DI LUAR KAMAR HUJAN

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS ______________________________________________________________________ DI LUAR KAMAR HUJAN kita pernah bertemu di luar kamar hujan mengumbar cinta daun dan tanah berebut “siapa pertama dicintai hujan?” di luar kamar hujan berdatangan. kakikakinya mengetuk bumi. tanah daun menunggu rindu

Read More

Secangkir Kopi Buatan Ibu

Puisi-puisi MH Dzulkarnain ________________________________________________________________         AKU, KAU, DAN HUJAN DI BULAN JUNI : Sherly Apa kabar, Sher Tadi pagi aku dapat selembar risalah dari Tuhan Setelah aku baca, Ternyata aku, kau, dan hujan adalah saudara Kita sama-sama dilahirkan dari rahim bulan juni Dibesarkan oleh ombak peradaban negeri Merasakan nikmat Tuhan lewat senyum ibu sejak dini Menyeruput pahit pekat hidup dari secangkir kopi

Read More

SESEORANG DAN LANGKAH MISTERIUS ITU

Cerpen Lintang Alit Wetan ———————————————————————————-     Terdengar suara amat keras di suatu malam. Bum! Buk! Berkali-kali. Tanah bergetar hebat, hingga getarannya terasa sekali di sebuah rumah paling mewah dengan desain arsitektur loji minimalis, yang terletak di kampungku Dalang Jamid. Tidak ada desir angin bertiup, ketika mendadak seperti suara orang melangkah kedengaran lagi. Kali ini lebih keras. Jelas. Ya, mirip langkah kaki orang memakai sepatu bot. “Gedebak…Gedebug…Gedebug…Gedebug!” berulang-ulang. Seperti jejakan kaki raksasa yang melangkah berirama.

Read More

Jidat Sang Ustad

    Cerpen Indah Noviariesta —————————————————————————————– Siapa yang tak kenal Ustad Badru Munawar yang disebut-sebut sebagai “Ustad Jenong”. Dialah seorang ustad dan penceramah yang jidatnya menonjol ke depan sekitar tiga hingga lima sentimeter. Di desa Karang Asem, tiapkali menyampaikan ceramah agama, ia begitu digemari para jamaahnya. Ketika ia mendapat giliran ceramah di malam Selasa, tak urung ratusan jamaah dari para ibu, bapak hingga anak-anak dan remaja, berkumpul dengan penuh antusias mendengarkan petuah-petuah beliau.

Read More

Sastrawan dan Martabat Karya Sastra

Oleh Irawaty Nusa, cerpenis dan peneliti sejarah —————————————————————————————— Kita memahami, bahwa dengan keagungan karya sastra, suatu bangsa dan negara mampu menciptakan jembatan yang membawa mereka ke dalam percaturan sejarah, yang bukan semata-mata urusan sandang dan pangan. Tapi yang lebih utama adalah nilai-nilai manusia Indonesia bersama kualitas kemanusiaan, yang meliputi impian dan harapan tentang keadilan, pergaulan hidup yang baik, dan bukan hanya retorika omongan semata.

Read More
PERISTIWA 

KONFLIK SATUPENA, SUATU KLARIFIKASI

Oleh  Kanti W. Janis, advokat dan Sekjen Satupena 2017-2021 ————————————————————————————– Sebagai salah satu Sekretaris Jenderal Persatuan Penulis Indonesia disingkat SATUPENA bersama Dr. Mikke Susanto periode 2017-2021, saya menyatakan sebenar-benarnya bahwa tidak pernah ada usaha kudeta atau perebutan kekuasaan atas kepemimpinan Dr. Nasir Tamara. Sebaliknya, saya justru melihat ada pihak-pihak luar yang berusaha memecah persatuan para penulis di Satupena. Pihak (atau pihak-pihak) ini menggandeng banyak nama besar, lalu mengecilkan keberadaan para pengurus dan anggota yang telah di dalam Satupena sejak kongres Solo 2017. Kemudian pihak ini menyebarkan isu bahwa Mikke Susanto…

Read More

MENGENANG DIHA, PENYAIR “REKOR MURI”

  Dunia sastra kehilangan satu tokohnya lagi. Sosok yang dianggap sebagai ibu penyair Indonesia, peraih Rekor Muri 2010, Diah Hadaning (Diha), meninggal dunia pada 1 Agustus 2021. Penyair ini lahir di Kota Kartini Jepara, tahun 1940, dan wafat dalam usia 81 tahun. Selama hidupnya, Diha sangat produktif menulis puisi (Indonesia dan Jawa) serta artikel sastra. Selain itu, juga aktif sebagai juri cipta dan baca puisi serta sebagai pembicara berbagai seminar sastra. Beberapa penghargaan sastra juga telah diraihnya, antara lain pemegang Rekor Muri 2010 dan Pemenang Anugerah Puisi Putera Gapena 1982.…

Read More

SASTRA DAN KEGILAAN MENEKUNI BAHASA

Oleh Supadilah Iskandar, cerpenis dan pengajar ————————————————————————————– Dalam novel-novel karya Iwan Simatupang nampak jelas penggambaran dirinya yang terlalu masuk ke dalam arus eksistensialisme Barat, tentang manusia-manusia yang kesepian, kesendirian, keterasingan, yang merasa bahwa seluruh aspek kehidupan manusia hanyalah siklus benang kusut, amoral, nisbi, tanpa pegangan kepercayaan hingga cenderung areligius. Tetapi, pengertian “areligius” ini janganlah diartikan sebagai “anti-religi” ataupun “anti-moral”. Mereka sebenarnya terombang-ambing dalam pemikiran dan kesadaran bahwa “Tuhan telah mati”. Namun paling tidak, yang dipersoalkan oleh mereka hanyalah suatu pemberian fungsi tentang agama dan Tuhan.

Read More