CERPEN 

OMBAK BERDANSA DI LIQUISA

Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda ———————————————————————————– Ombak berdansa Liquisa. Deburnya menari dalam gemuruh hujan yang mengguyur pepohonan di sepanjang pesisir. Dan, dalam cuaca dingin malam Minggu berkabut, di dalam sebuah gedung sederhana di tepi pantai, orang-orang berdansa dalam hentakan musik disko. “Ayo! Kalau tidak berdansa kau belum ke Liquisa,” seorang lelaki berkata sambil menarik tangan perempuan yang duduk di depan bar. Perempuan itu bergeming di tempat duduknya. Ia menggeleng di keremangan. Lelaki itu melotot. Matanya menyala dalam remang cahaya lampu. Rambutnya yang berombak seperti berdirian tiba-tiba. Perempuan yang dipanggil Armila itu…

Read More
CERPEN 

SESEORANG DAN LANGKAH MISTERIUS ITU

Cerpen Lintang Alit Wetan ———————————————————————————-     Terdengar suara amat keras di suatu malam. Bum! Buk! Berkali-kali. Tanah bergetar hebat, hingga getarannya terasa sekali di sebuah rumah paling mewah dengan desain arsitektur loji minimalis, yang terletak di kampungku Dalang Jamid. Tidak ada desir angin bertiup, ketika mendadak seperti suara orang melangkah kedengaran lagi. Kali ini lebih keras. Jelas. Ya, mirip langkah kaki orang memakai sepatu bot. “Gedebak…Gedebug…Gedebug…Gedebug!” berulang-ulang. Seperti jejakan kaki raksasa yang melangkah berirama.

Read More
CERPEN 

Jidat Sang Ustad

    Cerpen Indah Noviariesta —————————————————————————————– Siapa yang tak kenal Ustad Badru Munawar yang disebut-sebut sebagai “Ustad Jenong”. Dialah seorang ustad dan penceramah yang jidatnya menonjol ke depan sekitar tiga hingga lima sentimeter. Di desa Karang Asem, tiapkali menyampaikan ceramah agama, ia begitu digemari para jamaahnya. Ketika ia mendapat giliran ceramah di malam Selasa, tak urung ratusan jamaah dari para ibu, bapak hingga anak-anak dan remaja, berkumpul dengan penuh antusias mendengarkan petuah-petuah beliau.

Read More
CERPEN 

N G A B E N

  Cerpen Joko Rabsodi ——————————————————————————————-   Koran-koran menulis tentang kematian Bibiku. Banyak tokoh berkomentar bahwa bangsa ini telah kehilangan salah satu anaknya yang terbaik. Seorang pejuang kemanusiaan telah pergi! Bangsa ini berduka. Televisi pun tak kalah haru birunya, mulai berlomba menayangkan kisah sang anak bangsa. Bahkan pemerintah mengumumkan pengibaran bendera setengah tiang. Penghormatan diberikan karena anak bangsa ini telah mengharumkan nama bangsa. Tercatat, di masa bangsa disorot sebagai bangsa yang kurang menghargai hak asasi manusia, telah tampil seorang perempuan yang setiap kata dan tindakannya menggetarkan hati. Membuat bangsa ini sanggup…

Read More
CERPEN 

Wanita Tercantik

  Cerpen Supadilah Iskandar ———————————————————————————–   Suatu hari di musim hujan, persisnya pada minggu-minggu pertama bulan Februari, saya pernah berpapasan dengan seorang perempuan tercantik yang selama ini saya idam-idamkan. Mungkin sebagian orang berpendapat bahwa ini adalah penilaian saya pribadi, karena setiap orang punya seleranya sendiri-sendiri. Mungkin juga ada orang berpendapat bahwa kecantikannya biasa-biasa saja, tidak begitu spesial. Potongan rambutnya biasa saja, seakan dibiarkan tergerai dan disisir sekadarnya. Usianya juga sudah agak lanjut, mungkin di atas 30-an. Karena itu, sepantasnya dia dipanggil ‘Ibu’, paling tidak ‘Mbak’, jadi sudah kurang pas jika…

Read More
CERPEN 

Kenangan Bersama Haris

Irawaty Nusa, penulis cerpen dan kritik sastra yang disiarkan di berbagai harian nasional dan media daring, di antaranya Kabar Madura, Kabar Banten, Tangsel Pos, Satelit News, nusantaranews.co, klipingsastra.com,  kawaca.com, Jurnal Toddoppuli, Ahmad Tohari’s Web, dan lain-lain.   Setiap tiga bulan sekali, sebagaimana lazimnya seorang anak berpendidikan tinggi, saya mengunjungi kedua orang tua yang tinggal di sebuah apartemen di wilayah Jakarta Timur. Meskipun jarak antara Anyer dan Jakarta mencapai ratusan kilometer, sebagai anak perempuan satu-satunya yang memiliki rasa tanggung jawab, saya berusaha menyempatkan diri untuk selalu berjumpa dengan mereka, dalam keadaan…

Read More
CERPEN 

Pikun

Muhamad Muckhlisin, cerpenis dan esais sastra, tinggal di daerah Bogor, Jawa Barat, pemenang pertama lomba cerpen nasional 2017 Istri Syamsul, Juleka betul-betul naik pitam. Ia mengusir suaminya sepulang dari gardu ronda di perempatan Kampung Jombang. Ia berjalan sempoyongan sambil memaki-maki istrinya, anak perempuan satu-satunya, bahkan memaki-maki seluruh perempuan di permukaan bumi ini. Baginya, perempuan itu makhluk aneh atau makhluk jadi-jadian yang terbuat dari tulang rusuk. Lalu, ia berkata seenaknya bahwa istrinya terbuat dari tulang rusuk anjing.

Read More
CERPEN 

Farhat dan Kucing Kesayangannya

Muhamad Pauji, cerpenis dan kritikus sastra kontemporer Indonesia, aktivis organisasi pemuda OI (Orang Indonesia). Artikel dan cerpennya bisa dijumpai di berbagai media massa lokal, nasional, dan media online.   Sejak kecil Farhat dikenal santun dan memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Sifatnya yang polos dan lugu seringkali menjadi bahan guyonan teman-teman di sekolahnya. Ia sangat menyukai hewan, dan kedua orangtuanya memanjakannya dengan mengizinkan memelihara beberapa binatang. Bersama mereka ia banyak menghabiskan waktunya. Tak ada kebahagiaan hidup yang lebih nikmat ketimbang saat-saat ia memberi makan dan bersenang-senang bersama binatang peliharaannya.

Read More