Membaca Pesan yang Hilang Dalam Puisi

3b67f1_9262bd411d1b4688a5a644097242a9f2

Oleh Mahrus Prihany, ketua divisi kaderisasi dan organisasi KSI Pusat

 

Ada banyak pendapat dan definisi tentang puisi. Puisi menjadi sesuatu yang memang tak lagi seragam. Itu adalah sesuatu yang wajar dan sah-sah saja seiring dengan perkembangan pemikiran manusia yang berpengaruh juga pada bahasa sebagai media penyampainya. Tetapi sesungguhnya ada sebuah alur dan rambu besar yang menggiring manusia dalam memahami dan menulis puisi. Mainstream itu membuat kita semua hampir berada pada wilayah yang serupa saat menulis puisi.

Sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri, tentu ada pijakan teoritis dan metodologis untuk mempelajari puisi. Hal itulah yang memungkinkan manusia bisa membaca, menulis dan menelaah puisi. Banyak cara bagi orang untuk memasuki dan menginterpretasikan isi dari suatu puisi.

Dalam buku A Guide to Literary Studies, William Whitla (2010) mengatakan bahwa puisi adalah a concentrated composition in verse with a lavish use of rhetorical device and figures of speech. Pendapat ini sesungguhnya hanya menguatkan kembali pendapat dari para teoritisi sebelumnya. Yang patut dicermati adalah bahwa puisi sesungguhnya suatu narasi, suatu cerita atau tak ubahnya suatu prosa, hanya saja berbeda dalam teknik penulisan dan penggunaan kata. Pendeknya puisi adalah suatu prosa yang dipadatkan.

 

Coherence dan unity

Coherence dan unity jika diistilahkan dalam bahasa Indonesia adalah koherensi/pertalian dan kesatuan. Sebagai suatu narasi tentu saja suatu puisi harus memiliki suatu pertalian dan kesatuan dalam komposisi yang utuh. Setiap kata memiliki makna dan mewakili sesuatu. Diksi atau pilihan kata menjadi suatu hal yang vital dan menentukan kekuatan suatu puisi. Setiap stanza atau bait adalah isi. Bait-bait tersebut lalu menyatu dengan bait-bait lainnya menjadi suatu bentuk yang utuh jika puisi ditulis cukup panjang.

Pertalian dan kesatuan inilah yang acap kali tidak diperhatikan bahkan cenderung diabaikan oleh penulis puisi atau katakanlah penyair. Terlalu asyik bermain dengan kata dan dengan menggunakan diksi yang indah dengan memperhatikan kekuatan pada tiap kalimat dan bait hingga pertalian dan kesatuan tersebut agak kurang mendapat perhatian.

Penggunaan diksi yang mewah dan berlebihan atau dalam bahasa Inggris disebut lavish tentu bukan suatu hal yang tak diperbolehkan. Bahkan ini akan menjadi suatu daya tarik dan kekuatan puisi. Lavish berbeda dengan penghematan atau bahkan pemborosan kata. Lavish tetap mengedepankan makna dari suatu kata. Meski sering terjadi suatu puisi ditulis dengan menggunakan kata yang berulang-ulang yang kadang terasa berlebihan. Selain itu puisi mengenal istilah pun (permainan kata). Pun inilah yang kemudian melahirkan banyak inovasi dalam perkembangan puisi.

Banyak penulis sesungguhnya tak memiliki masalah dengan diksi. Mereka mampu menggubah puisi yang indah dan dinamis. Yang menjadi masalah kemudian bagaimana merangkaikan diksi mereka untuk mencapai pertalian dan kesatuan. Hal ini akan menjadi penting karena bagaimanapun suatu puisi digubah adalah sebagai kerangka gagasan yang tunggal. Ketika ditulis dengan bahasa yang indah lalu dipublikasikan tentu tujuannya adalah agar pembaca bisa memahami gagasan tunggal tersebut.

Coherence dan unity lalu menjadi persoalan yang serius dalam puisi. Toleransi aspek ini dikarenakan banyak aspek dalam puisi yang lebih menarik seperti permainan diksi dan simbol, struktur dan majas, atau aspek style yang telah menjadi patron bagi para penulis. Lebih jauh, demi mencapai nilai estetika yang tinggi, coherence dan unity lalu banyak diabaikan oleh penyair hingga pembaca juga terpesona dan menjadi lupa tentang gagasan tunggal dari suatu puisi. Ini bisa berakibat fatal jika tak dikembalikan pada suatu tujuan bahwa puisi adalah juga instrument untuk menyampaikan gagasan dan konsep. Puisi bisa kehilangan spirit dan ruhnya.

Jika hal itu terjadi berlarut-larut dan penulis makin tenggelam dengan keasyikannya sendiri untuk menghipnotis pembaca dengan syair-syairnya, maka puisi akan menjadi tak lebih dari sekedar keindahan dan akan kehilangan fungsi sejarah, narasi besar dan nilai pembelajaran dan pembangunan kesadaran juga pemikiran guna melakukan perubahan individu, sosial dan perubahan tatanan. Tentu hal ini sangat disayangkan karena bagaimanapun juga puisi menempati peran yang sangat signifikan dalam masyarakat.

Tak bisa dipungkiri bahwa banyak orang membaca dan menulis puisi. Puisi telah menjadi bagian dan memiliki tempat tersendiri bagi banyak orang. Media yang banyak muncul pun memberi ruang dan akses terhadap perkembangan puisi. Orang dengan mudah menulis dan membaca puisi lewat media baik media sosial, media cetak seperti koran dan buku atau media elektronik dengan perkembangan teknologi yang pesat seperti telepon seluler.

Apresiasi dan kritik akan menjadi penting. Ini dilakukan bukan untuk menghambat kreatifitas dan kebebasan berkarya bagi para penulis. Justru apresiasi dan kritik dilakukan guna mengingatkan bahwa penulis atau penyair memiliki peran dan tanggungjawab sosial untuk mendorong pembangunan kesadaran lewat karya-karya mereka. Terlebih mereka yang telah diakui kepenyairannya di kalangan komunitasnya atau bahkan telah menjadi patron di masyarakat. Betapa puisi akan menjadi sesuatu yang dahsyat jika seorang penyair mampu menyuarakan kejujuran, kebenaran, dan sekaligus keindahan dalam gagasan yang yang utuh bahkan hanya dalam satu puisi. Bayangkan jika semua puisi-puisi tersebut menyampaikan dan menawarkan banyak gagasan yang utuh dengan tanggungjawab moral bahwa puisi tersebut akan dibaca khalayak.

 

Pesan yang hilang

Ketika coherence dan unity dilupakan dalam suatu puisi, pembaca sesungguhnya bisa merasakan jika ada sesuatu yang hilang di situ. Konsep dan gagasan yang tak utuh telah memberi kesempatan akan adanya pesan yang hilang. Ini akan menjadi tanggungjawab kita bersama baik penulis dan pembaca.

Theme atau tema sesungguhnya adalah landasan dan kerangka yang kuat bagi penulis untuk tetap menjaga coherence dan unity ini. Tema adalah unsur yang tak mungkin ditinggalkan oleh seorang penulis. Secara definisi, menurut James H. Pickering (1981), tema adalah the central idea or insight that unifies and controls the total work.

Tidak menjadi masalah bagi seorang penulis menggunakan daya dan kekuatan imaginatifnya untuk memperindah suatu puisi, hanya saja theme dari suatu puisi tetap menjadi alur utamanya hingga coherence dan unity tetap terjaga. Eksplorasi terhadap suatu theme pada puisi terkadang tidak harus membuat seorang penulis lari dan melompat-lompat jauh dari gagasan sentralnya. Penguasaan yang subtil dan mendetail pada suatu theme yang berpijak pada subjek menjadi suatu keharusan.

Konsistensi coherence dan unity ini akan membuat pesan dari suatu puisi menjadi tak hilang. Penulis akan mampu menawarkan dan memberikan sesuatu yang bermakna bagi pembaca. Puisi akan mampu menjadi suatu alat pengajaran, propaganda dan pembangunan kesadaran.  ***

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *