PERCIKAN 

Apakah Penting Menjadi Penyair?

Oleh: Iman Sembada, penyair dan bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI).

Sekarang ini banyak anak-anak muda yang gemar memulis puisi. Bahkan ada yang sudah “keranjingan” menulis puisi. Banyak acara-acara sastra yang dihadiri dan diikuti anak-anak muda. Anak-anak muda itu tidak sekadar hadir, tapi juga berani tampil membacakan puisi-puisinya di depan publik.

Hal ini menjadi fenomena yang baik untuk kesusastraan dan perpuisian Indonesia. Ada regenerasi. Ada pertumbuhan tunas-tunas muda yang muncul. Kemunculan mereka menjadi angin segar, menghadirkan diksi-diksi baru yang segar pula. Tapi ada pertanyaan: apakah penting menjadi penyair? Ini bukan pertanyaan iseng-iseng.

Penyair dipandang menjadi makhluk yang memiliki tugas mulia, tugas sangat luhur. Menjadi penyair harus bisa membersihkan yang kotor dan meluruskan yang bengkok. Penyair diharapkan bisa mewakili suara masyarakat di sekitarnya.

Menjadi penyair tentu bukan sekadar gaya-gayaan. Menulis satu atau dua puisi cinta untuk merayu pacarnya atau gadis pujaanya, misalnya. Kesadaran tak sekadar gaya-gayaan seperti ini yang harus dimiliki setiap penyair.

Meski sebagian penyair mengerti dan memahami bahwa tidak semua orang membaca puisi-puisinya, tapi tetap berkarya menulis puisi dan bahkan menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal. Keteguhan dan konsistensi seperti ini adalah penting bagi penyair.

Untuk menjadi penyair tentu tidak mudah. Butuh proses yang tidak sebentar. Tidak bisa instan. Tidak bisa dengan cara mengikuti sekali atau dua kali pelatihan menulis puisi yang singkat.

Workshop atau pelatihan menulis puisi sering digelar di banyak daerah, pesertanya banyak dan diikuti oleh pelajar, mahasiswa, guru dan dosen. Tapi, lagi-lagi, menjadi penyair tidak bisa “dicetak” secara instan.

Dari banyak anak muda yang muncul, puisi-puisi yang mereka tulis cukup menjanjikan di masa depan, jika mereka konsisten dan terus mau belajar untuk meningkatkan kemampuannya menulis puisi, bukan tidak mungkin di antara anak-anak muda itu akan menjadi penyair hebat. Asalkan mereka tidak cepat bersegera merasa berpuas diri.

Setiap akhir pekan, karya-karya mereka bertebaran di media-media cetak dan online sangat beragam dan menunjukkan kualitas masing-masing.

Penting atau tidak menjadi tidak penting jika didasari oleh kesadaran bahwa menulis puisi adalah tugas utama penyair. Syarat utama menjadi penyair tentu saja menulis puisi. Dan puncak kepenyairannya ditandai dengan menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal.

Selamat berkarya….

Depok, 18 November 2019

Related posts

Leave a Comment