopi baik dalam negeri maupun luar negeri dan direncanakan berlangsung setiap tahun. Tema ICS kali ini bertajuk Coffee, Art, and Culture dan targetnya menjadi event kopi ke-4 terbesar di dunia.

Menurut Yuswohady, tiga iven kopi tingkat internasional yang sudah duluan adalah Swiss Coffee Dinner di Swiss, Asia International Coffee Conference di Vietnam, dan SinterCafe di Kosta Rika. “Itu sebabnya, ICS digelar dan menjadi pertama yang selanjutnya akan dilakukan tiap tahun,” katanya.

Besarnya potensi komoditas kopi di Indonesia, kata Yuswohady, bisa menjadi salah satu kekuatan untuk memperkenalkan ragam jenis kopi kepada dunia internasional. “Kita sangat layak karena kita sebagai produsen nomor 4 di dunia. Kita layak untuk menyelenggarakan ini, dan mengundang seluruh stakeholder kopi di seluruh dunia untuk datang ke Indonesia,” ujar Yuswohady seperti dikutip Antara.

Para penyair yang puisinya masuk antologi, antara lain Afnan Malay, Ahmad Sehu, Ahmadun Yosi Herfanda, Akmal Nasery Basral, Alexander Robert Nainggolan, Amien Wangsitalaja, Andi Wirambara, Anwar Putra Bayu, Aslan Abidin, Asril Koto, Ayi Jufridar, Bambang Widiatmoko, Beatrix Polen Aran, Berti Nurul Khajati, Bunyamin Fasya, Chris Triwarseno, Christya Dewi Eka, Cunong Nunuk Suraja, Dionisius Agus Puguh Santosa,  Eka Budianta, dan Fakhrunnas MA Jabbar.
Kemudian Faruk HT Fathurrozi Nuril Furqon, Fikar W. Eda, Idaman Andarmosoko, Indon Wahyudin, Isbedy Stiawan ZS, Kurnia Effendi, L. K. Ara, Mahwi Air Tawar, Matdon, Mustafa Ismail, Nanang R. Supriyatin, Nanang Suryadi, Nissa Rengganis, Salman Yoga S, Triyanto Triwikromo, Tri Wulaning Purnami, Tri Astoto Kodarie, Tulus Wijanarko, Willy Ana, Yuliani Kumudaswari, dan Zaim Rofiqi. @ red, dari berbagai sumber

Related posts

Leave a Comment

19 − fourteen =