Tetes Diorama Terakhir

Edit Nufi foto

Nufira S., menyelesaikan pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Jatuh cinta pada aroma buku dan debu perpustakaan. Alumni Kampus Fiksi 10 ini kini bergiat dan tinggal di Bandung. Jangan sungkan untuk menyapa perempuan yang belum lama melepaskan masa lajangnya ini di Twitter/Instagram @Nufira_Stalwart atau email nufira.stalwart@gmail.com.

 

Dear Dik Heldy

I am sending you some dollars,

Miss Dior, Diorissimo, Diorama.

Of course, also my love.

 

Mas*

 

Aku menemukan selembar kertas dengan tulisan tangan huruf bersambung yang begitu rapi di atas meja rias ibuku. Tulisan tangan seseorang yang kusebut ayah sekalipun tak pernah kulihat wajahnya. Bahkan tak kuketahui keberadaannya, apakah masih hidup atau sudah dimakan tanah. Aku hanya mengenal rupanya lewat foto-foto, mendengar tentang sosoknya dari cerita pamanku atau dari mulut ibuku sendiri sesekali.

Aku menarik sudut bibirku, lelaki itu mengirimkan uang dolar beserta tiga botol parfum Christian Dior yang rata-rata diluncurkan sebelum 1960. Seborjuis apa kehidupan ayahku saat itu? Sedangkan sepeninggalannya kami menjadi kaum proletar yang menyedihkan.

Tiga botol parfum itu pun masih berjajar rapi di meja rias ibu bersama kosmetik yang sudah berdebu karena takpernah tersentuh. Saat masih muda, ibu paling suka Diorissimo, menurutnya aroma Diorissimo begitu segar, serupa embun yang menempel di ujung daun pada suatu pagi di musim semi. Menggambarkan harapan dan kebahagiaan. Berbeda dengan Miss Dior yang memiliki aroma lebih elegan. Keduanya sudah tandas tak lama sejak ayah mengirimkannya. Hanya Diorama yang masih bersisa kurang dari 10ml.

Aku meraih botol Diorama yang didominasi warna biru elektrik itu. Botolnya bulat serupa guci mini yang lancip di ujung atas dan bawahnya. Aku menghirup aromanya dari sela-sela antara botol dan tutupnya lalu memasukannya ke dalam tas beserta sepucuk surat kiriman ayah tiga puluh tahun yang lalu.

“Darma, bawakan ibu Diorama dan surat dari ayahmu di atas meja rias.” Begitu pesan ibuku satu jam yang lalu saat aku membesuknya di rumah sakit. Kalau bukan karena merasa iba saat melihat tatapan matanya, aku tentu enggan mengikuti keinginan ganjilnya itu.

***

Kehidupan ibuku berubah drastis setelah kedatangan sepucuk surat yang dikirimkan ayah. Saat itu aku belum genap satu tahun. Dari cerita paman, ayah mengirimkan itu dari tempat pengasingan karena menjadi salah satu tahanan politik. Itu adalah kiriman terakhir ayah, setelahnya ayah tak pernah pulang, atau memang tak akan pernah pulang.

Keyakinanku berbeda dengan ibu, dia selalu meyakini bahwa suaminya itu akan pulang suatu saat nanti. Itulah kenapa, bertahun-tahun Diorama tak pernah digunakannya. Tahun-tahun setelah kepergian ayah dilewati ibu hanya untuk menunggu. Dia kuat berjam-jam duduk di beranda rumah. Matanya menerawang, wajahnya dingin dan datar serupa arca. Dia jarang sekali tersenyum. Namun dia juga tak pernah meneriakiku ketika aku melakukan sebuah kesalahan. Ibuku juga sesekali menatap televisi, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi sekalipun yang ditontonnya adalah acara komedi.

