Sastra dan Filsafat yang Buram

kaca buram

Ketika kita membaca karya sastra, sesungguhnya banyak kita berharap bahwa kita ingin mendapat sesuatu nilai lebih, dalam hal ini adalah konsep, gagasan dan dialektika yang hidup dan membangkitkan daya nalar kita selain tentu saja mendapat suatu kesenangan batin. Inteligensi seorang sastrawan akan memberi bobot pada karyanya yang tentu saja akan berpengaruh besar pada kekuatan karya tersebut.

Satu hal yang bisa diharapkan adalah mengemas karya sastra dengan sentuhan pemikiran dan muatan filsafat tanpa menghilangkan karakteristik sastranya. Tak dapat diingkari jika filsafat sesungguhnya telah begitu lama mengendap dan menyatu dengan karya sastra, hanya saja kini perlahan ditinggalkan. Indikator ini terlihat saat kita membaca karya sastra yang kering dengan gagasan dan perenungan yang dalam dan tak mampu menawarkan kerangka logika yang rasional. Karya sastra seperti imaginasi liar yang bisa menabrak apapun tanpa alur yang jelas. Kebebasan dalam menulis karya sastra, khususnya yang banyak terdapat pada puisi membuat sebuah puisi menjadi hal yang tak begitu memberi arti dan nilai bagi perkembangan pemikiran dan tampak hanya sebagai selebrasi.

 

Hubungan filsafat dan sastra

 

Hubungan filsafat dan sastra tentu saja sangat erat meski dua hal ini terpisah secara jelas seperti yang kita pahami sekarang ini. Filsafat ditempatkan sebagai suatu ilmu yang begitu serius dan ilmiah dengan teks-teks berat sementara karya sastra seakan ditempatkan sebagai hiburan dengan imaginasi yang begitu bebas.

Sesungguhnya jika kita mau menimbang ulang betapa banyak sastrawan yang juga adalah filsuf, sebut saja Goethe, Albert Camus, Jean Paul Satre dan masih banyak lagi. Di Indonesia kita bisa menyebut beberapa sastrawan yang juga filsuf atau setidaknya kita akui sebagai ahli atau sarjana filsafat semisal Sutan Takdir Alisjahbana, Pramoedya Ananta Toer, Budi Darma, Afrizal Malna, dan Eka Kurniawan. Kita bisa merasakan bobot filosofis dalam karya-karya sastra mereka yang memang memiliki konsep pemikiran yang tinggi.

Hubungan sangat erat antara filsafat dan sastra di masa lalu bahkan sering menempatkan karya filsafat juga sebagai karya sastra semisal L’ Homme Revolte atau Manusia Pemberontak karya Albert Camus. Baru belakangan saat wilayah perbedaan antara filsafat dan sastra makin jelas, kita bisa menempatkan karya-karya sastra murni sebagai karya sastra meski kita akan tetap melihat beberapa karya tersebut masih memiliki muatan filsafat yang kental.

Kita tentu tak menuntut karya sastra harus dikemas dengan bahasa yang rumit seperti saat membaca karya filsafat dan sastrawan juga tak dituntut harus seorang sarjana filsafat. Hal yang sederhana adalah sebuah karya sastra akan lebih bermakna jika memiliki nilai filsafat yang mampu merangsang ruang logika bekerja dengan alur yang sistematis atau setidaknya sebuah karya mampu menawarkan konsep dan gagasan bukan sekadar permainan kata-kata yang lebih banyak bermuatan dekoratif dan deskriptif sementara minus dengan makna.

Setiap orang bisa saja menulis karya sastra sementara untuk menulis karya filsafat seorang harus memiliki perangkat yang sistematis. Karya sastra juga lebih memiliki kebebasan yang luas, tapi tentu saja itu tak berarti bahwa karya sastra bisa ditulis begitu saja dengan mengabaikan logika. Jika itu terjadi, tentu saja kita telah menempatkan karya sastra sebagai suatu hal yang remeh temeh dan keisengan semata.

 

Meneguhkan kembali filsafat

 

Bagi seorang sastrawan adalah hal biasa bahkan suatu keharusan untuk membaca karya sastra, tetapi tentu akan lebih bermakna jika pembacaan tersebut diimbangi dengan sejarah, teori dan kritik sastra sebagai landasan kuat dalam berproses kreatif. Teori-teori dan kritik sastra juga banyak lahir dengan filsafat yang matang. Jacques Derrida, Michel Foucoult, Subagyo Sastrowardoyo, Abdul Hadi WM, Maman S Mahayana setidaknya telah memberi landasan dan kerangka yang kuat dalam meneguhkan pemikiran dan konsep dalam sastra.

Sastrawan yang muncul belakangan sesungguhnya memiliki kesempatan dan potensi untuk bisa lebih maju dan berinovasi, hanya saja kebanyakan tampil indah dengan struktur luarnya sementara meaning nampak superfisial.

Kebanyakan karya sastra yang muncul sesungguhnya kental dengan pola-pola sebelumnya bahkan mengalami kemerosotan filosofis. Puisi dan prosa dalam sub genre atau aliran apapun seakan mengusung pesan yang tak jelas. Tak banyak yang bisa menyajikan perenungan atau dialektika yang mampu ditawarkan pada khalayak.

Pendalaman akan sebuah proses kreatif yang mampu melahirkan karya sastra bernilai tinggi tentu menjadi perlu. Setelah memiliki landasan yang kuat dengan membaca ilmu sastra yang bersifat teoritik dan akademis, seorang sastrawan sepertinya perlu kembali menggali nilai-nilai filosofis untuk mempertajam karyanya. Membaca filsafat yang bertumpu pada logika akan menjadi sangat berguna agar karya sastra makin berbobot secara isi dan menjadi sebuah sumber pengetahuan bagi para pembaca.

 

Mahrus Prihany, Bergiat di Komunitas Sastra Indonesia.

Catatan: Esei ini pernah dimuat di harian Haluan Padang, edisi Minggu, tanggal 2 April 2017.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *