Derrida pun Mengerutkan Dahinya

Jacques-Derrida-Paris-12-de-se_54215948225_53389389549_600_396-1

Oleh Mahrus Prihany, cerpenis, ketua divisi kaderisasi dan organisasi KSI Pusat

 

Jacques Derrida (1930-2004) mungkin termasuk salah satu filsuf Prancis yang banyak diperdebatkan meski tak bisa dipungkiri pemikirannya cukup berpengaruh dalam perkembangan teks modern. Banyak yang menyebutkan bahwa pemikiran Derrida sesungguhnya cocok diterapkan untuk filsafat, bukan pada teks sastra meski pada kenyataannya kini kita bisa membaca karya sastra dengan perspektif Derrida.

Satu hal yang melekat pada Derrida bahkan telah menjadi ciri asli Derrida adalah tentang Dekonstruksi, meski dekonstruksi adalah hal yang masih dipertanyakan apakah itu sebuah metode atau teori. Terlepas apapun segala kerumitan dan perdebatan tentang dekonstruksi, kita bisa membuat suatu pemahaman yang sederhana bahwa dekonstruksi memiliki arti membongkar.

Dekonstruksi atau pembongkaran atas tulisan, teks, atau karya sastra hanyalah salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengerti dan memahami suatu teks. Anda tentu saja boleh setuju atau tidak atau bisa mengatakan bahwa dekonstruksi tidak lagi relevan sebagai instrument untuk membongkar. Tak ada cara yang sempurna, tapi pada saat tertentu kita tahu dengan cara apa kita bisa membaca sesuatu. Kita tetap membutuhkan suatu alat saat ingin membaca apalagi membongkar.

Posisi dekonstruksi sendiri berada pada dua kutub besar, antara Strukturalisme dan post-strukturalisme. Bagaimanapun juga titik berangkat Dekonstuksi adalah penerimaan Derrida atas gagasan Ferdinand de Saussure (1857-1913) sebagai peletak dasar Strukturalisme. Derrida menerima bahwa arti dalam bahasa bergantung pada interaksi dan diferensiasi dari unit-unit yang terlibat, tetapi Derrida menolak dalil jika nilai semantik kata dapat ditentukan dalam hubungannya dengan perbedaan yang membentuk konteks semantiknya.

Derrida dengan pembongkarannya memperkenalkan differance, kata kunci ini pun sesungguhnya memiliki makna ganda. Pertama, kata ini berasal dari kata kerja differ yang artinya berbeda. Teks terbangun karena adanya perbedaan, perbedaan itu bisa lahir karena adanya oposisi biner. Perbedaan yang muncul pada istilah-istilah tersebut tidak fixed atau pasti atau tidak stabil. Maka setiap teks tidak mutlak langsung bisa dipahami begitu saja. To defer adalah menunda atau menangguhkan, maka setiap teks harus ditunda atau ditangguhkan terlebih dahulu untuk memahami makna sesungguhnya teks tersebut.

Derrida, dengan dekonstruksinya lalu membongkar banyak teks filsafat karya Rosseu, Hegel, Marx dan Nietzche. Derrida menjadi komentator besar akan karya;karya yang telah mapan dan telah menjadi taken for granted. Derrida juga melacak dan membongkar karya-karya sastra semacam William shakespeare, Mallarme dan masih banyak lagi.

Keseriusan Derrida dalam membaca karya-karya besar kemudian banyak mempengaruhi para pemikir yang sezaman dan yang muncul setelahnya. Kita juga tak bisa mengabaikan dalam wilayah kritik sastra, banyak kritikus yang menggunakan dekonstruksi Derrida ini.

Apa yang dibaca dan dibongkar Derrida dan siapa saja yang mengikuti Derrida, mereka telah memberi satu sumbangsih besar. Soal cara dan bagaimana kita membaca dan membongkar sesuatu sesungguhnya memang akan bergantung banyak aspek, tetapi bagaimanapun juga dekontruksi masihlah merupakan hal menarik untuk kita gunakan saat membaca.

Teks, dalam hal ini karya sastra baik berupa puisi, cerpen dan novel akan selalu lahir bahkan beranak pinak dengan dahsyat. Kelahiran karya-karya tersebut tidak sebanding dengan mereka yang mencoba membaca dan menelaahnya. Dalam bahasa sederhana, kelahiran karya sastra bergerak jauh lebih cepat dibanding kritikus sastra. Kritikus sastra yang muncul pun mengalami banyak tantangan dan tentu saja seorang kritikus lebih dianggap sebagai lawan yang harus dibunuh karena kemunculannya dianggap menghambat kreatifitas dan kebebasan berkarya. Begitu juga sebaliknya, terkadang kritikus juga tidak memiliki metode yang tepat untuk menelaah dan membaca sehingga akurasi dan objektifitasnya menjadi bias.

Cobalah perhatikan perkembangan karya sastra negri kita, betapa terjadi sangat pesat. Rasanya tak sulit untuk dianggap menjadi sastrawan, baik itu penyair, cerpenis, novelis, hal yang agak susah mungkin untuk mendapat predikat dramawan. Perkembangan ini tentu saja sesungguhnya hal yang sangat menggembirakan. Kita boleh bangga dengan kehadiran para sastrawan negri ini. Tetapi tentu kita juga perlu merenungkan dan memberi kesempatan dan ruang bagi mereka yang ingin memberi apresiasi atas karya-karya tersebut.

Tanpa adanya apresiasi dan kritik tentulah perkembangan karya-karya tersebut baik puisi, cerpen dan novel akan menjadi susah untuk diukur perkembangan kualitasnya secara estetis. Kritik bukanlah penghakiman, tetapi harus mampu membawa aroma wangi untuk peningkatan dan pembelajaran. Secara otomatis, tanpa adanya kritik, akan sangat sedikit dari begitu banyak karya sastra tersebut mendapat tempat yang layak dan semestinya sebagai suatu bacaan yang benar-benar memberi pengaruh pada orang banyak.

Kembali kepada Derrida dan dekonstruksinya, mungkin orang banyak akan mengalami kesusahan saat membaca karya-karya tersebut. Kesusahan tersebut bukan terletak pada betapa indah dan estetisnya karya-karya tersebut, tetapi pada kerumitan sang penulis sendiri dalam menulis karya tersebut yang telah jauh berlari dan memutar-mutar tak jelas dan bahkan mondar-mandir dalam gagasan yang abstrak. Dengan kata lain, sebagian besar, karya sastra hanya berupa sekumpulan kata yang berada dalam suatu permainan kata yang tanpa aturan. Dan Derrida akan mengerutkan dahinya ketika membaca karya-karya tersebut. Apa yang harus ditunda, apa yang menjadi berbeda, atau apa yang harus dibongkar. Bukan Derrida dan dekonstruksinya tak mampu. Ia dan dekonstruksinya tentu bisa, tetapi mungkin sebagian besar para sastrawan itu tak mau tahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *