Surat dari Malaikat

zaenal radar

Zaenal Radar T, Menulis cerpen dan skenario televisi. Belasan bukunya telah terbit baik berupa novel, kumpulan cerpen, dan cerita anak. Bukunya yang baru terbit berjudul Si Markum (Pustaka Alvabet, 2017) berisi cerpen-cerpen yang pernah disiarkan media massa cetak. Aktif juga di Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS). Tinggal di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan. Penulis juga aktif di acara-acara seni dan sastra baik skala lokal atau nasional. Tulisannya bisa dibaca pada Blog: toekangketik.blogspot.com

 

Markum duduk di sebelah istrinya, di kamarnya yang sejuk berpendingin udara. Anak-anak sudah dipastikan molor di kamar masing-masing. Markum dan istri tampak tegang. Tahun-tahun belakangan ini kehidupan Markum dan istrinya memang terasa tidak tenang. Terutama sejak surat tanpa alamat pengirim itu selalu datang ke rumahnya, surat yang berisi nasihat-nasihat kehidupan. Tidak jarang, isinya berupa sindirian-sindiran, seolah-olah ingin mengingatkan agar Markum jadi orang yang eling, sadar diri, dan tidak rakus.

Ada saja yang disampaikan oleh surat-surat itu. Soal kenapa Markum mau begitu saja menerima amplop sogokan dari seorang pengusaha. Bersedia menerima fee dari sebuah proyek. Atau mau menandatangani surat kerjasama yang tidak seharusnya dia setujui, mengingat isinya tidak memberikan maslahat buat kepentingan masyarakat, mengingat Markum seorang wakil rakyat. Surat-surat itu terus berdatangan setiap kali Markum melakukan sesuatu yang dianggap menyimpang oleh si pembuat surat tersebut. Siapakah pengirim surat-surat itu? Sebab si pengirim surat itu tidak bernama. Tidak beralamat. Semua masih menjadi tanda tanya besar. Hal itulah yang membuat Markum selalu resah. Meskipun penghasilan melimpah, ternyata banyak harta tidak membuat dirinya bahagia. Seperti yang pernah dia dengung-dengungkan di hadapan jamaah pengajiannya dulu.

“Banyak harta tidak akan membuat kita bahagia…!!” demikian yang selalu dikatakan Markum saat masih aktif mengisi pengajian. Markum berkata dengan tulus, tanpa pernah berpikir bahwa sebenarnya dia waktu itu belum pernah merasakan bagaimana rasanya hidup dengan harta yang melimpah. Dia mengatakan bahwa banyak harta tidak akan membuat kita bahagia, entah berdasarkan pengalaman siapa. Sebab yang dia rasakan, ketika menjadi ustadz kampung, hidupnya kembang kempis, ia kerap dapat sindiran dari istri dan anak-anaknya, bahwa hidup mereka harus lebih baik lagi karena seorang muslim itu harus kaya supaya ibadah bisa tenang.

“Bagaimana ibadah bisa khusuk, Pak, kalau lagi shalat kita mikirin besok bisa beli beras apa enggak? Besok anak-anak punya ongkos sekolah apa enggak?”

Begitulah keluh kesah istrinya, disaat harta begitu jauh entah dimana. Tapi meski demikian, Markum tetap tersenyum dan menghibur anak-anak dan istrinya, bahwa hidup di dunia itu untuk sementara. Kelak akan ada kehidupan lain yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar dan bertakwa kepada-Nya.

Dan sekarang, saat harta bergelimang, seperti yang dia katakan dalam ceramahnya saat dia jadi ustadz kampung, ternyata memang tidak selalu membawa ketenangan. Kini bisa ia buktikan sendiri!

Empat tahun silam, saat mereka masih tinggal di kamar kontrakan petak-petak, bisa dibilang Markum hidup tenteram nan bersahaja bersama istri dan ketiga anaknya. Meskipun hanya sebagai Ustadz kampung yang penghasilannya tidak pasti, Markum selalu merasa hidup tenang. Kalaupun kadang kekurangan, ya dicukup-cukupi.

Sungguh mujur nasib Markum, ketika diminta menggantikan sahabatnya yang wafat untuk menjadi calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Markum secara mengejutkan terpilih! Karena alasan kesibukan, mengajar mengaji anak-anak di surau dia tinggalkan. Untuk sementara tugasnya sebagai penceramah ibu-ibu majlis taklim dia copot dulu. Toh itu semua tidak menghilangkan predikatnya sebagai seorang Ustadz.

Secara ekonomi Markum dan keluarga naik derajatnya. Tinggal di rumah dinas, disediakan fasilitas ini itu, dan gaji yang lumayan besar untuk ukuran keluarganya yang sebelumnya hidup kembang kempis. Kehidupan Markum dan keluarga benar-benar berubah drastis. Anak dan istri Markum kemana-mana diantar kendaraan pribadi. Listrik rumah kontrakan yang biasa suka byar-pet gara-gara nunggak kini ditanggung pemerintah. Menelpon tinggal bicara saja, tanpa harus memikirkan biayanya. Ibaratnya, nelpon itu kayak kita lagi kepingin ngomong begitu saja. Apalagi soal pendapatan, gaji bulan lalu belum habis, sudah gajian lagi. Rezeki diibaratkan kayak rambut, sudah dipotong eh, tumbuh lagi.

Tapi belakangan ini, sejak sebulan lalu, surat tanpa alamat pengirim selalu mampir ke rumahnya. Tadinya Markum enggan membuka surat-surat kaleng itu. Buat apa membaca surat-surat yang sumbernya tidak jelas. Tidak ada nama dan alamat pengirimnya. Tapi setiap kali sendirian dan merenung, Markum selalu saja memikirkan isi surat-surat itu. Seperti surat yang baru dibacanya siang ini, surat itu berbunyi agar Markum lebih mawas diri. Jangan mau menerima hadiah begitu saja dari para kolega. Hal itulah yang menjadi pembicaraan Markum dan istrinya, menjelang tidur.

“Surat itu kan tidak jelas, Pak. Jadi buat apa dipikirin?”

“Tapi apa yang tertulis di surat-surat itu benar, Bu. Kok, surat itu selalu tahu apa yang sudah bapak kerjakan.”

“Mungkin kebetulan saja, Pak.”

“Tidak mungkin, Bu. Tidak mungkin selalu ada kebetulan yang berulang-ulang. Seperti minggu ini bapak mendapat komisi karena perizinan pembangunan sebuah pabrik. Lalu surat itu berisi sindiran…. Surat itu bilang, bapak ini kan seorang Ustadz. Masak, sih, mau menerima uang komisi.”

“Ya sudah, Pak. Jawab saja surat itu. Bilang kalau bapak itu ndak korupsi.”

“Mau jawab ke mana, Bu? Alamatnya saja ndak jelas…”

“Terus gimana dong, Pak?”

“Aku juga bingung, Bu.”

Malam itu Markum tidak nyenyak tidur. Sebentar-sebentar dia bangun. Markum ingat akan setiap isi surat aneh itu, surat tanpa alamat pengirim. Ternyata bukan cuma Markum yang resah, istrinya juga belum tidur karena diam-diam dia gelisah.

“Sudahlah Pak, besok kan ada rapat paripurna. Nanti kamu ngantuk. Kalau tidur di rumah sih ndak apa-apa. Tapi kalau tidur di tempat sidang, terus muka kamu kesorot kamera, nanti nama kamu bisa cemar. Rakyat bisa-bisanya gak milih Bapak lagi di pemilu berikutnya.”

“Aku mau tidur, Bu. Tapi mata rasanya kering. Lah, kamu sendiri kok belum tidur?”

Wong aku juga gak bisa tidur, Pak. Aku sudah menghitung sampai seribu kali supaya bisa tidur, tapi mata tetap melotot!”

“Ya jangan berhitung, Bu. Tapi berzikir. Berdoa. Baca ayat apa, kek?”

Istri Markum terdiam, lalu menarik selimut dan membalikkan badan.

***

Markum izin untuk tidak datang ke gedung DPR, meskipun agendanya rapat paripurna. Dia tidak mau menitip absen tandatangan. Tidak izin kepada ketua fraksi. Bisa saja Markum nitip absen. Tapi dia tak ingin kejadian minggu lalu terulang. Sebab saat dia menitip absen, sebuah surat datang dan isinya menyindir perbuatan Markum yang telah meminta bantuan rekannya untuk minta bantuan absen kehadiran. Penutup surat itu berbunyi, sekecil-kecilnya kebohongan akan dicatat. Walau seberat biji zarah.

Markum jelas kaget membaca surat tersebut. Dia sempat berpikir, apa mungkin rekannya sendiri yang mengirimkan surat itu kepadanya.

“Aku enggak mungkin melakukan itu, Kum. Buat apa? Kan selama ini aku juga suka nitip absen sama kamu. Mana suratnya?”

“Sudah aku bakar. Lupakan saja kalau begitu.”

Markum memang mengatakan kepada rekannya untuk melupakan saja soal surat itu. Namun yang terjadi, sebenarnya dia justru sedang konsentrasi mengurusi soal surat-surat itu. Dan dia absen rapat karena ingin menyelidiki langsung asal muasal datangnya surat. Seharian penuh dia duduk-duduk di dalam kamar, tepatnya di depan jendela. Pandangannya tidak lepas dari sebuah kotak pos di depan pagar rumah. Kalau dia ingin kencing atau kepingin makan, Markum meminta istrinya yang menggantikan posisinya. Istrinya pun tidak protes, karena semua ini memang ide istrinya semalam.

Markum memang sering menuruti ide-ide istrinya. Bukan kali ini saja, bahkan jauh sebelum dia jadi Ustdadz di kampung. Soal ide menggantikan sahabatnya yang mencalonkan diri jadi anggota dewan itu, pun ide istrinya. Markum tidak pernah niat untuk melakukannya, bahkan tidak terpikir sama sekali sebelumnya. Termasuk saat membeli tiga buah mobil baru dengan merk berbeda, pun sebenarnya atas ide istrinya juga. Masak rekan-rekannya punya mobil lima, Markum cuma punya satu mobil. Apalagi itu mobil dinas? Nanti kalau dinas sudah selesai, mobil harus dikembalikan kepada pemerintah.

Sudah seharian menunggui kotak pos, tak ada seseorang yang mengantarkan surat. Markum dan istrinya bergantian bolak-balik membuka kotak pos, tetapi tak ada surat yang datang. Anak-anaknya heran, kenapa bapak dan ibu mereka suka sekali membuka kotak surat?

“Ini bukan urusan kalian. Bapak kalian sedang tidak enak badan, dan dia sedang menunggu surat!” ujar istrinya, kepada tiga anak-anaknya yang sedang kebingungan.

“Surat dari siapa, Bu?”

Istrinya Markum terkejut mendengar pertanyaan salah satu anaknya. Bibirnya gemetaran, tapi dia berusaha menenangkan dirinya, dan tersenyum menatap si anak yang bertanya. Istrinya Markum bingung harus menjawab surat dari siapa. Sebab dia sendiri bingung siapa yang selalu mengirimkan surat-surat itu.

“Oh, aku tahu Bu. Itu surat yang enggak pernah ada alamat pengirimnya, kan?” anak yang lainnya ikut bicara. Istrinya Markum masih terdiam.

“Jangan-jangan… itu surat dari malaikat, Bu…” jawab anaknya terkecil. Lalu semua anak-anaknya tertawa, meninggalkan ibunya sendirian sambil mengulang-ulang perkataan anak bungsunya, bahwa surat yang sedang ditunggunya itu surat dari malaikat.

***

“Kamu percaya sama anak-anak? Mereka itu melantur, Pak…”

“Kalau bukan malaikat, siapa bu?”

“Pasti ada orang iseng!”

“Tidak mungkin bu. Kamu tahu, kan, surat terakhir yang aku terima. Surat itu mengatakan bahwa aku tak usah menandatangani proyek. Dan aku beruntung, karena teman-teman yang tanda tangan semuanya masuk bui!”

“Iya, Pak, aku ingat.”

“Surat sebelumnya juga. Surat itu mengatakan kalau aku sebaiknya tidak mau menerima uang satu kardus dari salah seorang pengusaha di parkiran hotel itu! Aku menuruti surat itu, dan rekanku yang menerimanya sekarang menunggu pengadilan!!”

“Iya, Pak. Tapi sudah lama bapak tidak menerima surat itu. Kenapa, ya?”

Markum terdiam. Istrinya menunggu jawaban.

“Kamu tahu kenapa…?”

Istri Markum menggeleng.

“Karena itu surat dari malaikat, dan itu surat teguran. Untuk apa malaikat menegurku, kalau sekarang ini aku bekerja lurus-lurus saja…”

“Tapi Pak, kamu sekarang dijauhkan teman-teman.”

“Biar saja. Yang penting sekarang surat-surat itu sudah tak datang lagi.”

Sejak saat itu, Markum benar-benar sudah tak lagi menerima surat kaleng, surat tanpa alamat pengirim, yang disebutnya sebagai surat dari malaikat. Dan surat-surat yang dia simpan di dalam laci meja kerjanya, saat ingin dia buka kembali ketika masa kerjanya sebagai anggota dewan selesai, sudah tak bisa lagi dia temukan. Entahlah. Surat-surat itu seperti menghilang ditelan bumi.***

*) Tangerang Selatan, 2013-2017

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *