PERISTIWA PPN 

PPN KELILING NUSANTARA

Pesta Penyair Nusantara (PPN) lahir dari Pertemuan Penyair
Indonesia The 1st International Poets Gathering di Medan, 25-29 Mei
2007. Disetujui oleh Direktur Kesenian Mukhlis Paeni, yang hadir memberi
materi ketika itu, PPN menjadi kesepakatan lima komunitas sastra dari
lima negara di Asia Tenggara. Tercatat, dari Komunitas Sastra Indonesia
(KSI) Ahmadun Yosi Herfanda dan Viddy AD Daeri, dari Persatuan Penulis
Nasinala (PENA) Malaysia Moh. Saleeh Rahamad dan SM Zakir, serta dari
Angkatan Sastrawan dan Sastrawani (Asterawani) Brunei Zefri Ariff.
Kemudian, Djamal Tukimin dari ASAS 50 Singapura, dan Nik Rakib bin Nik
Hasan dari Pusat Studi Melayu Thailand Selatan.

Selain seminar dan diskusi sastra, PPN juga diisi parade baca puisi
dan musikalisasi puisi. PPN kemudian dibawa ke Kediri, Kuala Lumpur,
Bandar Seri Begawan, Palembang, Jambi, Singapura, Thailand, Tanjung
Pinang, Banten, Kudus, Kuala Lumpur, Jakarta, dan tahun 2026 ini PPN
XIV diadakan di Bereun Aceh. Di Kuala Lumpur, pada PPN III, nama
“Pesta” diganti “Pertemuan” agar tidak terkesan berhura-hura.
Kependekannya tetap sama, PPN, dan kepanjangannya menjadi
Pertemuan Penyair Nusantara.
Sungguh ini bukan pertemuan biasa, karena pertemuan ini
membawa misi dan semangat persaudaraan serta perdamain. Semangat
yang di negara-negara tertentu mulai mengendur, terganggu oleh perang
dan perpecahan. Namun, di Nusantara semangat persaudaraan dan
perdamaian itu terus kita jaga dan kita pelihara agar masyarakat, kita
semua, tetap bisa kreatif berkarya untuk membangun bangsa.*

PPN II KEDIRI
Pesta Penyair Nusantara (PPN) II berlangsung di Kediri, 1-3 Juli
2008. Masih dengan nama “pesta”. Peserta dari Kediri, Khoirul Anwar,
berinisiatif untuk membawa PPN ke kotanya, sebelum negara dan daerah

lain membuka diri untuk PPN. Sebelumnya disepakati bahwa PPN digelar
minimal dua kali di Indonesia, dan sekali di manca negara, mengingat
wilayah Indonesia yang luas dan ada lebih dari 30 provinsi. Diwacanakan
bahwa di Indonesia PPN boleh diadakan di daerah provinsi maupun
daerah kabupaten/kota.
Khoirul Anwar selaku ketua panitia, mewujudkan niatnya untuk
menghidupkan perpuisian di kotanya dengan menggelar PPN. Ada
kenangan manis Ketika PPN digelar di Kediri. Ada pertunjukan baca puisi,
musikalisasi, dan tari, yang disiarkan langsung oleh TV lokal. Dalam siaran
TV lokal, ada peserta dari Kalimantar Timur yang menghadiahkan mandau
kepada peserta dari Malaysia. PPN berlangsung sederhana, tapi
persaudaraan terjalin dengan baik dan mengesankan.*

PPN III KUALA LUMPUR
Pada tanggal 20—22 November 2009 Pesta Penyair Nusantara (PPN)
III diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Pada PPN III inilah nama “pesta”
diganti “pertemuan”, menjadi Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) untuk
menghilangkan kesan berhura-hura. Diketuai oleh SM Zakir, kegiatan ini
merupakan kolaborasi antara Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dengan
Yayasan Persatuan Penulis Nasional (PENA) Malaysia.
Ketua Delegasi Indonesia, Ahmadun Yosi Herfanda, memaknai
pertemuan itu dengan kata “Ketika Kata Menjadi Ikatan Bersaudara”. Boleh
saja negara berselisih paham, tapi para penyair tetap ingin menjalin ikatan
rasa bersaudara. Maka, Menara Kuala Lumpur, yang menjulang tinggi pun
bertaburan kata-kata indah yang mengekspresikan semangat untuk tetap
bersaudara. “Acara semacam ini penting untuk memperkuat hubungan
budaya antarsastrawan nusantara,” kata Baharuddin Zein, ketua PENA.
Antologi puisi berjudul Puisi Suara Kemanusiaan diterbitkan dan
menjadi dasar pertunjukan baca puisi yang diadakan di tiga tempat berturut-
turut, di gedung Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), di Menara Kuala
Lumpur (Menara KL), dan di halaman Rumah PENA Malaysia. Pertunjukan
ini disiarkan oleh Astro TV. Pentas baca puisi sekitar 140 peyair Nusantara di
Menara KL menjadi pengalaman yang menarik bagi para penyair hingga
berebut untuk dapat dijadwal membaca di salah satu lantai menara setinggi

250 meter itu. Diskusi yang berlangsung sejak hari pertama membahas
berbagai persoalan terkini kepenyairan di negara-negara peserta, dan
berlangsung secara hikmat.*

PPN IV BRUNEI DARUSSALAM
Pertenuan Penyair Nusantara (PPN) IV berlangsung di Bandar
Seribegawan, Brunei Darussalam, 16-19 Juli 2010. Diinisiasi oleh
Angkatan Sastrawan dan Sastrawani (Asterawani) Brunei yang diketuai
Zafri Ariff. Menariknya, Festival Puisi Nusantara bersempena dengan
Sambutan Perayaan Hari Ulangtahun Kebawah Duli Yang Maha Mulia
Paduka Seri Baginda Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei
Darussalam yang ke-64 serta disiarkan oleh Radio Televisyen Brunei.
Dalam PPN IV di Brunei, sekitar 120 penyair melawat ke Galeri Pusat
Kesenian dan Pertukangan Tangan Brunei, dan Galeri Kebudayaan, serta
Pelancongan Kampong Ayer, sebuah perkampungan di Danau Ayer. Semua
tokoh PPN, seperti Moh. Saleeh Rahamad, SM Zakir, Nik Rakib bin Nik
Hassan, Djamal Tukimin, Ahmadun YH, tampak hadir dalam perhelatan
ini. Ada pula peserta dari Filipina dan Kamboja. Diskusi dan pertunjukan
baca puisi, yang salah satunya diadakan di Kampong Ayer, berlangsung
tertib dan ramai.
Siaran langsung di TV Brunei menjadi rebutan para penyair, sehingga
sempat mengganggu jadwal tampil, namun tetap berlangsung lancar.
PPN IV ditutup oleh Menteri Hal Ehwal Dalam Negeri Negara Brunei
Darussalam, Pehin Udana Khatib Dao Paduka Seri Setia Ustaz Haji Awang
Badaruddin Dato Paduka Pengarah Haji Othman, yang ditandai dengan
penyerahan resolusi hasil pertemuan.*

PPN V PALEMBANG
Sebanyak 217 penyair dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam,
Singapura, Thailand, Srilanka, dan Swedia mengikuti Pertemuan Penyair
Nusantara (PPN) V di Palembang. Acara berlangsung pada 16-19 Juli
2011. Pada pembukaan di Griya Agung, diluncurkan antologi dengan

judul Akulah Musi, makan malam bersama Gubernur Sumsel Alex
Noerdin, juga pembacaan puisi dari setiap negara peserta. Indonesia,
antara lain, menampilkan presiden penyair Sutardji Calzoum Bachri.
Sekretaris Panitia Pelaksana Anwar Putra Bayu, yang membawa
PPN V ke Palembang, mengatakan kali ini PPN termasuk paling banyak
pesertanya sejak dilangsungkan di Medan pada tahun 2007. “Salah satu
dorongan penyair untuk berkumpul di Palembang lantaran mereka ingin
merasakan aura kota tertua di Nusantara ini,” katanya.
Selain peluncuran antologi puisi Akulah Musi, juga dilangsungkan
pembacaan puisi, seminar sastra, serta temu penyair dengan pelajar dan
mahasiswa. Ajang tarung puisi PPN V cukup memukau penonton. Seminar
juga berlangsung tertib dan diikuti dengan antusias oleh peserta. Pada
malam hari, seusai acara, banyak penyair yang menyempatkan jalan-jalan
di kawasan jembatan Ampera, duduk-duduk, ngobrol, sambil minum kopi,
dan mencicipi empek-empek Palembang. *

PPN VI JAMBI
Pertemuan  Penyair Nusantara  (PPN) VI berlangsung di Jambi, pada
28-31 Desember 2012. Diyakini PPN semakin meriah dengan semakin
banyaknya negara peserta. “PPN diikuti perwakilan dari delapan negara,”
kata Direktur  PPN VI  Jambi Ramayani Riance.
Kedelapan negara itu tidak hanya rumpun Melayu, tepi negara
tetangga Nusantara. Mereka dari Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei
Darusalam, Kamboja, Thailand, Myanmar, dan Hongkong serta Indonesia.
Ada juga peserta peninjau dari Prancis dan Korea Selatan.
Para penyair itu berbaur bersama para penyair lain yang juga telah
memenuhi kuota keterwakilan seluruh provinsi di Tanah Air, termasuk para
penyair besar seperti Afrizal Malna, Nirwan Dewanto, Dorothea Rosa
Herliany, Iman Budhi Santosa, Mardi Luhung, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep
Zamzam Noor, Iyut Fitra, Isbedy Stiawan ZS, dan Soni Farid Maulana.

PPN Jambi diisi seminar sastra nusantara yang membahas puisi
tradisional dan puisi modern. Makan malam di kediaman Gubernur Jambi,
seminar sastra di Hotel Ratu, dan parade baca puisi di Kawasan Candi
Muaro Jambi. Di komplek candi inilah para peserta tampak begembira
sambil menikmati seni baca puisi.*

PPN VII SINGAPURA
Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VII berlangsung di Taman
Warisan Melayu, Singapura, 29-31 Agustus 2014. Secara resmi dibuka
oleh Sekretaris Kementerian Kesehatan dan Pengangkutan Singapura Prof
Faisal Ibrahim. Menurut Faisal Ibrahim, PPN dilaksanakan untuk
menjayakan bahasa ibunda, yakni Melayu di Nusantara. Bahasa ibunda
tersebar di tanah Melayu (Nusantara) yang sampai kini masih hidup.
"Karena itu, Singapura amat menyambut kegiatan ini, demi
memarwahkan bahasa dan sastra Melayu," katanya.
Sebelumnya, Ketua Pelaksana PPN VII Djamal Tukiman menjelaskan,
kegiatan ini diikuti 150 penyair, sastrawan, dan pengamat sastra dari
Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Dari
Indonesia hadir dua tokoh sastra, Taufiq Ismail dan Abdul Hadi WM.
Diskusi dilaksanakan di Gedung Warisan Melayu, dan parade baca puisi di
ruang publik, di jalan yang membelah Kawasan Warisan Melayu, di
hadapan lalu lalang pengunjug. PPN VII ditutup secara resmi oleh penyair
senior Singapura, Suratman Markasan.
Penyair yang masih punya waktu, memanfaatkannya untuk jalan-
jalan menikmati kota-negara Singapura. Beberapa penyair naik bus Hop-
on Hop-off keliling Singapura, ada juga yang naik River-Cruise, menikmati
pemandangan kota dari sungai. Di Kawasan Taman Warisan Melayu juga
banyak objek wisata bersejarah yang bisa dinikmati oleh para penyair
Nusantara. *

PPN VIII THAILAND
Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VIII dilaksanakan di Pattani,
Thailand Selatan, pada 21-23 November 2015. Menurut ketua panitia, Nik
Rakib bin Nik Hassan, acara ini mengusung tema “Puisi untuk
Perdamaian”. Menariknya, peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura,
dan Brunei, masuk ke Thailand melalui Pengkalan Kubur Kelantan,
Malaysia, dan menyeberang dengan angkutan laut ke Tak Bai (Taba),
Narathiwat. Seakan menunjukkan peristiwa berdarah di bulan Ramadan
24 Oktober 2004.
Para peserta PPN, selain berdiskusi dan baca puisi, juga dibawa
berkeliling ke daerah-daerah yang pernah konflik, dengan dijaga tentara
bersenjata. Di mana-mana, di setiap persimpangan, ada gundukan pasir
di dalam karung dan gulungan kawat berduri. Penjagaan ketat dari
aparat dengan senjata laras panjang terhunus, memeriksa setiap
penumpang kendaraan yang lalu lalang. Kesan cukup menegangkan
masih tersisa hingga sekarang.
Peserta juga dibawa  ke peninggalan bersejarah, seperti masjid
Kresik di Pattani, dan masjid Teluk Manok di daerah Bachok Narathiwat,
yang dindingnya berlubang-lubang terkena peluru. Peserta juga melawat
kota kuno tapak kerajaan Langkasuka, dan Museum Al-Quran tulis tangan
yang berusia ratusan tahun. Pembacaan puisi diadakan di rumah makan
dan di tempat yang disinggahi dalam perjalanan. Ada juga diskusi dan
baca puisi yang digelar di Prince of Songkla University (PSU) Kampus
Pattani, serta berdialog dengan para siswa di SMA Darunsat, Bandar
Teluban, Pattani. Di PSU diserahkan Penghargaan Penyair Nusantara
kepada Ahmadun Yosi Herfanda, sebagai penyair yang setia mengikuti
PPN.*

PPN IX TANJUNG PINANG
Di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, PPN IX berlangsung pada 15-18
Desember 2016. Diketuai oleh Husnizar Hud, PPN dibarengkan dengan

pemberian Anugerah Jembia Emas yang diterimakan kepada Datuk Rida
K. Liamsi. Acara utama, pembukaan hingga seminar sastra, dilaksanakan
di Gedung Aisyah Sulaiman. Tampil sebagai pembicara, antara lain Djamal
Tukimin, Moh. Saleeh Rahamad, Nik Rakib bin Nik Hassan, Rida K. Liamsi,
Zefri Ariff, dan Maman S. Mahayana.
Sedangkan parade baca puisi digelar di panggung terbuka Taman
Gurindam. Para penyair Nusantara mengadu kebolehan dalam baca puisi
di panggung terbuka. Sementara hadirin memadati depan panggung, dan
menonton di halaman gedung yang membelakangi laut. Pemandangan di
sekitar yang indah membuat para penyair mengabadikannya untuk selfi
dan foto ramai-ramai. Tampak baliha-baliho yang berisi sosok-sosok
penyair Kepulauan Riau berjajar di pinggir jalan ke Taman Gurindam.
Para penyair Nusantara juga diajak menyeberang naik pompong
(perahu kecil) ke Pulau Penyengat, yang dulu menjadi pusat
pemerintahan Kerajaan Riau Lingga. Para penyair singgah di Masjid Raya
Sultan Riau, Pulau Penyengat, dan menziarahi makam pujangga Raja Ali
Haji. Pada dinding-dinding makam terpahat Gurindam 12, karya sastra
adiluhung yang bersejarah karya Raja Ali Haji, yang dapat diabadikan oleh
pengunjung. *

PPN X BANTEN
Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) X berlangsung Banten, 15-17
Desember 2017, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Banten (DKB), di
Taman Budaya Banten, Kota Serang. Penanggung jawab acara, yang juga
ketua umum DKB, Chavchay Syaifullah, didampingi ketua panitia, Arif
Sodakoh, mengatakan bahwa PPN didukung oleh Bank Indonesia dan Bakti
Budaya Djarum Foundation. Dikuti lima negara: Indonesia, Malaysia,
Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand. Membahas tema “Puisi untuk
Perdamaian Dunia” yang juga menjadi tema antologi puisi.
Simposium dan seminar sastra menampilkan Shamsuddin Othman,
Syarifah Yatiman, Mahroso Doloh, Sheikh Mansor, Suminto A. Sayuti, Nik
Rakib bin Nik Hasan, Mohamad Saleeh Rahamad, Zefri Ariff, dan Djamal

Tukimin MA. Simposium diadakan di Taman Budaya dan Seminar
internasional diadakan di Gedung Prof  Sjadzili Hasan, UIN Sultan Maulana
Hasanudin Banten.
Usai pembukaan digelar Panggung Baca Puisi Penyair ASEAN,
dengan diawali pertunjukan tari. Hari kedua, peserta diajak berwisata
sejarah ke Masjid Kesultanan Banten, Keraton Surosowan, Keraton Kaibon,
Vihara Avalokitesvara, Benteng Speelwijk, Museum Negeri Banten, dan
Danau Tasikardi. Siangnya, peserta mengikuti simposium internasional “Puisi
untuk Perdamaian Dunia”. Dan, malamnya, di Taman Budaya Banten,
digelar Panggung Penyair ASEAN. Di panggung inilah para penyair adu
kebolehan untuk baca puisi. Tampak mennggetarkan penyair Amin Kamil,
Sosiawa Leak, Isbedy Stiawan ZS, Imam Maarif, dan para jago panggung.
Baca puisi diselingi pertunjukan tari tradisi khas Banten. *

PPN XI KUDUS
Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI, 28-30 Juni 2019, digelar
di Kudus, Jawa Tengah, didukung sepenuhnya oleh Bakti Budaya
Djarum Foundation. Mengusung tema “Puisi untuk Persaudaraan dan
Kemanusiaan”, acara ini diinisiasi oleh Jumari HS dengan back up
penuh oleh Thomas Budi Santoso dari Djarum yang bermaskas di kota
kretek Kudus. Kehadiran penyair dari berbagai daerah di tanah air dan
dari negara-negara tetangga diharapkan bisa memviralkan Kudus yang
terkenal sebagai Kota Kretek dan Kota Wali menjadi tujuan wisata yang
mengesankan.
Pembukaan PPN XI berlangsung di Hotel Gripta Kudus,
dimeriahkan oleh kesenian khas Kudus dari kelompok Terbang Papat
Menara, musikalisasi puisi kelompok musik Sang Swara, dan
pembacaan puisi oleh penyair perwakilan negara-negara peserta. Pada
hari kedua, seminar sastra menampilkan 6 pembicara, yakni Maman S.
Mahayana (Indonesia), Dr. Moh. Saleeh Rahamad (Malaysia), Prof. Zefri
Arif (Brunei Darussalam), Dr. Nik Rakib Bin Nik Hasan (Thailand),

Djamal Tukiman, MA (Singapura), dan Dr. Tirto Suwondo, M.Hum.
(Balai Bahasa Jawa Tengah). Acara dilanjutkan bedah buku antologi
berjudul Sesapa Mesra Selinting Cinta dengan pembahas Prof. Dr.
Suminto A. Sayuti, dan workshop pembacaan puisi bersama Sosiawan
Leak dengan peserta para guru Bahasa Indonesia.
Malamnya digelar Panggung Penyair Asean di pelataran timur
Menara Kudus. Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri,
bersama Kyai Mustofa Bisri (Gus Mus), D. Zawawi Imron, Thomas Budi
Santoso, Fikar W Eda, Imam Maarif, Rini Intama, Sosiawan Leak, ikut
menggetarkan panggung. Selain itu, tampil pula penyair dari Malaysia,
Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam. Warga setempat antusias
menyaksikannya seperti nonton pertunjukan dangdut. Esoknya, peserta
berwisata budaya ke Menara Kudus, ke makam Sunan Kudus, yang
merupakan simbol akulturasi budaya Hindu dan Islam. Wisata
dilanjutkan Museum Jenang atau Gusjigang X-Building. Penutupan PPN
XI 2019 dilaksanakan di Museum Kretek Kudus sebagai tempat terakhir
rangkaian wisata budaya. *

PPN XII KUALA LUMPUR
Untuk kedua kalinya PPN digelar di Kuala Lumpur. Diketuai oleh
Moh. Saleeh Rahamad, Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XII
digelar di Grand Cambel Hotel Kuala Lumpur,  pada 13-15 Oktober
2023. Bertema “Cinta, Luka, Damai”, yang juga menjadi judul antologi
puisi, pertemuan ini diselenggarakan oleh Persatuan Penulis Nasional
Malaysia (PENA), Dewan Bahasa dan Pustakan (DBP), dan Gabungan
Persatuan Penulis Nasional Malaysia (GAPENA), bekerja sama dengan
Kementerian Pelancongan, Seni dan Budaya, Majlis Perbandaran
Petaling Jaya, SHAPADU Group, serta dukungan dari pelbagai pihak.
PPN XII dibuka Jumat di Dewan Bankuet, Majelis Perbandaran
Petaling Jaya. Hadir menyampaikan sambutan, Menteri Luar Negeri
YB Datok Seri Diraja Dr Zambry Abdul Kadir. Para ketua delegasi dari
lima negara diperkenalkan kepada Dr Zambry untuk menerima

cendera mata. Baca puisi wakil-wakil negara peserta mewarnai acara
malam itu. Diskusi sastra mengisi tiga hari PPN, menampilkan Dr
Shamsudin Othman, Isbedy Stiawan, dan Roslan Madun, Datuk Dr
Anwar Ridwan, Maman S Mahayana, Syed Mohd Zakir Syed Othman,
A Razak Panamalae, Dr Morsidi Haji Muhammad, Dr Norhayati Ab
Rahman, Hartinah Ahmad, Ratna Ayu Budhiarti, dan Mahroso Doloh.
Hari ketiga, Ahad, diisi syarahan utama oleh Dr Hazami Jahari.
Sidang pleno mengakhiri senarai sidang sastra, dengan
menampilkan Dr Mohamad Saleeh Rahamad, Haji Zawawi Ahmad,
Samsudin Said, Dr Nik Rakib Nik Hassan, dan Ahmadun Yosi
Herfanda. Sidang pleno ini dimoderatori oleh Dr Mohd Khair Ngadiron.
Di sela-sela sidang sastra diwarnai pertunjukan baca puisi oleh para
peserta dari lima negara serumpun. Malam baca puisi secara khusus
diadakan pada Sabtu malam di Gedung Dewan Bahasa dan Pustaka,
dengan tajuk Malam Puisi Nusantara. Malam itu juga dipentaskan
drama perjuangan dan ditutup dengan lagu-lagu nostalgia yang
mengajak beberapa peserta berjoget bersama.*

PPN XIII JAKARTA
Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII berlangsung di
Jakarta, 12-14 September 2025. Acara utama berupa seminar sastra
dan pembukaan digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM). Pada malam
pembukaan, Kamis, diisi orasi sastra oleh Wakil Gubernur DKI Rano
Karno, yang juga seorang aktor film, pertunjukan musikalisasi puisi
Sanggar Matahari, baca puisi, tari Betawi, dan peluncuran antologi
puisi PPN XIII, Layang-layang Tak Memilih Tangan. Hari kedua,
Jumat, diisi seminar sastra, dengan pembicara, antara lain Dr.
Norhayati Abd. Rahman, Maman S. Mahayana, Dr. Ganjar
Harimansyah, Dr. Syamsudin Said, dan Prof. Zefri Ariff. Malamnya
digelar pertunjukan baca puisi, antara lain menampilkan Imam
Maarif dan Edi Romadhon dari Gethek Purwokerto.

Hari ketiga, Sabtu, acara digelar di Perpustakaan Nasional,
dengan orasi literasi oleh Prof. Dr. Aminuddin Azis, orasi AI oleh Dr.
Riri Satria, dan parade baca puisi. Siangnya, digelar baca puisi di
ruang publik di Taman Munumen Nasional (Monas). Malamnya,
pentas penutupan diadakan di auditorium Sasadu, diisi pentas baca
puisi, penyerahan penghargaan, peluncuran majalah Liris,
pembacaan hasil sidang PPN yang memutuskan Aceh sebagai tuan
rumah PPN XIV tahun 2026, dan tari dan lagu penutup yang
mengajak peserta berjoget. Sekretaris Badan Bahasa, Ganjar
Harimansyah, mengapresiasi pelaksanaan PPN sebagai wujud nyata
penghormatan terhadap karya dan pengabdian sastrawan.
Penyelenggaraan PPN XIII ini atas dukungan fasilitasi dari
Badan Bahaha Kemendikdasmen RI, Dinas Kebudayaan Pemprov.
DKI Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Kemenbud RI, komunitas
Jagat Sastra Milenia (Riri Satria), dan sejuamlah kominitas budaya.
Malam penutupan berlangsung akrab dan hangat, dengan apresiasi
tinggi dari para penyair terhadap Badan Bahasa—mulai dari fasilitasi
PPN, bantuan pemerintah kepada komunitas dan tokoh sastra,
hingga peluncuran majalah sastra Liris sebagai ruang baru bagi
karya sastra murid dan guru. Peluncuran Liris ditandai penyerahan
majalah itu dari Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Imam
Budi Utomo, kepada penyair senior Taufiq Ismail.
Lebih dari 200 penyair hadir di acara puncak itu, beberapa
penyair dari perwakilan negara serantau tampil membacakan karya
unggulan. Pentas ini juga memperlihatkan bahwa puisi tetap hidup
di tangan semua generasi. Pada kesempatan ini pula dibacakan hasil
rekomendasi PPN XIII dan pengumuman tuan rumah PPN XIV tahun
2026, yaitu Aceh. Tahun berikutnya, Brunei Darussalam (2027),
Makassar (2028), dan Palembang (2029). Melalui PPN, para penyair
menegaskan kembali bahwa puisi adalah jembatan perdamaian dan
persaudaraan lintas bangsa.***

Related posts

Leave a Comment

fourteen + 16 =