Sepanjang ingatanku kami tak pernah berbincang lama, cukup sesekali dan seperlunya. Ibu tak pernah membahas perihal sekolahku. Tetapi ketika persediaan beras habis, ibu kerap mengeluh. Biasanya aku berinisiatif mengunjungi pamanku untuk meminta bantuan. Paman selalu menolong kami, entah dengan sukarela atau terpaksa.

Hingga suatu hari, ibu menemukan sepucuk surat di kantong seragamku yang akan dicuci. Surat yang hendak kuberikan kepada seorang gadis namun aku urungkan. Ibu membeberkan surat itu di atas meja dan menatapku tajam.

“Kamu sedang jatuh cinta?” tanyanya.

Aku menunduk, tak berani menjawab apapun karena malu. Mengapa pula ibu mesti membahas hal memalukan seperti ini sedangkan hal remeh-temeh lain pun tak pernah kami bahas.

“Jatuh cintalah,” kata ibuku kemudian.

Aku mengangkat wajah dan melihat ibu sedang menatap wajah ke luar jendela. Aku menanti kalimat ibu setelahnya.

“Tapi ingat, jangan pernah menyentuh kehidupan seseorang jika kamu hanya ingin menghancurkannya.”

Entah kalimat itu didapatkan ibu dari buku mana atau dari acara televisi apa. Setelahnya, ibu masuk kamar dan aku mendengarkan suara tangisan seorang perempuan yang begitu lirih. Aku tidak asing dengan tangisan ibuku, tapi kali ini terasa begitu pedih. Apa ibu tersinggung karena aku tidak belajar dengan baik dan malah sibuk jatuh cinta? Atau aku mengingatkannya tentang sebuah cerita kelam di masa lalunya?

Beberapa tahun kemudian. Saat aku telah menyelesaikan sekolah, aku mendapatkan pekerjaan. Aku bercerita kepada ibuku bahwa aku jatuh cinta dan ingin menikahi seseorang. Aku berharap agar kelak ibu memiliki teman ngobrol, mencurahkan beban yang selama ini tak pernah ditumpahkannya padaku. Aku ingin segera mengajaknya berkenalan dengan ibu tetapi ibu tak memberikan komentar apa-apa.

Saat aku memberanikan diri mengajak kekasihku ke rumah, ibu tak mengajak kekasihku ngobrol, sebagaimana layaknya seorang ibu yang dikenalkan dengan calon menantunya. Aku kesal dengan tingkah ibu. Tak berapa lama, kekasihku itu meminta putus. Aku mafhum.

Aku kerap merutuki sikap ibu yang begitu dingin. Tidak sekali dua kali aku mendengar orang memperbincangkan kami atau menatap ke arah rumah kami dengan tatapan jijik. Tetapi aku kembali sadar, hanya aku orang terdekat ibu. Dari paman, aku mengetahui tentang kepergian ayah. Kejadiannya berlangsung singkat pada suatu dini hari ketika ada yang mendatangi rumah kami dan membawa ayah bahkan sebelum dia berpakaian lengkap.

Setelah kejadian itu ibuku kerap duduk lama di beranda menunggu ayah pulang. Ibu masih suka mengenakan parfum Diorissimo yang dikirimkan ayah dan menghindari memakai Diorama. Barangkali lewat Diorissimo ibu hendak menghidupkan harapan dan menumbuhkan pucuk-pucuk kebahagiaan dalam dirinya.

Keajaiban akhirnya datang setelah kejadian putusnya aku dengan kekasihku itu berlalu beberapa tahun. Untuk pertama kalinya, ibu mengenakan Diorama. Saat itu aku merasa bahagia, mungkin kali ini ibu menyukai seseorang dan memutuskan untuk menikah lagi setelah tiga puluh tahun hidup sendiri.

Sepulangnya aku dari tempat kerja, makanan sudah terhidang di meja. Ibu memakai pakaian yang cantik. Aku tak pernah melihat ibu memakai pakaian itu, mungkin selama ini ia menyimpannya di lemari atau sengaja mendadak beli. Ibu juga memulas wajahnya dengan bedak serta memoles gincu merah di bibirnya. Dan tentu saja aroma Diorama menguar begitu kuat saat aku berada di dekatnya. Wajahnya begitu berbinar. Wajah yang sudah lama tak aku lihat. Namun, kalimat ibuku menghancurkan hatiku seketika.

Dengan senyum tersungging sambil menyodorkan piring berisi nasi dan mencomot ayam goreng kesukaanku, ibu berkata setengah berbisik, “Ayahmu akhirnya pulang.”

Aku tersentak. Benarkah ayah akhirnya pulang?

“Kenapa nggak bilang dari tadi, Bu?” Aku berteriak sambil memasang wajah kaget.

Ibuku merengut. Sambil menunjuk ke arah kamar dengan dagunya, dia menarik telunjuk ke depan bibir, “Pelankan suaramu, ayahmu sedang beristirahat.”

Aku hendak beranjak untuk membuktikan kalimat ibuku namun tangannya menahanku dan aku kembali duduk. Aku menata pikiran dan hatiku sambil menyantap makanan kesukaanku sekalipun tiba-tiba cerita ibu merenggut selera makanku. Entah kalimat seperti apa yang akan pertama kali meluncur dari bibirku, apakah muntahan sumpah serapah ataukah sebatas pelukan kerinduan. Aku tak pernah mempersiapkan pertemuan ini.

Selesai makan, ibu membereskan meja dan mencuci piring. Aku menyelinap ke ruang depan menuju pintu kamar ibu. Aku mengambil kesempatan untuk membuka pintu kamar saat suara air dan denting piring di westafel dapur terdengar gaduh.

Betapa kagetnya aku saat kulihat kamar ibu kosong. Selimut dan bantal tertata dengan rapi, tak ada tanda-tanda seseorang baru saja tidur di sini. Untuk menuntaskan kepenasaranku, aku mencari ke setiap ruangan dan halaman. Nihil. Aku tak menemukan siapapun. Tak ada jejak keberadaan seseorang.

“Darma!” Suara ibu mengagetanku yang mematung di halaman rumah.

“Ayah tidak ada di kamar, tidak ada di mana pun, Bu.”

Ibuku menarik tanganku dan mengajakku ke arah pintu kamarnya, “Kamu sudah begitu kangen sama ayah ya? Mari kita bangunkan!” Saat pintu terkuak, kami tidak menemukan siapa-siapa di sana.

Aku menatap wajah ibu yang juga begitu kaget saat melihat kamar yang rapi dan tak ada siapa pun di sana. Refleks, ibu melepaskan genggamannya di tanganku. Tetapi ibu bisa langsung menguasai keadaan dan berbalik menatapku dengan tersenyum.

“Mungkin dia keluar sebentar, Nak. Kamu tunggu di ruang tengah saja ya!”

Hingga larut malam, aku terjaga dan masih menunggu. Barangkali ayahku memang benar-benar pulang seperti kata ibu. Di sisi lain aku juga khawatir dengan kondisi ibuku. Aku tiba-tiba teringat obrolan kami dulu.

“Ayahmu begitu suka saat ibu menggunakan Diorama.” Ibuku bercerita suatu hari saat aku bertanya mengapa dia tak pernah mengenakan parfum ketiga setelah dua parfum lain habis. Ternyata dua parfum itu kesukaan ibu sedang Diorama adalah parfum kesukaan ayah saat digunakan ibu.

Apakah itu alasan akhirnya ibu menggunakan Diorama? Bukan karena dia sedang jatuh cinta, tetapi karena dia menyakini kalau ayah sudah pulang. Aku menatap kamar ibuku sambil menunggu barangkali ada suara tangis atau sedu sedan. Tapi sampai dini hari tidak ada yang datang dan tidak ada suara apapun dari kamar ibu. Besoknya ibuku kembali seperti ibu yang sesungguhnya aku kenal. Dia tak lagi memulas kosmetik ataupun memasak sesuatu yang istimewa. Dia kembali menjadi arca di beranda.

Sekali waktu, pada hari ulang tahun ibu, aku pernah menghadiahi Diorissimo. Ibu menerimanya dan menyimpannya dalam lemari tanpa pernah mengenakannya. Padahal aku berharap ibu mau mengenakannya dan memakai pakaian yang baik lalu kami bisa berjalan-jalan serta makan di luar. Ibu tak pernah memenuhi keinginanku. Aku menyimpulkan bahwa ibu benar-benar telah kehilangan harapan dan kebahagiaan.

Dua tahun terakhir, wangi Diorama kerap tercium olehku. Seperti biasa ibu akan berubah drastis. Begitu ceria. Namun, aku tahu itu tak akan berlangsung lama. Sesaat lagi ibu akan tahu bahwa suaminya kembali menghilang. Aku kerap menyarankan ibu untuk pergi ke psikiater. Sudah bisa dipastikan ibu akan menolak. Aku pun enggan memaksa.

Hingga kemarin, kesehatan ibu tiba-tiba memburuk dan harus dirawat di rumah sakit. Saat aku memasuki ruangannya, setelah sebelumnya pulang ke rumah untuk mengambil sebotol parfum dan secarik surat, aku mendapati ibu tengah tertidur. Barulah aku sadar bahwa ibuku sudah menua. Wajahnya mulai keriput sekalipun garis-garis kecantikan masa muda masih terlihat jelas. Napasnya teratur membuat dadanya naik turun. Hatiku basah setiap kali teringat bahwa lebih dari setengah hidupnya dilewatkan untuk meratapi rindu dan bertahan menunggu meski orang yang ditunggunya tak pernah datang.

Aku mengelus tangan ibu. Tak berapa lama ibu membuka mata.

“Mana Dioramaku, Nak?”

Aku menyodorkan sebotol parfum yang baru saja kuambil dari rumah.

“Oleskan di tubuhku, Darma. Cepat! Sebelum ayahmu tiba.”

Aku menahan air mata hingga botol parfum itu bergetar di tanganku, “Ayah tak pernah pulang, Bu. Tak akan pernah pulang,” jawabku dengan tangisan. “terimalah kenyataan ini. Lupakan ayah.”

Aku menelungkupkan wajah pada tangan ibu, tubuhku terguncang. Ibu mengelus kepalaku, lalu ikut menangis.

“Kamu salah, Darma. Ayahmu akan datang. Ayahmu telah berjanji kepada ibu, ” jawab ibuku dengan suara parau dan terbata-bata. Tangisan kami pecah saat itu.

Aku membiarkan ibu mengenakan Diorama setiap hari selama beberapa hari terakhir. Setiap kali dia merasa aromanya memudar, dia mengoleskan Diorama sendiri. Menurut dokter, kondisinya semakin memburuk. Aku pun tak pernah beranjak dari sisinya.

Hingga suatu malam, aku mendengar suara tangisan ibu. Ibuku mengigau. Dia melenguh tertahan, seolah kesakitan. Sesekali malah tertawa dan sesaat kemudian meratap tetapi dengan mata masih terpejam. Semalaman aku duduk menemani ibu hingga terlelap sambil menggenggam tangan kanannya.

Pagi harinya, aku terbangun karena aroma Diorama yang begitu kuat. Ibu masih terpejam dan tubuhnya kaku. Tangan kirinya menggenggam surat dari ayah tiga puluh tahun lalu. Aku melihat botol Diorama tergeletak di samping ibu, tak lagi ditutup dan telah kosong. Aku bergetar, melihat bibir ibu melengkungkan senyum. Apakah kali ini ayah menepati janjinya dan menjemput ibu?

 

Catatan:

* Dikutip dari surat yang dikirimkan oleh Sukarno dari tempat penahanannya di Wisma Yasa, Jakarta kepada istri terakhirnya, Heldy Djafar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *