Bincang Sastra Bersama Litera

17458123_1810410235948239_1195778011051153533_n

Litera.co.id (Pamulang)- Sekitar dua puluh lima orang hadir meramaikan bincang sastra yang diadakan di Roti Bakar 88, Pamulang, Sabtu (25/3). Sebagian besar adalah anak-anak muda yang aktif bergiat di dunia seni dan sastra yang berdomisili di Tangerang selatan meski ada beberapa rekan yang sengaja datang dari jauh seperti Depok, Tangerang, dan Bogor.

Bincang sastra dengan tema “Mengembalikan Sastra pada Kekuatan teks” ini adalah rangkaian acara untuk menyambut ulang tahun portal sastra Litera yang jatuh pada bulan depan. Sebagai pembincang dalam bincang ini adalah Ahmadun Yosi Herfanda, Mustafa Ismail, dan Sihar Ramses Simatupang yang datang awal saat acara belum digelar.

Bincang sastra yang rencananya dimulai pkl 13.30 mundur dari waktu yang dijadualkan dan dimulai pkl 15.00 sambil menunggu rekan-rekan yang berasal dari wilayah yang cukup jauh. Seorang rekan yang hadir dari wilayah cukup jauh adalah Edy Pramduane. Edy yang cukup rajin hadir di acara sastra yang digelar rekan-rekan berasal dari Cisalak. Saat berbincang dengan awak Litera, Edy mengatakan jika ia membutuhkan waktu hingga tiga jam lebih untuk tiba di lokasi. Rekan lain adalah Man Atek atau Atik Bintoro yang datang dari Rumpin, Bogor, bahkan Man atek sempat tersesat hingga Ciputat. Nana Sastrawan yang berasal dari Tangerang dan Iman Sembada dari Depok juga turut hadir.

Ahmadun Yosi Herfanda sebagai tuan rumah diberi kesempatan menjadi pemantik bincang pertama. Menurut AYH, teks sesungguhnya sangat luas, bahkan bisa saja teks lisan.

“Penekanan bincang sastra ini adalah teks yang bertumpu pada karya. Ada hal sesungguhnya di luar karya yang sering dikaitkan dengan sastra misalnya sosialita, politisasi sastra, dan kekuatan lain semacam finansial. Ada cukup banyak cara ternyata yang dijadikan orang untuk masuk dunia sastra dengan menggunakan jalur-jalur tersebut. Kita harus mengembalikan lagi penilaian sastra dengan kekuatan teks, dengan kata lain karya sastra yang kuat yang harus dikedepankan,” papar AYH.

Menurut AYH itu telah terjadi di dunia sastra tanah air. Banyak muncul orang yang menasbihkan dirinya sebagai seorang sastrawan atau penyair sementara kepenyairannya dalam hal tulis menulis dan karya belum teruji, bahkan belum cukup layak.

“Ada rekayasa dan politisasi dalam sastra. Rekayasa politik sastra serasa pencitraan pilkada dengan cara mencapai prestasi estetik yang tak terukur. Peran media massa dengan redaktur dibaliknya masih diperlukan. Redaktur adalah kritikus yang diam,” tambah AYH.

Mustafa Ismail yang tampil seagai pembincang kedua menekankan jika salah satu hal yang mampu mengembalikan kekuatan sastra yang bertumpu pada teks memang membutuhkan peran redaktur dan kurator. Mustafa masih meragukan karya sastra yang lahir tanpa peran redaktur seperti puisi-puisi yang banyak muncul di media sosial.

“Bertolak pada fakta tentang ekisistensi media sosial yang terkadang digunakan untuk menciptakan brand, harus diakui ada kecemasan jika media sosial membawa pengaruh bagi perkembangan karya sastra,” ungkap Mustafa. Penyair asal Aceh tersebut menekankan jika karya-karya di media sosial kebanyakan adalah karya yang ditulis secara instant tanpa satu perenungan yang matang meski tentu saja ada juga karya yang telah dimatangkan terlebih dahulu.

“Serasa apapun puisi yang kita tulis direspon teman-teman spontan tanpa pembacaan yang matang. Respon tersebut juga positif misal dengan kata-kata pujian yang sesungghnya klise. Tak ada proses belajar yang baik,” Tutur Mustafa.

Sementara Sihar Ramses Simatupang juga memiliki satu kegundahan yang sama dengan dua pembicara sebelumnya.

“Awalnya saya sempat agak cemburu pada mereka yang besar dengan dunia digital yang canggih sekarang ini. Saya dulu sering menulis puisi di buku. Jika buku iu hilang, maka hilang pula karya itu. Namun sekarang kita bisa menulis lalu kita terbitkan saat itu juga dan dibaca oleh orang banyak. Yang lebih canggih lagi karya tersebut masih bisa tersimpan dan dilacak,” terang Sihar. Namun Sihar sangat menyadari jika hal tersebut juga mengandung kelemahan. Serasa banyak karya tak ditulis dengan keseriusan.

“Terlebih banyak hal yang cukup kompleks sesungguhnya ketika bicara sastra atau membaca karya sastra. Dan itu memaksa kita harus benar-benar belajar dan membaca karya yang telah teruji secara ilmiah. Karya sastra yang kuat secara teks lahir dengan proses dan pergulatan yang panjang,” tambah Sihar.

Bincang sastra yang diakhiri pkl 17.30 tersebut mendapat respon yang cukup baik dari rekan-rekan lain. Eni Saeni, pengunjung yang aktif lama di kota kembang Bandung, Man Atek merespon diskusi hingga terjadi bincang tambahan seusai moderator menutup acara bincang. (Mahrus Prihany)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *