PIDATO UNTUK PENYAIR YANG TERLAMBAT DIHORMATI
Puisi Helvy Tiana Rosa
____________________________________________________________________
Saudara-saudara, hari ini kita berkumpul
untuk menghormati seorang penyair
yang semasa hidup terlalu sibuk lapar
hingga tak sempat merasa dihormati.
Ia menulis tentang rakyat.
Rakyat membaca namanya di koran Minggu,
lalu membungkus cabai dengan halaman puisinya.
Ia menulis tentang keadilan.
Keadilan membaca puisinya,
kemudian berkata, “Bagus sekali.”
Sesudah itu keadilan pulang naik mobil dinas.
Saudara-saudara,
penyair itu pernah diundang
ke sebuah seminar kebudayaan.
Gedungnya mewah. Karpetnya tebal.
Pendingin ruangannya sejuk.
Hanya honor penyair yang tetap berada
di zaman batu.
Panitia berkata, “Maaf, anggaran kami terbatas.”
Tetapi spanduknya delapan meter.
Hotel pembicaranya bintang lima.
Kopi susunya datang dari Italia.
Penyair itu pulang membawa sertifikat,
nasi kotak, dan perasaan bangga
yang tak bisa dibayarkan kepada pemilik kontrakan.
Istrinya bertanya, “Berapa honornya?”
Ia mengangkat sertifikat itu tinggi-tinggi.
“Lihat, Bu. Namaku dicetak tebal.”
Istrinya tersenyum. Senyum perempuan
yang telah terlalu sering memasak kesabaran
tanpa minyak goreng.
Lalu penyair itu sakit.
Ia membawa buku-bukunya ke apotek.
“Apakah empat puluh tahun berkarya
bisa ditukar dengan obat?”
Apoteker tertawa. “Maaf, Pak,
kami hanya menerima uang, bukan pengabdian.”
Ia pulang. Di rumah ia batuk.
Di meja, penghargaan-penghargaan tegak,
seperti para pejabat yang hanya pandai berdiri.
Kemudian ia mati.
Dan, astaga!
Negeri ini mendadak ingat bahwa ia seorang besar.
Televisi menyiarkan wajahnya.
Koran mencetak riwayat hidupnya.
Universitas mengadakan diskusi.
Kementerian menyusun pidato.
Orang-orang yang dahulu tak membalas pesannya
kini menulis panjang-panjang:
“Kita kehilangan suara zaman.”
Padahal ketika suara itu masih hidup,
mereka sibuk mengecilkan volumenya.
Saudara-saudara,
seorang pejabat datang ke makamnya membawa bunga
seharga biaya berobat yang dahulu tak pernah ada.
Ia berpidato: “Bangsa ini berutang besar kepada almarhum.”
Dari balik kerudung hitamnya, istri penyair menghitung pelan:
utang listrik, utang obat, utang sekolah anak, utang kontrakan.
Lalu ia berbisik, “Betul, Pak. Utangnya memang besar.”
Tahun berikutnya nama penyair itu dipakai
untuk gedung kebudayaan.
Gedungnya megah. Lampunya gemerlap.
Di pintu depan terpampang fotonya
dengan kalimat: Penyair Besar yang Hidup Sederhana
Saudara-saudara,
kalimat itu sangat sopan. Sopan sekali.
Sebab “hidup sederhana” terdengar jauh lebih indah
daripada “kami membiarkannya miskin.”
Maka dengarlah!
Di negeri ini, penyair seringkali harus mati lebih dahulu
agar puisinya mendapat kursi.
Harus menjadi jenazah, agar tubuhnya diantar mobil resmi.
Harus tinggal di kuburan, agar namanya masuk anggaran.
Dan ketika semua orang selesai bertepuk tangan,
istri penyair pulang sendirian
ke rumah kontrakan yang atapnya masih bocor.
Di sana, ia menatap foto suaminya
yang kini tergantung di gedung-gedung besar.
Ia tertawa kecil. “Pak,” katanya,
“akhirnya kamu punya banyak rumah.”
Lalu ia menangis,
sebab tak satu pun rumah itu
pernah bisa mereka tinggali.
(Depok, 2021)
Puisi di atas dibacakan oleh pemyairnya, Helvy Tiana Rosa, pada perayaan Hari Puisi Indonesia di Graha Utama Kemendikdasmen Jl. Jendral Sudirman, Jakarta, Minggu 26 Juli 2026.
