Apresiasi 

Membaca Penari dari Kuraitaji

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, ketua lembaga literasi indonesia

 

Sebagaimana judul-judulnya, cerpen-cerpen Free Hearty (Bundo Free) menarik untuk dibaca. Dengan gaya realis, cerpen-cerpen Bundo yang terkumpul dalam buku Penari dari Kuraitaji (Penerbit Kosa Kata Kita, 2015) umumnya terasa ringan, renyah, dan enak dikunyah. Terasa dulce et utile, kata Horatius, menyenangkan dan berguna. Gaya penyajian demikian memang penting bagi genre prosa fiksi, baik cerpen maupun novel, yang ber-“mazhab” realis, agar enak dinikmati pembaca, menghibur, dan dipahami isi serta pesannya.

Cerpen-cerpen Bundo umumnya memang bergaya atau ber-“mazhab” realis, gaya yang menjadi arus utama, atau mainstream, percerpenan Indonesia, terutama cerpen media massa – tempat sebagian besar cerpenis Indonesia minum “air susu ibu”. Dapat kita simak, misalnya, cerpen “Penari dari Kuraitaji”, yang dijadikan judul kumpulan cerpen ini. Pembuka cerpen langsung menawarkan kenikmatan baca:

 

Berkali tangan bulan diperbaiki oleh pelatih Guru Darwis. Bulan hampir kesal karena dia merasa gerakannya sudah sempurna. Tetapi, kata Guru Darwis, terlalu gemulai. Padahal, menurut sang guru “Tari Nelayan” ciptaan Tom itu bergerak tegas, dengan irama keras dan kaki menghentak kuat….

 

Cerpen tersebut mengangkat romantika kehidupan seorang penari, dan cerpenisnya, Bundo Free, terkesan sangat memahami dunia tari, dunia yang pernah ia geluti bersama koreografer tari ternama, Tom Ibnur. Bisa jadi, tokoh Tom di dalam cerpen tersebut adalah tokoh nyata, yakni Tom Ibnur, dan cerpen tersebut diangkat dari kisah nyata. Memang, antara realitas dan imajinasi di dalam cerpen kadang-kadang memang tidak berjarak. Setidaknya, seperti pernah dikatakan Umar Kayam, karya sastra (cerpen) merupakan refleksi dari masyarakat di sekitarnya, termasuk diri cerpenis sendiri.

***

 

Meskipun berlatar belakang dunia tari, Bundo Free tidak hanya mengangkat romantika kehidupan para penari dan para awak pertunjukan tari. Beragam tema dan persoalan diangkat oleh Bundo ke dalam cerpen-cerpennya. Cerpen “Suatu Hari di Atas Kereta Api ke Yogyakarta” yang berkisah tentang perjalanan Leka dengan kereta api ke Yogya, bersama kenangan-kenangannya, dan seorang perempuan rakus yang duduk di sampingnya. Narasi cerpen ini juga menari lincah, dengan akhir (ending) yang mngejutkan: Leka, yang berusaha berhemat sepanjang perjalanan dan hanya makan mie rebus di atas kereta, malah tertimpa sial karena harus membayari semua makanan mahal dan diminum mahal yang dilahap oleh perempuan rakus itu.

 

Benar saja. Leka sungguh tercengang karena saat dia hampir menghabiskan mie rebusnya, si temannya juga memasukkan suap terakhir daging dan kentang serta buncis sekaligus ke mulutnya yang membuka dengan sangat besar. Kembali Leka tertatap mulut paus yang melahap Pinokio dan menampung air yang deras mengalir ke mulut besar dan lebar itu….

Haruskah dia membayar semua itu? Dengan sedikit berpolitik, Leka sengaja memperlambat dengan berpura mencari-cari dompet. Namun sudah darasakan cukup lama, sang teman belum juga dating. Akhirnya Leka mengambil empat lembar uang ratusan ribu dan diberikan kepada pramusaji….

 

Di tangan Bundo Free, perjalanan dengan kereta api yang biasa saja jadi terasa menarik, karena gaya bertuturnya yang lincah, yang memadukan antara narasi, deskripsi, dan dialog, secara apik. Seperti juga pada cerpen-cerpennya yang lain (ada 16 cerpen dalam buku ini), gaya bertutur atau berkisah Bundo Free terasa seperti gerak penari yang lincah dari satu titik ke titik lain, dari satu spot ke spot berikutnya, kadang cepat, kadang sedikit pelan, kadang gemulai, kadang keras menghentak, dan ditutup dengan kejutan.

Struktur cerita, alur atau plot, rata-rata memang terasa datar. Tak ada gunungan cerita, klimaks, atau story mountain, dengan konflik yang memuncak tajam dan tinggi. Tetapi, kekurangan ini tergantingan oleh tanjakan-tanjakan kecil yang merata di semua bagian cerita, dan tetap menarik untuk diikuti. Ibarat tarian, sebut saja Tari Piring, misalnya, penonton tak perlu menunggu klimaks yang tinggi, karena tiap bagian tari adalah gerak-gerak yang memikat, dengan alur yang mengalir deras dan berakhir dengan kejutan yang mengesankan.

***

 

Bidang seni lain yang melatari seorang cerpenis memang sering mempengaruhi gaya dan proses kreatifnya. Karena latar Bundo Free adalah penari, maka sedikit banyak mempengaruhi gaya berkisahnya yang lincah seperti penari, seakan ia menari dengan kata-kata, dengan narasi, deskripsi, dan dialog. Kata-kata, kalimat, paragraf, narasi, deskripsi, dialog, tersusun seperti pertunjukan tari di atas kertas.

Begitu juga ketika kita menyimak proses kreatif Danarto, yang seorang pelukis. Ia kerap membuat serangkaian gambar adegan dulu, lalu gambar berseri itu ia salin ke dalam cerita. Dan, cerpen serta novelnya pun cenderung simbolik, seperti gaya lukisannya yang simbolik. Contoh lain adalah Sapardi Djoko Damono yang senang melukis, dan mengibaratkan proses kreatifnya dalam menulis puisi sebagai melukis dengan kata-kata. Dari sinilah lahir sajak-sajak imajisnya yang kaya imaji alam yang mempesona.

Jadi, beruntunglah pengarang yang memiliki multi talenta. Kepiawiannya dalam satu talenta dapat mendukung talenta yang lain, sehingga hasilnya bisa lebih indah dan bermakna, bisa dulce et utile, bisa menyenangkan (menghibur) dan berguna (bermanfaat). Begitu juga, kurang lebih, proses kreatif dan gaya berkisah Bundo Free, dipengaruhi oleh talentanya dalam seni tari. Tiap menulis cerpen, ia bagaikan “menari dengan kata-kata”.***

 

Pamulang, 18 November 2016

 

  • Tulisan ini merupakan prasaran untuk dikusi dalam peringatan HUT Persatuan Sastrawan dan Budayawan Negara Serumpun (PSBNS) di Yogyakarta, 19 November 2016.

Related posts

Leave a Comment