PUISI 

RUANG KERJA AYAH DI DEPAN KUBURAN

Puisi: Tjahjono Widarmanto ____________________________________________________________________

 

SEPATU KERJA

ia selalu membuatku mabuk serupa pelaut muda diplonco di kapal oleng
memaksaku selalu tergesa dan lupa pulang, lupa pada petang
senyum sekaligus kemarahan istriku selalu kau sembunyikan dalam lubang apekmu
tungkai kakiku selalu goyah diburu kalender dan panik yang mengambang

kau membuatku selalu lupa terpejam
tak memberiku giliran berlama-lama di kamar mandi
menggelembungkan sabun, sambil bersiul lagu-lagu nostalgia.
selalu membuat sisa-sisa sabun mengembun di belakang telinga
handuk dan celana dalam pun selalu lupa tertinggal

kau tak mau aku jadi undur-undur yang berjalan surut ke liang
padahal aku membutuhkan tempat untuk meringkuk bertapa
kau selalu menginginkan aku menjadi kuda nil yang rakus
seperti masa kanak-kanak yang mengulum menelan apa saja
yang lupa membedakan air selokan dan arus sungai
kau pun menolakku jadi kura-kura sebab tak ada lari dalam lamban

kau selalu membuat terjaga dan bertanya-tanya
“ini jam berapa? ini tanggal berapa?”
lupa akan kantuk dan membuat secangkir kopi selalu tertunda
selalu membawa raung sirene masuk menerobos lamunanku

sungguh, di suatu pagi aku ingin menemukanmu
alasmu mengelupas dan berlubang tak bisa ditambal lagi
: aku pun akan punya argumen logis pada istriku
untuk menghayutkanmu di arus jeram sungai .

(ketintang)

 

RUANG KERJA AYAH

ruang kerja ayah di loteng lantai dua. kalau jendelanya terbuka, lampu menyala
ia pasti ada di dalam menekuri pesawat komputer dengan mata setengah terpejam
sebelum memiliki komputer ayah bekerja dengan sebuah mesik tik tua setua ubannya
ibu amat senang mendengar tik tak tuk mesik ketik itu.
ditempelnya telinga di pintu mencuri dengar
sebab ayah melarang siapa saja masuk ke kamar kerjanya saat ia mendekam di situ

kata ibu, ayah adalah penyair. berkerja sebagai penyair.
sungguh aku tak paham profesi itu. sepengetahuanku, bekerja itu harus seperti
ayah kawan-kawanku: si Kaila, Agis atau Sifak; berangkat ke kantor,
jadi guru atau pedagang di pasar besar, setidaknya jadi hansip di gardu jaga

kata ibu, ayah adalah penyair, seolah tuhan kecil yang sanggup mencipta apa saja
leluasa mencipta riang, petaka, harapan, senyum, caci maki atau kedunguan
seperti juga tuhan, kata ibu, ayah tak peduli dengan uang atau penghasilan.
tugasnya adalah mencipta. itu saja. mencipta sabda menuliskan firman kata-kata

tuhan merahasiakan bagaimana ia menciptakan mahluk dan menuliskan petuahnya
begitu juga ayah melarang siapa saja masuk ke ruang kerjanya
saat mencipta dan bersabda
“ini rahasia sebuah penciptaan”, katanya sambil mendelik

diam-diam aku pernah mengintipnya saat bekerja: ternyata saat menekuri komputernya
ayah hanya mengenakan celana dalam. kakinya bergerak-gerak mengikuti jari-jari
mulut komat-kamit seperti presiden pidato atau dukun baca mantra

seperti juga tuhan, ayahku juga gemar menghukum, mengancam dan menakut-nakuti
acapkali ibu gemetar ketakutan saat wajahnya dituding-tuding dengan rotan
biasanya jika bertanya tentang rekening listrik dan tagihan pajak

diam-diam aku ingin seperti ayah, menjadi seorang penyair
: begitu berkuasa dan boleh hanya memakai celana dalam!

-ngawi-klitik-

 

DI DEPAN SEBUAH KUBURAN

orang-orang selalu salah terka kalau dalam lahat bisa menafsir sepi
mereka tak pernah tahu dalam seribu bisu kau bisa menghikmati hiruk pikuk
padahal suara-suara itu begitu lantang justru saat membentur dinding lahat
melebihi para mahasiswa berebut jadi pahlawan demonstrasi di jalan-jalan
bagaimana orang-orang menerka dalam liang itu bisa menemu sepi
padahal suara-suara akan bergemuruh menuding-nuding mulut dan kelaminmu

orang-orang selalu salah terka kalau tubuh sudah dibujur ke utara
ia akan bisa menerka mana barat mana timur, itu selatan atau tenggara
padahal segala arah telah kehilangan batas dan liang itu telah jadi tempurung
gelap dan kau katak yang berbaring di dalamnya, menggeram dengan pilu

orang-orang selalu salah terka kalau dalam lahat udara panas berkeringat
padahal angin bersiutan seperti badai menerka arah mana kafanmu berkibar
dan kau kehilangan kafan yang telah di sobek jadi serpihan oleh belatung

ah, selalu saja orang-orang merasa pintar saat melayat mayatnya sendiri!

_geneng, saat takziah–

 

 

Tjahjono Widarmanto, lahir 18 april 1969 di Ngawi, Jawa Timur. Menulis esai, artikel, cerpen, dan puisi. Beberapa kali menerima penghargaan di bidang kesastraan.
Puisi, esai, artikel, dan cerpennya dimuat di banyak media baik lokal maupun nasional.
Telah banyak menerbitkan buku baik tunggal atau antologi.

 

 

Related posts

Leave a Comment

20 − sixteen =