Kalau Kau Rindu Peluk dan Ingin Kembali ke Teluk

Puisi-puisi: Nuriman N. Bayan __________________________________________’_________________________

MAKA PULANGLAH

Maka pulanglah
kepada bika, saloi, parang, karung, dan kukurang
kepada bokol yang serupa salju,
yang ibu taburi kua lemon dan daun pepaya
yang ibu remas, yang ibu peras dengan tangan
yang ibu masak di atas tungku kayu
yang rorobanya jadi dabu-dabu

bukankah itu adalah minyak paling murni
bertahun-tahun memberi kita hidup?

Maka pulanglah
sebab selain mimpi dan neraka
negara tidak akan memberi kita surga.

2022.
bika dan saloi: keranjang, biasa dipapah di belakang.

 

KALAU KAU RINDU PELUK DAN INGIN KEMBALI KE TELUK
: buat Istriku

Kalau kau rindu peluk dan ingin kembali ke teluk
ke rumah yang harum noru, soki, dan dolosi
goropa, gorara, poparo, somasi, dalise, dan bubara
aku ingin kembali bersamamu
tanjung uli tanjung putus
tanjung karang tanjung kelapa
reb kolam reb rotan reb malintang
reb payung reb bendera reb daole
reb kobe reb mangga reb paus reb tobelo
pulau imam pulau kapal dan batu balobang
sio, terlalu ayah, terlalu ibu
terlalu rindu, terlalu sepi, terlalu sunyi
jika hanya dikenang, jika hanya di kening.

Kalau kau rindu peluk dan ingin kembali ke teluk
ke rumah yang harum ikan bakar dan sagu tore
aku ingin kembali bersamamu. Di tepian telaga yang indah
di kaki tebing yang hijau, di bawah rimbun soki dan posi-posi
di antara akar-akar yang saling mendekap, yang kaki-kakinya
menancap jauh ke bumi, ke dadamu, sio, aku masih ingin
menjadi ayah–berhari-hari membentangkan lai-lai agar perahu
tetap wangi, agar dapur tetap berasap, agar anak-anak bisa sekolah.

Kalau kau rindu peluk dan ingin kembali ke teluk
ke rumah yang menerima kita dengan sungguh
tanpa membeda-bedakan Tuhan dan keyakinan
pergilah! Buanglah semua risau dan cemas
yang membahayakan dada. Pulanglah ke teluk
kepada ibu yang melahirkan dan menyusui
kepada ayah yang tak lupa adat dan budaya
jika kau tiba dan kau kehilangan aku, duduklah
duduklah di dego-dego itu, di dada ibu yang harum itu
suara ketinting beriringan yang pulang ke matamu
itu adalah aku, maka sambutlah, sambutlah aku
aku masih ingin kembali meneguk senyummu yang ibu itu.

Morotai, 2021.
reb: karang/batu
degodego: tempat duduk

 

DARI BURITAN

Dari buritan
ia pandang ke barat
ia pandang ke darat
hijau memang tumbuh di dada
tapi biru di mata harus ia tadah.

Ia telah meninggalkan kebun
masa kecil yang menyusuinya
sagu, pala, dan kelapa
hanya bisa ia sapa
tak bisa lagi ia papah.

Nasib mengalir seperti sungai
beberapa yang di darat harus jatuh ke laut
nasib menepi seperti ombak
beberapa yang di laut harus naik ke barat.

Hidup adalah pohon besar
batangnya bercabang-cabang
aku tak bisa menebang
aku harus memanjat.

Hidup adalah lautan bebas
berarus dan bergelombang
aku tak bisa berenang
aku harus mendayung

ia terus berbisik
ia terus berbisik
di tengah laut yang sepi
sampai pagi, sampai
matahari kembali
sampai tubuhnya menjadi
wangi.

2021

 

 

Nuriman NBayan atau lebih akrab disapa Abi N. Bayan kini tinggal di Morotai sebagai guru di MAS Nurul Huda Gotalamo, Morotai, Maluku Utara. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media nusantara baik cetak atau daring. Ia masuk sebagai nominee dalam Penghargaan Sastra Litera 2021.

Related posts

Leave a Comment

eight − five =