PERCIKAN 

Surat dan Roman tentang Perempuan

Setiap manusia memiliki sejarahnya sendiri-sendiri. Manusia bahkan bisa menjadi pencipta sejarah atau hanya sekedar menjadi bagian dari suatu sejarah. Peran yang diambil dan dimainkan manusia pada suatu periode tertentu dalam kehidupannya akan menjadi penentu posisinya dalam pentas dan panggung sejarah yang akan dikenang sepanjang masa oleh generasi berikutnya.

Sejarah tak bisa berbohong tentang kisah, cerita atau peran manusia dalam kehidupan mereka. Meski bisa saja terjadi manipulasi dan distorsi dalam suatu sejarah, tetapi suatu ketika kebenaran akan terbuka. Mereka yang akan ditulis oleh sejarah adalah mereka yang memiliki prestasi kemanusiaan, Demikian kata Nurcholis Madjid (1939-2005) suatu ketika.

Prestasi kemanusiaan itu bisa mengejawantah dalam banyak aspek pada kehidupan manusia sesuai minat, peran dan posisi manusia berdasarkan fungsi pribadi dan sosial yang diembannya. Tentu prestasi kemanusiaan itu tidak hanya sekedar diraih begitu saja melainkan ada usaha, keseriusan, dedikasi, dan perjuangan yang maksimal.

Suatu yang bisa dijadikan parameter untuk prestasi kemanusian adalah karya. Karya yang diciptakan dan dihasilkan seseorang setidaknya akan menjadi suatu prestasi yang bisa jadi akan ditulis oleh sejarah. Karya tersebut bisa berupa banyak hal misalnya berupa penemuan atau discovery, jasa atau perbuatan sosial yang heroik, atau mungkin sumbangan dalam bentuk material yang terwujud pada bentuk fisik yang bisa menjadi penanda bagi orang lain.

Karya yang abadi adalah karya yang bisa dibaca oleh banyak orang. Untuk menghasilkan karya semacam itu maka menulis adalah menjadi suatu keharusan. Manusia pasti menulis dalam hidupnya. Tulisan manusia bisa saja hanya berbentuk sebuah catatan harian, puisi, esai, atau sekedar surat untuk pacar, orang tua dan sahabat. Tulisan-tulisan tersebut akan menjadi catatan bagi sesorang jika didokumentasikan dengan baik. Sebut saja hari ini bangsa Indonesia mampu membaca dan memahami pemikiran R.A Kartini (1879-1904) yang ditulis lebih dari satu abad lalu berdasarkan dari surat-surat beliau yang terdokumentasikan dan menjadi catatan sejarah yang akan dibaca dan dikenang dalam rentang waktu yang mungkin tak akan terbatas. Bahkan surat-surat R.A Kartini tersebut tidak sekedar menjadi catatan sejarah semata tetapi menjadi inspirasi besar bagi kesadaran suatu bangsa yang memicu kebangkitan dan pergerakan kaum perempuan bangsa kita.

Ya, Kartini memulai segala keresahannya dengan menulis surat-surat yang ia kirimkan pada teman-temannya di Eropa. Kartini sadar sepenuhnya banyak kaum perempuan pribumi masa itu hidup dalam kungkungan. Pendidikan adalah barang yang mustahil bagi perempuan. Maka bagaimana mereka bisa membaca dan menulis sementara hidup mereka hanya melayani kaum pria di rumah tanpa suara mereka didengar oleh ayah, suami atau bahkan saudara lelaki. Memang sejak awal tahun 1900an, Pemerintah Belanda telah mendirikan sekolah-sekolah baik untuk para priyayi maupun rakyat jelata sebagai program pemberlakuan politik etisnya. Tetaplah sekolah itu hanya untuk para lelaki.

Setidaknya Kartini telah menulis kurang lebih 90 surat dengan pelbagai macam topik yang menjadi keresahannya. Kartini berbicara konsep keningratan bahwa baginya keningratan hanya ada dua, keningratan fikiran dan keningratan budi yang tentu itu menohok banyak kaum Ningrat. Kartini juga menulis surat yang berisi tentang pendidikan untuk perempuan, agama dan budaya juga tentang ketidakadilan hukum.

Jika saja saat itu Kartini tidak menulis surat, mungkin pandangan dan pemikirannya tidak sampai kepada kita hari ini. Ya, pemikiran Kartini mungkin akan menguap dan lenyap tanpa bekas. Sejarah sendiri mencatat jika Mr. Jacques Henrij Abendanon (1852-1925) yang adalah Mentri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda (1900-1905) yang mengumpulkan surat-surat Kartini lalu menerbitkannya dalam sebuah buku baru tahun 1911, tujuh tahun setelah kematian Kartini.

Surat-surat Kartini begitu indah, memiliki kualitas sastra yang tinggi. Armijn Pane (1908-1970) menerjemahkan buku H.J Abendanon tersebut dari Bahasa Belanda kedalam Bahasa Indonesia. Menurut Pane, buku tentang surat-surat Kartini tersebut adalah roman tentang perempuan Indonesia.

Menulis adalah suatu hal yang mudah dan bisa dilakukan siapa saja, tapi menulis dengan nurani dan tanggungjawab bisa menjadi suatu hal yang cukup susah.

Menulislah dengan indah dan penuh perasaan, dan tulisan itu akan menjadi catatan kehidupan yang menghias di taman kalbu semua insan. Tulisan itu akan menjadi seperti air pancuran di taman yang membasuh segala keresahan. Menulislah tanpa henti, dan kau akan tersenyum seperti Kartini yang tak pernah mati.

Related posts

Leave a Comment