CERPEN 

LELAKI YANG KEHILANGAN CAHAYA

Cerpen: Ilham Nuryadi Akbar ____________________________________________________________________

 

Tangannya terus meraba-raba, mencari dinding dengan langkah yang beringsut, bahkan tak sedikit pun cahaya sampai pada lensa matanya, seisi rumahnya menggelebat warna hitam seperti pantat wajan sehabis dipakai acara pesta pora pernikahan. Seluruh anatomi tubuhnya tak mendapati pegangan, terkecuali kakinya yang beralaskan ubin dingin, ia pun mengubah haluan dari berdiri menjadi merangkak, yang ia perlukan saat ini hanyalah meraih gagang pintu untuk dapat keluar rumah.

Sangat jarang malam-malam begini mati lampu, ujar batinnya.

Akhirnya tersentuh, gagang pintu yang sedari tadi ia cari, namun setelah ia membukanya, halaman depan rumah yang biasanya terang oleh lampu motor dan mobil lalu-lalang tak dapat terlihat oleh kedua matanya, hanya suara saja yang sampai pada gendang telinga. Rasa bingung pun menjadi beban pada tubuhnya yang masih merangkak. Sebab, hanya suara saja yang dapat ia dengar, tanpa adanya wujud yang dapat ia lihat. Sedang dari jauh terdengar lamat-lamat suara penjual sayur yang juga tetangganya.

“Terong… kangkung…”

Ia begitu mengenali suara itu, penjual sayur dengan rumah kecil beralaskan dipan dan suka meminjam duit, bahkan seluruh cerita yang menjadi aib penjual sayur itu tidaklah sedikit ia ketahui.

Cerita hidupnya adalah bahan tertawaan saat ia sedang duduk bersama tetangga yang sama-sama berkecukupan seperti dirinya. Padahal, baru satu kali si penjual sayur itu meminjam duit, hal itu ia lakukan untuk memperbaiki gerobak sayurnya yang selalu berderit.

“Sayurnya, Pak?” tanya penjual miskin itu.

Suara itu berada persis di depan pagar rumahnya, tapi tetap saja ia tak dapat melihat wajah dan pakaian lusuh yang penjual sayur itu pakai. Ia sedikit kesal, sebab esok hari ia telah berjanji dengan teman-temannya untuk menentukan siapa yang memenangkan taruhan atas baju yang penjual sayur itu kenakan.

Dengan jemawa ia telah bertaruh bahwa penjual sayur itu akan memakai baju lusuh dengan warna merah yang telah dikenakan pada dua hari yang lalu. Sayangnya, ia harus menunda taruhan itu, tersebab matanya belum dapat melihat. Mengerikannya lagi, ia mulai menyadari, bahwa ini bukanlah malam, melainkan pukul 16.00 sore, itu adalah jadwal sang penjual sayur melewati rumahnya.

Tapi mengapa pada sore hari tak ada semburat matahari, batinnya terus bertengkar dengan logika, sedang penjual sayur melanjutkan teriakannya sembari mendorong gerobak kecil.

Mungkinkah kedua mata ini telah buta, atau ada sesuatu yang salah pada sarapan pagi tadi? Lagi-lagi ia berbicara dengan dirinya sendiri, tapi mana mungkin ia menerima jawaban dari kesendirian di tengah gelap gulita.

Tak berselang lama, ia mendengar suara motor besar Harley Davidson, semakin lama semakin jelas ia dengar. Itu adalah suara motor salah satu temannya yang paling ia benci, bahkan dengan sangat.

Seseorang yang jauh lebih kaya dari dirinya, ia tak pernah lupa, bagaimana pengendara motor besar itu telah mempermalukannya hingga harga dirinya jatuh di depan teman-teman pengusaha yang bergelimang harta.

Baginya, itu adalah hal yang paling memalukan, sebab cerita tentang dirinya saat tertipu oleh penjual berlian palsu dengan sengaja diceritakan pada saat pesta perkumpulan seluruh pengusaha kaya, sehingga seluruh pengusaha bergelimang harta yang hadir pada acara itu, puas menertawakannya.

Tapi kali ini matanya dapat melihat dengan jelas, bahwa pengendara motor besar itu telah berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Mendongakkan kepala dan memanggil namanya lebih dari tiga kali, hal ini membuatnya semakin menjadi heran, kenapa dirinya yang sedang merangkak tak dapat dilihat.

Apa aku telah mati?

Sebelumnya hanya si penjual sayur yang tak dapat ia lihat, sekarang sang kaya raya yang tak dapat melihatnya, merasa rumah yang dikunjungi kosong, pengendara motor besar itu melemparkan surat undangan yang berwarna keemasaan, bermaksud supaya undangan itu dapat dibaca nanti.

Undangan berwarna emas itu juga dengan jelas dapat ia lihat, ia pun memberanikan diri untuk mengambilnya, menjadikan undangan berwarna emas sebagai poros bagi mata, tanpa perlu melihat ke kanan dan kiri. Hingga akhirnya undangan itu berhasil ia dapati. Setelah membaca dan mengetahui isi di dalamnya, ia menjadikan undangan itu seperti semprong yang dibakar pada rumah tua, cahaya itu berguna sebagai penunjuk jalan, demi dirinya dapat kembali pada teras rumah, namun baru beberapa langkah, di belakangnya terdengar suara pedagang lain.

“Beli… beli.”

Mendengar suara itu, langkahnya terhenti, tangan kanan yang memegang undangan bercahaya itu diputarnya menjadi 180 derajat untuk sekadar memastikan. Pedagang apalagi yang muncul.

Ternyata itu adalah penjual buku yang berjalan kaki, penjual itu menawarkan beberapa buku dari tas samping berukuran besar yang berada di pundak, ia belum pernah melihat penjual buku ini, sama sekali tidak pernah. Mata penjual buku pun melihat lurus dirinya yang masih berdiri.

“Bapak, dapat melihat saya?” Entah mengapa pertanyaan bodoh itu muncul, mungkin karena rasa takut akan buta telah menggerogoti dirinya.

“Maksudnya? Bapak mau beli?” Penjual buku menghiraukan pertanyaan bodoh itu dan kembali menawarkan dagangannya.

Mendengar hal itu, ketakutan akan mata buta seketika saja menjadi luruh. Bibirnya mulai menunjukkan senyum yang sedikit sinis, dengan rasa penasaran yang tumbuh semakin rindang pada tubuhnya, ia pun mendekati penjual buku itu.

“Jual buku apa? kali ini saya lagi berbaik hati, saya mau beli satu buku.” Padahal, ucapan dari bibirnya tidak sejalan dengan hati. Ia tak berniat untuk membeli buku itu.

Penjual buku memberikan salah satu bukunya dari ruas-ruas pagar besi, ia pun gegas mengambilnya, sebenarnya ia hanya ingin memegang buku itu untuk memastikan saja, apakah selain tulisan pada undangan berwarna emas itu, matanya masih dapat membaca tulisan yang lain. Namun hanya dua puluh detik saja buku itu di ia pegang, lututnya jadi bergetar bak anak kambing yang baru saja lahir, buku yang ia pegang pun jatuh dari tangannya, dan penjual buku itu marah.

“Mengapa bukunya dijatuhkan, Pak, beberapa halaman buku ini terdapat ayat suci Al-Qur’an, dan penulisnya juga seorang kiai yang namanya begitu masyhur, kalau Bapak tidak mau beli, bilang saja dari awal!” Penjual buku itu pergi meninggalkan dengan mulut yang tak berhenti menggerutu.

Sedang dirinya yang masih bergetar malah menangis tersedu-sedu. Dalam tangis itu, ia menderu masa lalu, mengingat seluruh biadab yang dahulu dengan sadar ia lakukan. Tentang cerita si penjual sayur yang selalu ia lebih-lebihkan, juga aib yang seharusnya ia rahasiakan. Seketika saja permintaan air mata membeludak, tangisnya tumpah membasahi lantai berdebu.

Hilangnya cahaya kebaikan, lantaran semua orang mengetahui aib dan kisahku.

Ia terus saja menangis, mengingat akan dirinya yang dahulu puas mempermalukan si penjual sayur yang miskin, sampai si penjual sayur tak berani melewati tempat di mana ia dan teman-temannya berkumpul untuk tertawa dan bertaruh.

Hilangnya cahaya kebaikan, lantaran semua orang mengetahui aib dan kisahku.

Tangisnya semakin hebat, bahkan melebihi seorang bayi yang haus meminta air susu ibunya, ia pun kembali mengingat dirinya yang dulu pernah dipermalukan oleh si pengendara motor di depan khalayak ramai saudagar kaya raya. Saat itu, seluruh dosa yang dahulu pernah ia lakukan seperti diputar bagaikan Vinyl Record.

Tak ada suara yang lebih merdu selain tangisannya. Air mata deras menitik, begitu sempurnanya tangisan dari seseorang yang mengenang kesalahan.
Hilangnya cahaya kebaikan, lantaran semua orang mengetahui aib dan kisahku.

Begitulah judul buku yang tadi ia baca, hingga ia menyadari, bahwa tak ada cahaya dalam diri seseorang, tatkala seseorang itu telah dipermalukan dengan sehabis-habisnya.***

 

Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari 1995 di Banda Aceh. Terpilih sebagai juara 2 pada Festival Penulis Cerpen dan Puisi Nasional. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku, puisi dan cerpen telah banyak terangkum pada beberapa Media Lokal dan Nasional seperti: Kumparan.co, Koran radar Banyuwangi, ide-ide.id, Bali Politika, barisan.co, negeri kertas, dll.
Emaill : ilhamfellow@gmail.com
Instagram : @ilhamfellow

 

 

 

Related posts

Leave a Comment

nineteen + fourteen =