Komunitas KAHE (Sastra Nian Tana)

komunitas Kahe

“Kreativitas adalah jalan menuju masa depan.

Sebab, adalah lebih baik berbuat daripada terlalu banyak berbicara.”

 

“Ide memang punya kaki.” Kalimat ini pernah keluar dari mulut cendikiawan sekaliber Soedjatmoko yang kemudian diamini oleh sastrawan Goenawan Mohamad. Memang benar bahwa sebuah ide mudah menyusur, menjalar, menyusup bahkan merasuki pikiran. Ia menyentuh kian banyak orang. Namun, benarkah yang dibutuhkan hanya ide semata? Orang-orang senang membincang ide. Mereka menuliskan banyak sekali pendapat, menggaungkan ruang diskusi, tetapi setelah selesai tak ada yang berubah. Sehabis menuai riuh suara tepuk tangan, hanya diam, sunyi dan bisu.

Barangkali, di jaman yang penuh ribut-gaduh ini, orang-orang tak hanya butuh bicara, diskusi, atau silang pendapat. Bahwa hidup bukan saja tentang dunia ide. Banyak orang juga perlu menghidupi dunia non-ide dan itu adalah “tindakan/perbuatan”. “Speak less, do more!!!” Inilah yang kira-kira menjadi titik awal bagi beberapa orang muda di Sikka (Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur) untuk memprakarsai berdirinya komunitas sastra yang kemudian diberi nama KAHE (Sastra Nian Tana).

 

Mengapa Sastra

 

Setelah sebuah ide, ada tindakan. Namun, mengapa ide dan tindakan itu adalah tentang komunitas sastra di Maumere? Atau mengapa (harus) sastra, bukan yang lain? Barangkali sastra adalah sesuatu yang tak pernah selesai. Tetapi, sekurang-kurangnya beberapa pendasaran berikut ini bisa menjadi landasan pijak menjawabi pertanyaan tersebut. Pertama, sastra tidak sekadar tentang estetisisme dan permainan bahasa, tetapi terutama bisa mewajahkan sebuah komitmen sosial dan politik. Hal ini sejalan dengan pandangan Jean-Paul Sartre bahwa sastra pada hakikatnya berpihak, untuk menggambarkan kembali dunia dan menjadi saksi atasnya. Karya- karya bernafaskan seni (sastra) senantiasa memiliki roh bagi pribadi maupun sebuah gerakan kolektif. Roh ini memberikan gairah hidup untuk membahasakan serentak memberdayakan realitas di sekitarnya.

Kedua, seni sastra ini kiranya menjadi sebuah wadah yang komunikatif dan memiliki cita kemajuan. Seorang seniman bisa menciptakan sesuatu yang selalu membahasakan seraya membangkitkan kesadaran orang akan diri dan sesamanya. Dengan demikian, Sastra diharapkan menjadi “terang dan garam” tidak saja bagi setiap anggota komunitas tetapi juga bagi masyarakat Nian Tana atau Sikka.

Ketiga, sastra sebagai sebuah kesenian dalam arti yang sejati bisa melampaui fungsi komunikasi atau ekspresi. Sebab, sastra mengandung pembebasan sesuatu di balik bahasa, yakni sejarah maupun kedudukan penulisnya. Berdasarkan pendasaran tersebut, para pemuda ini tentu sepakat dengan pandangan Roland Barthes. Sebagai “pembebas”, sastra selalu mengungkapkan sebuah etika anamnetis (peringatan). Sebuah etika dalam bentuk narasi (cerita) bisa membahasakan realitas secara lebih tajam. Dengan demikian, para pemuda yang seide dan setindakan tersebut berusaha menciptakan wadah berpikir dan bersikap kritis terhadap berbagai kenyataan-kenyataan yang dijumpai dalam kesehariannya.

 

KAHE (Sastra Nian Tana)

 

Para pemuda yang menggagas berdirinya KAHE memiliki kesamaan ide dan mau “berbuat”. Sebagai tindak lanjutnya, pada pertengahan Juni 2015, sebuah grup Facebook bernama ‘Sastra Nian Tana’ dibuat. Dengan keyakinan teguh bahwa ide memang mempunyai kaki, promosi dan ajakan mulai gencar dilakukan terhadap siapa saja yang mau bergabung. Alhasil, dari hari ke hari ide atau gagasan mereka pun menjalar, menyusup, dan meresapi banyak pihak. Grup facebook tersebut menjadi ramai diikuti oleh para peminat sastra. Sebuah space sastra telah mewadahi banyak peminat sastra di Nian Tana. Namun, kemudian disadari bahwa sebuah komunitas yang ideal harus beranjak dari yang virtual menuju kepada yang real. Dan memang, sampai saat itu, para anggota yang tergabung dalam ‘Sastra Nian Tana’ belum sekali pun bersua rupa. Mereka hanya bertukar pikir, berbagi tutur, juga merajut ide di grup FB tersebut. Sebuah pertemuan atau kopdar (kopi daratan, artinya berkumpul bersama) memang harus betul-betul digelar.

Adalah Rizal, Valentino, dan Eka yang pada malam itu benar-benar bebas dari kesibukan dan berkesempatan untuk bersua. Di Taman Patung Teka Iku, mereka ‘meringkik-ringkik’ ditunggangi ide. Beberapa pengunjung yang sama-sama berada di taman itu merasa sedikit ‘terusik’. Bicara sana bicara sini, baca puisi satu pindah puisi lain, tertawa ini tertawa itu, sampai tibalah mereka pada sebuah permenungan yang amat serius, yakni soal nama yang lebih cocok bagi, tepatnya untuk melengkapi, ‘Sastra Nian Tana’. Dari antara banyak ide, nama ‘Ringkik’ awalnya cukup menarik. Ketiganya terbahak sendiri. Geli, lucu. Alasannya jelas, pertemuan itu terjadi di bawah Patung Kuda dan Penunggangnya. Yah, kuda yang me-‘Ringkik’, perkasa, gagah, dan berani. Namun, filosofi ‘Ringkik’ masih amat kurang untuk mendasari sebuah komunitas yang insya Allah akan berkembang pesat nantinya. Untuk itu, mesti ada satu nama yang punya arti mendalam, yang betul-betul berakar dari langit-bumi Nian Tana Sikka, yang berdaya menjiwai, yang memiliki kekuatan yang mengikat. Maka, sampailah mereka pada ‘Semacam Pekikan, Seruan, Kebesaran’ yang dalam bahasa daerah disebut: KAHE..! Ketiganya terdiam sejenak. Ketiganya telah menemukan roh, yah, roh yang menggelora dalam batin. Jadilah, ‘Sastra Nian Tana’ pada waktu itu juga membaptis dirinya menjadi Komunitas KAHE (Sastra Nian Tana), yang resmi lahir malam itu, 24 Oktober 2015.

 

Seni adalah Ledakan

 

Komunitas KAHE “Kemajuan selalu lahir dari masyarakat yang komunikatif.” Ungkapan filsuf Habermas ini merupakan rangkuman atas pemikiran kritisnya tentang kemajuan. Baginya sebuah wadah yang komunikatif adalah kondisi di mana setiap orang mampu menyuarakan pendapat, kepentingan, dan kekuatirannya tanpa ada tekanan. Komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) telah menyatakan itu. Komunitas ini menjadi sebuah ruang, tempat bertumbuhnya kreativitas seni yang terarah kepada usaha mencapai kemajuan. Tetapi, spirit yang telah dan tetap dihidupi seperti menulis puisi, KAHE mulai dengan sebuah kerinduan dan akan senantiasa mengakhirinya dengan kerendahan hati.

Sebagai sebuah wadah kreativitas, KAHE menyatakan diri terbuka, welcome dan siap untuk say hallo kepada pihak manapun. Hal ini berujung keterlibatan KAHE dalam berbagai kegiatan. Pada 14 Februari 2016, KAHE diundang untuk ikut serta dalam Acara Valentine Bersama di Cafe Sonia. Pelbagai komunitas seni diundang dan KAHE ikut ambil bagian lalu mulai dikenal luas. Lalu, pada 21 Februari 2016, KAHE juga diundang untuk berpartisipasi memperingati Hari Sampah Nasional. Di bawah koordinasi Gerakan Pemuda Peduli Sampah-Maumere, KAHE dan komunitas-komunitas lain terlibat dalam pembersihan Pantai Wairhubing. Dan informasi terakhir, KAHE turut diundang untuk ikut serta dalam KESAL (Kupang pEStA monoLog) yang diselenggarakan oleh sebuah komunitas di Kupang, pada pertengahan Maret 2016 kemarin.

Pernyataan penting di bagian akhir tulisan ini adalah Sikka memunyai orang-orang muda yang kreatif. Para pemuda yang tekun, yang gigih, yang mempunyai cara mencintai yang khas. Bersama KAHE mereka menyusuri jalan menuju masa depan. Sejauh ini, dalam rilis terakhir, para anggota yang tergabung dalam Komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) di antaranya imam/pastor, aktivis lingkungan hidup, kaum peduli sampah, pakar hukum di PHB NUSRA, guru, crew Radio Sonia FM, editor video, fotografer, traveller, jurnalis, wartawan, dan sejumlah mahasiswa pionir dari STFK Ledalero. Besar harapan KAHE, akan semakin banyak anggota lintas profesi yang bergabung. Komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) akan selalu terbuka lebar bagi siapa pun, karena KAHE adalah dari, oleh, dan untuk Nian Tana Sikka. Bravo…! KAHE…..!***

 

(Marto Rian Lesit, bergiat di komunitas KAHE. Menulis puisi, cerpen dan esai)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *