Senandung Cinta Sang Mistikus

16684299_1583031855045022_8305489413403699175_n

Litera.co.id (Tangsel)- Kandank Jurang Doank (KDJ) menggelar diskusi santai yang diiringi dengan penampilan panggung pada hari Minggu (12/2). KDJ mengundang Candra Malik, seorang penyair dan penyanyi yang dikenal sebagai seorang yang mendalami dunia sufi. Gus Malik, demikian biasa Candra Malik dikenal di dunia seni dan budaya tanah air menghibur sekitar 40 penonton para pecinta seni yang hadir di gedung utama KDJ yang memang biasanya digunakan untuk acara yang bersifat sedikit formal.

Acara dimulai pukul 13.30 dengan dipandu pembawa acara sang tuan rumah, Dik Doank. Gus Malik tampil diiringi dua orang pengiring. Lelaki murah senyum dan berambut gondrong tersebut membuka acara dengan pesan-pesan sufistik dan kemanusiaan. Ia berbicara hakikat cinta dan keindahan dalam perspektik sufistik. Banyak nilai yang ia ekplorasi dengan bahasa yang sederhana dan dalam. Di sela penguraian Gus Malik akan hakikat cinta, ia dan pengiringnya kemudian menyanyikan lagu-lagu cinta yang sangat puitis dan penuh penghayatan.

Penampilan Gus Malik di atas panggung yang ekspresif tersebut membuat para penonton menjadi antusias mengikuti sampai akhir. Banyak penonton juga melontarkan pertanyaan pada Gus Malik karena acara dikemas secara santai dan dibuka sesi tanya jawab.

“Cinta adalah derita, dan rindu adalah perihnya. Berbahagialah engkau yang dilihat menderita oleh orang lain karena boleh jadi jika engkau telah begitu dekat dengan Allah, engkau tak akan bisa membedakan antara derita dan bahagia,” demikian ucap Dik Doank dengan mengutip ucapan Gus Malik saat memandu sesi tanya jawab. Acara berlangsung cukup meriah dan hadir pula beberapa pecinta seni, salah satunya adalah budayawan pemerhati budaya Baduy, Uten Sutendy. Acara ditutup dengan lagu “Lakum Dinukum Wa liyaadiin” dan penonton beramai-ramai tampil ke atas panggung. Dik Doank, Uten Sutendy, dan kru KDJ pun turut bernyanyi. Dua setengah jam pun berjalan tanpa terasa.

“Lagu-lagu dalam album Cintakustik pertama kali dibawakan di sini (KDJ)- bahkan ketika belum dirilis, dan banyak lagu saya sesungguhnya saya ambil dari puisi-puisi saya,” ucap Candra Malik di depan beberapa rekan seusai acara yang kemudian dikirimkan ke sosial media dan grup WA Ruang Sastra. Gus Malik juga menambahkan jika ini adalah album ketiga, dan bersifat mini album karena hanya terdiri lima lagu. Dan obrolan tentang seni, sastra, dan budaya juga tentang dunia sufi berlanjut hingga hari menjelang senja. (Mahrus Prihany)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *