HACIA TODO, MENDUNIAKAN PUISI INDONESIA
JAKARTA (LITERA) — Yayasan Hari Puisi (YHP) menduniakan puisi Indonesia melalui penerbitan antologi puisi dwi-bahasa Hacia Todo: Antología Bilingüe de Poesía Indonesio-Española (Kepada Segala: Antologi Puisi Dwibahasa Indonesia–Spanyol). Buku ini merupakan seri pertama program yang digagas YHP sebagai bagian dari rangkaian Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026.
Penerbitan buku ini terlaksana atas Bantuan Pemerintah (Banpem) dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Kehadiran Hacia Todo menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkenalkan kekayaan puisi Indonesia kepada pembaca internasional, khususnya masyarakat sastra berbahasa Spanyol.
Penerjemahan karya sastra ke dalam bahasa Spanyol, menurut Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, merupakan bagian dari upaya mempererat hubungan antarbangsa. “Melalui puisi dwibahasa ini, akan semakin mempermudah pemahaman bahasa dan sastra Indonesia serta mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dengan Spanyol,” katanya pada sambutannya.
Buku ini menghimpun karya sejumlah penyair yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan Hari Puisi Indonesia, mulai dari inisiator dan deklarator Hari Puisi Indonesia, pemenang utama Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia, penerima Anugerah Kepenyaian Adiluhung, hingga pengurus Yayasan Hari Puisi. Antara lain, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Rida K. Liamsi, Ahmadun Yosi Herfanda, Maman S. Mahayana, Asrizal Noor, dan Fahrunnas MA Jabbar.
Selain itu, antologi ini menghadirkan karya sejumlah tokoh sebagai bentuk penghormatan, antara lain Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kebudyaan Fadli Zon, Mendikdasmen Abdul Mu’ti, Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin, dan penyair terkemuka Taufiq Ismail, yang dicalonkan sebagai kandidat penerima Nobel Sastra.
Buku tersebut diluncurkan pada Minggu, 30 Agustus 2026, di Ruang Serbaguna Lantai 4, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Acara dirancang sebagai ruang perjumpaan antara sastra Indonesia dan dunia Hispanik. Sejumlah perwakilan diplomatik dan tamu internasional yang hadir, antara lain Mr. Fernando Burgos Sainz, (Wakil Duta Besar Spanyol), H.E. Luis Guillermo Arellano Jibaja (Duta Besar Ekuador), Mr. Ricardo Bicierril (Konsul & Atase Kedutaan Meksiko), serta Mr. Nicolas Montoya dari Kedutaan Kolombia.
Penerjemahan puisi ke dalam bahasa Spanyol dilakukan oleh Danny Susanto, dan menjadi salah satu tantangan utama dalam penyusunan antologi ini. Danny menegaskan bahwa proses tersebut tidak semata-mata merupakan pekerjaan kebahasaan. “Bagi saya, pekerjaan ini bukan sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan sebuah ikhtiar untuk mempertemukan dua dunia: dunia pengalaman puitik Indonesia dengan dunia pembaca berbahasa Spanyol,” terangnya.
Menurut Ewith Bahar, Ketua Tim Penyusun, penerbitan Hacia Todo juga diarahkan untuk membuka ruang diplomasi budaya melalui puisi. “Puisi mampu berperan sebagai alat diplomasi budaya, sekaligus menjadi jembatan penghubung antarbangsa di kancah global, terkhusus dalam hal ini Indonesia–Spanyol dalam konteks hispanik,” ujar Erwith.
Menurut Ewith, dalam proses penyusunannya, tim menetapkan dua pertimbangan utama dalam memilih puisi. Pertama, tema yang diangkat para penyair, terutama yang berkaitan dengan kebangsaan dan kemerdekaan. Tema tersebut dipandang relevan dengan momentum peringatan kemerdekaan Indonesia sekaligus dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca dunia Hispanik untuk mengenal Indonesia melalui puisi.
Kedua, tim mempertimbangkan kekhasan, karakter, kekuatan bahasa, dan teknik kepuitikan masing-masing penyair. Pertimbangan tersebut dimaksudkan untuk menghadirkan sebagian dari keragaman estetika yang hidup dalam perpuisian Indonesia. “Teknik pemilihan puisi dalam antologi ini merupakan tahap awal dari sebuah metode kuratorial yang akan terus kami kembangkan pada seri-seri berikutnya,” kata Sihar Ramses Simatupang, yang bersama Herman Syahara bertindak sebagai kurator buku.
Tidak mewakili
Hacia Todo, menurut Herman, tidak dimaksudkan untuk mewakili keseluruhan penyair maupun khazanah puisi Indonesia. Luasnya perpuisian Indonesia—dengan keragaman tradisi, generasi, bahasa, wilayah, komunitas, serta kecenderungan estetik—membuat mustahil seluruh kekayaan tersebut dirangkum dalam satu antologi.
Sofyan RH. Zaid, penanggung jawab penerbitan buku selaku Plt. Ketua Yayasan Hari Puisi, mengakui bahwa proses menghadirkan antologi dwibahasa ini bukan pekerjaan sederhana. “Buku ini tentu masih jauh dari sempurna. Proses kurasi, penerjemahan, dan permohonan izin bukanlah perkara yang sederhana. Namun, semua itu kami lakukan demi sebuah ikhtiar untuk memperkenalkan puisi Indonesia kepada pembaca dunia, terutama masyarakat di negara-negara berbahasa Spanyol,” ungkapnya.
Menurutnya, penerbitan seri pertama ini tidak berhenti sebagai sebuah proyek penerbitan buku, tetapi diharapkan menjadi pijakan awal dari gerakan yang lebih panjang untuk membawa puisi Indonesia ke ruang pergaulan sastra dunia.
Ketua Panitia Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026, Ariyani Isnamurti, menyampaikan bahwa program Menduniakan Puisi Indonesia akan terus dikembangkan. “Seperti harapan semua pihak, di seri-seri selanjutnya program Menduniakan Puisi Indonesia, kami akan berupaya menghimpun lebih banyak puisi dari para penyair Indonesia untuk diterjemahkan ke bahasa asing lainnya.”
Melalui Hacia Todo, Yayasan Hari Puisi mencoba memperluas ruang perjumpaan puisi Indonesia dengan pembaca dunia, dimulai dari bahasa Spanyol dan kawasan Hispanik. Pemilihan bahasa Spanyol sebagai langkah pertama memiliki arti strategis karena bahasa tersebut membuka akses kepada masyarakat sastra yang jauh melampaui Spanyol, termasuk negara-negara Amerika Latin dan berbagai komunitas Hispanik di dunia.
Diadakan juga sesi bincang buku yang menghadirkan Dr. Danny Susanto selaku penerjemah, H.E. Luis Guillermo Arellano Jibaja selaku Duta Besar Ekuador, dengan Herman Syahara sebagai moderator. Adapun laporan kuratorial disampaikan oleh Sihar Ramses Simatupang.
Hacia Todo diharapkan menjadi sebuah gerbang awal: dari bahasa Indonesia menuju bahasa Spanyol, dari pengalaman puitik Indonesia menuju pembaca dunia, dan dari sebuah antologi menuju ikhtiar yang lebih besar untuk menempatkan puisi Indonesia sebagai bagian dari percakapan sastra dunia. @ Red/dari berbagai sumber
