PARIWARA PPN 

PPN IV ACEH JADI PERTEMUAN GAGASAN, NILAI, DAN HARAPAN BERSAMA

Banda Aceh (Litera) — “PPN bukan hanya pertemuan penyair, tetapi juga pertemuan gagasan, nilai, dan harapan bersama. Sastra mampu menjembatani perbedaan bahasa, budaya, daerah, bahkan negara,”  kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, pada sabutannya saat membuka Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh–Indonesia tahun 2026 di Istana Wali Nanggroe, Darul Imarah, Aceh Besar, Senin malam lalu.

Menurut Abdul Mu’ti,  kehadiran peserta dari 14 negara menjadi bukti bahwa sastra Indonesia terus hidup dan menjadi bagian penting dalam percakapan budaya dunia. Ia juga mengapresiasi Aceh sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat intelektualitas, kebudayaan, dan sastra Melayu Nusantara. “PPN menjadi pertemuan gagasan, nilai, dan harapan bersama. Sastra mampu menjembatani perbedaan bahasa, budaya, daerah, bahkan negara,” tegasnya.

_____________________

FOTO: EDU SAINI ACEH POS

_____________________

Di Istana Wali Nanggroe Aceh, Darul Imarah, Aceh Besar, 22 Juni 2026, Mendikdasmen menegaskan, di tengah derasnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan budaya instan, sastra memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, puisi tidak sekadar karya estetis, melainkan ruang refleksi moral dan sosial yang mampu membangun empati serta kepekaan manusia.

Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menyoroti pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk karakter, imajinasi, dan kepekaan sosial. Dalam hal ini, sastra dinilai sebagai medium penting untuk mengajarkan keberagaman, toleransi, serta kehidupan damai kepada generasi muda.

Pada kesempatan tersebut, ia juga kembali menegaskan konsep Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, serta menguasai bahasa asing sebagai fondasi kebudayaan nasional. Ia menyampaikan kebanggaannya bahwa Bahasa Indonesia kini telah menjadi bahasa resmi dalam forum UNESCO, yang tidak terlepas dari kontribusi para penyair. “Para penyair memiliki kekuatan kata-kata yang mampu menggerakkan dan menginspirasi. Di tengah ruang publik yang sering dipenuhi ujaran negatif, penyair hadir sebagai penjernih nurani melalui kata-kata bijak,” katanya.

Abdul Mu’ti turut berbagi pengalaman pribadinya saat mulai mencintai puisi sejak masa sekolah hingga aktif menulis dan membaca karya sastra melalui radio dan majalah. Saat itu ia berteman dengan penyair Gunoto Saparie, dan suka membaca puisi-puisi Ahmadun Yosi Herfanda yang dipublikasikan di Republika. Ia menekankan pentingnya memperluas ruang-ruang sastra, termasuk melalui media digital, agar generasi muda semakin dekat dengan literasi dan karya sastra.

Ia juga mengucapkan terima kasih atas kerja keras panitia dalam menyiapkan acara PPN IV.
“Terimakasih Mbak Novi yang telah menyiapkan kegiatan ini, saya bisa membayangkan bagaimana letihnya Mbak Novi mempertemukan sastrawan dunia di dalam perhelatan ini,” katanya. “Kalau anggarannya kurang, sampaikan saja, akan kami tambah,” tambahnya.

Sementara itu, Asisten I Sekda Aceh, Drs. Syakir, M.Si menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya PPN XIV di Aceh. Ia menegaskan bahwa Aceh sejak dahulu dikenal sebagai pusat peradaban Islam, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan sastra Melayu di kawasan Nusantara.

“Sastra telah hidup bersama perjalanan sejarah Aceh selama ratusan tahun. Dari bumi Aceh lahir tokoh-tokoh besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, hingga Abdur Rauf As-Singkili yang mewarnai perkembangan intelektual dunia Melayu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa karya-karya para ulama dan penyair Aceh tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga sarat dengan nilai kebijaksanaan, moralitas, dan spiritualitas. Hikayat-hikayat seperti Hikayat Perang Sabi dan Hikayat Malem Diwa, lanjutnya, menjadi bagian penting dalam membangun karakter masyarakat serta menjaga memori kolektif bangsa.

Menurutnya, penyelenggaraan PPN XIV di Aceh merupakan “kepulangan” sastra Nusantara ke salah satu pusat sejarahnya. Ia juga menekankan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, sastra memiliki peran strategis dalam menjaga nilai kemanusiaan. “Dunia hari ini tidak kekurangan informasi, tetapi seringkali kekurangan kebijaksanaan. Sastra hadir untuk mengisi ruang tersebut dengan makna, nilai, dan refleksi,” ujarnya.

Direktur Pelaksana PPN XIV, Noviati Maulida Rahma dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kerja kolaboratif komunitas sastra di Aceh. Ia menyebutkan sebanyak 542 pendaftar dari berbagai negara mengirimkan 1.018 karya puisi dalam proses kurasi, namun panitia hanya mampu menampung sekitar 200 penyair.

Meski demikian, antusiasme peserta yang hadir melebihi kuota menjadi bukti tingginya minat terhadap kegiatan ini. Ia juga menjelaskan bahwa PPN XIV menghadirkan konsep berbeda dengan melibatkan lintas cabang seni seperti seni rupa, film, musik, dan tari. “Kegiatan ini bukan hanya tentang membaca puisi, tetapi juga membangun jejaring, kolaborasi, dan penghormatan terhadap para penyair sebagai bagian penting dari peradaban,” katanya.

Kegiatan ini berlangsung sejak 22 hingga 28 Juni 2026 dan dilaksanakan di beberapa wilayah di Aceh, termasuk Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen, dan Aceh Tengah. Dia juga menyebutkan, yang membuat pertemuan ini semakin istimewa adalah kehadiran para penyair dari 14 negara yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Laos, Filipina, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Timor Leste, Turki, Jepang, hingga Tasmania.

Dari dalam negeri, ratusan penyair dari berbagai provinsi juga akan hadir, menjadikan Aceh sebagai panggung sastra terbesar di Nusantara. Pembukaan acara ditandai dengan pemukulan rapai secara simbolis oleh Mendikdasmen, didampingi Wali Syura Istana Wali Nanggroe Aceh Prof. Dr. H. Syahrizal Abbas, M.A, serta unsur pemerintah daerah dan pimpinan perguruan tinggi.

Banyak pejabat pusat dan daerah Aceh yang hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin, Kepala Perpustakaan Nasional, Sekretaris Menteri Pendidikan, Staf Khusus Menteri Kebudayaan, pimpinan DPRA, para kepala daerah, rektor perguruan tinggi, para pelaku seni, dan budaya serta tamu undangan lainnya.

Pertemuan Penyair Nusantara XIV Aceh–Indonesia diharapkan tidak hanya melahirkan karya-karya sastra berkualitas, tetapi juga memperkuat jejaring persaudaraan antarbangsa serta menjadi ruang dialog budaya yang memperkaya khazanah sastra dunia. n Rinaldi — Aceh Pos/Litera

Related posts

Leave a Comment

nine + 9 =