Megat: Pergulatan Meneguhkan Identitas dan Eksistensi

16649548_1581076138573927_4914906054667981695_n

Sebuah distorsi sejarah

 

Megat adalah novel yang kental dengan sejarah dan mengangkat budaya melayu, khususnya yang berlatar Kepulauan Riau dan Malaysia. Novel karya budayawan melayu Rida K Liamsi ini memiliki tebal 521 halaman. Cerita berkisah dalam suatu kurun terpisah, kurun pertama terjadi akhir abad 17 dan kurun berikutnya terjadi pada paruh pertama abad 21, atau pada masa kita kini.

Sesungguhnya banyak novel Indonesia yang mengangkat tema sejarah, tapi tentu yang menjadi perhatian dan perenungan kita saat membaca novel Megat ini adalah sebuah pergulatan karakter utama Novel ini yang bernama Megat Ismail dalam meneguhkan identitas dan eksistensi sebuah generasi yang membawa nama klan bernama Megat dalam pusaran sejarah yang selama ini telah mapan di sebuah masyarakat.

Megat Ismail, tokoh utama novel yang mewakili masyarakat Kepulauan Riau modern adalah sosok inspiratif yang memiliki energi dan visi besar untuk mengugat suatu fakta sejarah yang terjadi dan mengalami distorsi selama tiga abad.

Megat adalah nama klan yang dalam budaya melayu dikenal sebagai para hulubalang atau kepala pasukan pada zaman kerajaan Melayu di masa lalu. Megat Seri Rama, leluhur Megat Ismail yang hidup pada abad 17, ditulis dalam sejarah sebagai pendurhaka atau penghianat karena telah membunuh Raja Mahmud Syah di Julang, Kota Tinggi pada tahun 1699. Megat Seri Rama yang kemudian juga meninggal dunia akibat terkena tusukan keris sang raja yang mengandung racun ganas kemudian tak hanya mendapat label penghianat tetapi juga dianggap telah menghakhiri suatu dinasti raja Mahmud Syah, raja Johor dan membuka lembaran baru sebuah bangsa yang kemudian kita kenal dengan Malaysia.

Kematian raja Mahmud syah raja Johor oleh Megat Seri Rama yang ditengarai sebagai akhir dinasti sang raja yang kemudian juga menandai sejarah kelam perseteruan dua bangsa itulah yang kemudian ingin diluruskan oleh Megat Ismail. Menurut keyakinan Megat Ismail, pada faktanya dinasti Mahmud Syah belum berakhir, sang raja masih memiliki keturunan yang hidup dengan membuka sejarah baru di sebuah wilayah yang kita kenal sebagai Melaka dan merupakan bagian Malaysia.

Perseteruan dua keturunan ini nyatanya telah terjadi lama dan itu yang luput dari tulisan para sejarawan. Permusuhan dan kebencian keturunan raja Mahmud Syah pada pendurhaka Megat Seri Rama ini kemudian berlangsung beberapa abad dan kedua bangsa tersebut hidup dalam mitos-mitos yang makin meneguhkan permusuhan tersebut. Kenyataan pahit inilah yang ingin diakhiri oleh Megat Ismail. Selain itu Megat Ismail juga ingin menempatkan kembali leluhurnya pada tempat yang terpuji bahwa Megat Seri Rama leluhurnya bukanlah penghianat, Megat Seri Rama justru ingin mengakhiri sebuah masyarakat yang hidup dalam tirani dan penindasan oleh Mahmud Syah selain suatu maksud bahwa Megat Seri Rama membunuh raja Mahmud Syah dengan suatu alasan yang sangat kuat karena ia ingin membela kehormatan diri dan keluarganya, Istri Megat Seri Rama yang sedang mengandung anak telah dibunuh oleh Mahmud Syah hanya karena seulas nangka.

 

Meneguhkan Identitas dan Eksistensi

 

Mungkin tema cerita ini bagi sebagian orang tak begitu menarik, terlebih ini telah berlangsung beberapa abad sebelumnya. Adakah relevansi dan signifikansi yang kuat saat kita membaca dan mempermasalahkan sebuah kisah yang sebenarnya telah terjadi tiga abad yang lalu. Novel ini barangkali hanya sebuah romantisme atau bahkan meneguhkan sikap fasisme dan chauvinistik yang dijunjung Megat Ismail dan Tengku Adinda karakter yang mewakili keturunan Mahmud Syah yang telah pindah dan hidup di Melaka setelah peristiwa pembunuhan Mahmud Syah tersebut.

Bagi Megat Ismail ini adalah sebuah pertaruhan dan jati diri sebuah bangsa yang telah disalahmengerti oleh generasi masa kini yang membuat dua klan dari dua bangsa yang masih dalam satu rumpun hidup dalam sebuah perseteruan panjang karena sebuah sejarah kelam. Megat adalah sosok yang mewakili identitas Kepulauan Riau dan sekitarnya. Megat bukanlah pendurhaka. Sejarah panjang Megat dari masa ke masa adalah tradisi luhur tentang sebuah keluarga yang hidupnya selalu didedikasikan pada negeri. Identitas Megat sebagai pengabdi negeri yang kemudian luput dari catatan sejarah bahkan dicatat sebagai penghianat adalah sebuah persoalan besar tak hanya bagi Megat tapi pada hubungan dua bangsa.

Pertemuan antara Megat Ismail dan Tengku Adinda di sebuah seminar bangsa Melayu makin membuat semangat Megat bangkit untuk meluruskan sejarah dan membuat suatu rekonsiliasi. Tengku Adinda yang sedang menyusun disertasi doktoralnya di sebuah universitas di Melaka juga memiliki keyakinan atas pendurhakaan Megat Seri Rama. Disertasi doktoral dalam ilmu sejarah yang sedang ditulis oleh tengku Adinda adalah tentang kebesaran leluhurnya, Mahmud Syah meski Adinda bukanlah keturunan langsung dari raja Johor tersebut.

Megat Ismail kemudian mempertanyakan draft disertasi Adinda tersebut. Megat yang juga sedang menulis novel berjudul Megat kemudian menyodorkan rancangan novelnya sebagai bahan perbandingan disertasi Adinda. Perdebatan sengit tentu terjadi antara mereka berdua terlebih rancangan novel Megat Ismail tentu saja memiliki perspektif yang berbeda dari tulisan dan fakta sejarah yang ada. Diskusi yang berkelanjutan membuat mereka berdua bersepakat untuk membuat rekonsiliasi yang tentu saja bukan untuk kepentingan mereka berdua, tapi juga rekonsiliasi sejarah yang bisa membuka babakan baru yang diharapkan bisa memperbaiki hubungan dua bangsa dalam rumpun melayu tersebut.

Rekonsiliasi tersebut diharapkan bisa menjadi catatan sejarah yang dibaca oleh orang banyak karena pada akhirnya disertasi adinda tersebut akan dicetak dalam buku sejarah yang akan diajarkan di universitas-universitas di Malaysia karena tengku Adinda adalah seorang dosen yang kemudian mengajar di universitas Tenggara, Johor. Novel Megat sendiri akhirnya diluncurkan dan didiskusikan meski Megat Ismail tak bisa menghadirinya karena sang tokoh utama itu telah meninggal dunia karena sakit paru-paru meski kematian Megat Ismail tersebut juga diliputi mitos sejarah bahwa ia meninggal karena kutukan dan sumpah raja Johor yang tewas oleh Megat Seri Rama.

Megat adalah novel tentang pergulatan identitas dan eksistensi yang melampaui sekian generasi meski arus modernisasi yang terjadi tak dapat ditolak dan menggerus nilai-nilai budaya karena pada akhirnya perseteruan Megat Ismail dan Tengku Adinda berakhir dengan cara romantik, dramatik sekaligus tragis. Megat juga seakan ingin menguatkan eksistensi budaya melayu karena banyak dialog dan peristiwa dalam novel ini ditulis dengan dialek dan bahasa melayu yang mungkin saja membuat pembaca bisa mengerutkan kening untuk memahami artinya.

 

Mahrus Prihany, divisi kaderisasi dan organisasi di Komunitas Sastra Indonesia (KSI)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *