PERISTIWA 

MEMBEDAH KUMPULAN PUISI IMPROMPTU TERZINA EWITH BAHAR

JAKARTA (litera) — Mari berkenalan dengan Ewith Bahar. Ia Penyair perempuan yang sedang melambung namanya di tanah air, khususnya di kalangan para peminat sastra. Buku puisinya, Impromptu Terzina, menjadi Juara I Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia (HPI) 2023. Kamis, 30 November 2023, buku itu akan dibedah di PDS HD Jassin.

 

228 Puisi, 22 Sub-Tema

Buku Puisi setebal 150 halaman tersebut, memuat 228 puisi, 22 sub-tema. Dewan Juri yang terdiri dari Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, dan Maman S. Mahayana, menetapkan Impromptu Terzina sebagai Juara I.

Pada Kamis, 30 November 2023, buku puisi itu akan dibedah oleh dua dari tiga Dewan Juri, yaitu Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S. Mahayana. Bedah buku itu diadakan di aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Lantai 4 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Penyelenggara bedah buku itu adalah Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI). “Di satu sisi, ini merupakan bentuk apresiasi terhadap Ewith Bahar. Di sisi lain, Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S. Mahayana akan menjelaskan, kenapa buku puisi tersebut berhasil menjadi Juara I. Apa keistimewaannya dibanding buku karya peserta lainnya,” ujar Octavianus Masheka, Ketua Umum Komunitas TISI, pada Senin, 27 November 2023 lalu.

Octavianus Masheka berharap, bedah buku serta penjelasan Dewan Juri tersebut, akan memberi pencerahan kepada para peminat sastra. Dengan demikian, kualitas puisi yang sudah dibukukan, yang dikirimkan ke panitia sayembara buku puisi di masa-masa mendatang akan lebih baik lagi.

Acara bedah buku tersebut akan dibuka oleh Firmansyah selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta. Ia didampingi oleh Diki Lukman Hakim, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Itu adalah wujud dukungan kedua lembaga tersebut terhadap Komunitas TISI, dalam konteks meningkatkan literasi anak-anak bangsa melalui sastra.

Buku puisi Impromptu Terzina karya Ewith Bahar ini menjadi Juara I  Sayembara Buku Puisi, yang diselenggarakan oleh Yayasan Hari Puisi (YHP). Secara jumlah, ada 150 buku puisi yang menjadi peserta sayembara tahun ini.

Untuk tahap awal, Dewan Juri memilih 20 buku puisi yang lolos menjadi nomine. Kemudian, pada Rabu, 26 Juli 2023 lalu, Dewan Juri mengumumkan buku puisi  karya Ewith Bahar menjadi Juara I alias Buku Puisi Terbaik tahun 2023.

Pengumuman tersebut dilakukan di Teater Kecil, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), sebagai rangkaian dari Perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) ke-11. Sayembara buku puisi itu merupakan acara tahunan Yayasan Hari Puisi (YHP), yang diikuti secara antusias oleh para peminat sastra dari seluruh tanah air.

 

Inspirasi Puisi Tiga Baris

Pada Senin, 27 November 2023 lalu, penulis bertemu dengan Ewith Bahar. Tujuannya, sebelum mendengar penjelasan Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S. Mahayana selaku Dewan Juri, penulis ingin mendengar proses kreatif Ewith Bahar dalam menciptakan puisi tiga baris yang dihimpun dalam buku puisi Impromptu Terzina.

Ewith Bahar mengungkapkan, ia terinspirasi untuk menciptakan puisi tiga baris, setelah mencermati ragam puisi tiga baris di berbagai negara di dunia. Antara lain, haiku, hokku, dan katauta dari Jepang. Juga, sijo di Korea dan terza rima di Italia.

Minatnya terhadap dunia tulis-menulis, sudah tumbuh sejak remaja. Hingga tahun 2023 ini, Ewith Bahar sudah menerbitkan 9 buku sebagai karya tunggal. Baik berupa buku puisi, cerpen, novel, dan esai. Pada tahun 2019, salah satu buku puisi karyanya Sonata Borobudur memperoleh penghargaan sebagai 5 Besar Buku Puisi Terbaik Indonesia, yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Dengan latar yang demikian, juga dengan dukungan teknologi informasi kini, Ewith Bahar leluasa menjelajahi ranah perpuisian dunia. Ia menyadari, jenis puisi tiga baris, tidak dikenal dalam sejarah perpuisian Indonesia. Yang ada adalah jenis-jenis pantun dua baris atau empat baris.

“Saya sebenarnya menantang diri saya sendiri, mampukah saya menciptakan puisi tiga baris?” tutur Ewith Bahar. “Saya membayangkan, puisi tiga baris adalah sebuah ruang yang sempit. Tantangannya, bagaimana mengisi ruang yang sempit dengan elemen-elemen yang bermakna, dengan harmoni yang terjaga,” lanjut Ewith Bahar.

Ia menyadari, itu sangat tidak mudah baginya. Meski demikian, pergulatan kreatif menemukan tema, mengulik diksi, serta menciptakan rima, tetaplah ia tempuh dengan asyik. Buktinya, di buku puisi Impromptu Terzina ia berhasil menciptakan 228 puisi, dengan 22 sub-tema.

Tapi, apa sebetulnya Impromptu? Ini adalah istilah dalam dunia musik, yang berasal dari bahasa Prancis, yang berarti improvisasi. Dengan landasan improvisasi itulah, Ewith Bahar mengolah peristiwa banjir, misalnya, ke dalam puisi tiga baris.

Memang, untuk satu peristiwa, beberapa puisi tiga baris, bisa ia ciptakan. Tapi, Ewith Bahar menantang dirinya untuk memilih sudut pandang yang ia nilai paling kuat. Dengan kata lain, 228 puisi dengan 22 sub-tema tersebut, sesungguhnya adalah hasil dari proses memilih, yang berlangsung terus-menerus.

Ketika Impromptu Terzina dinyatakan Dewan Juri sebagai Juara I Buku Puisi Terbaik tahun 2023, Ewith Bahar tentu saja happy. Ia mengakui, ini bukan yang pertama kali ia mengirimkan buku puisi ke panitia Sayembara Buku Puisi, yang diselenggarakan oleh Yayasan Hari Puisi (YHP).

Meski di tahun-tahun sebelumnya buku puisinya tidak terpilih, ia terus dan terus berproses secara kreatif. Menantang diri sendiri itu, ternyata asyik. @ red.

Kontributor: Isson Khairul dan Lasman Simanjuntak

Related posts

Leave a Comment

12 − five =