Sihar: Banyak Penyair Tidak Terdidik dengan Baik

17458446_1810410249281571_206590442330287408_n

Litera.co.id (Tangsel)- Tak dapat diingkari jika keberadaan media sosial telah menjadi fenomena tersendiri. Media sosial menjadi wadah bagi banyak orang untuk menulis dan menyampaikan karya-karya mereka termasuk karya sastra khususnya dengan genre puisi. Hal ini tentu ada nilai positif meski di sisi lain juga membawa sisi buruk karena beberapa faktor.

Sihar Ramses Simatupang juga menyampaikan hal tersebut dalam bincang sastra yang diadakan oleh Litera di Roti Bakar 88 yang terletak di bilangan Pamulang, Tangerang Selatan pada hari Sabtu (25/3). Bincang sastra dengan tema “Mengembalikan Sastra pada Kekuatan Teks” tersebut dan dihadiri sekitar 25 pengunjung berjalan interaktif meski ruang diskusi tidak begitu luas hingga banyak pengunjung lain yang berasal dari kalangan umum yang datang belakangan tidak bisa bergabung karena keterbatasan tempat.

“Konflik terbuka dan cenderung vulgar serta melibatkan banyak kubu di media sosial membuat banyak penyair khususnya generasi muda tidak terdidik dengan baik. Saya percaya jika generasi muda sesungguhnya memiliki potensi yang hebat, banyak karya mereka layak diacungi jempol. Keberadaan media sosial bisa mempengaruhi mereka hingga kemudian justru tak terjadi perkembangan yang signifikan pada karya mereka,” terang Sihar. Bagi Sihar karya atau teks yang kuat harus memiliki genealogi yang kuat, dan banyak yang tampil di media sosial kurang memiliki genealogi yang jelas. Ini bisa berpengaruh pada perkembangan kesastraan para penyair karena bagaimanapun harus ada yang bisa dijadikan model.

“Selain itu kekuatan teks di media sosial tak akan bertahan lama, hanya mampu bertahan seperti jamahan tangan sang penyair di media sosialnya. Berbeda dengan mereka yang teks nya telah teruji. Karya yang bisa kokoh adalah teks yang telah teruji meski berangkat dari sejarah yang berbeda yang bertumpu pada strukur. Meski ini terkadang membosankan tetapi memiliki komposisi dan tautan yang jelas,” tegas Sihar. Sihar mengutip kritikus sastra Lucien Goldmann yang terkenal dengan strukuralis genetiknya bahwa sastra yang kuat dalam struktur tetaplah karya tersebut memiliki akar yang kuat dari berbagai aspek.

“Teks tersebut juga akan melahirkan akar yang mampu berbicara dan berinteraksi dengan dunia di dalam dan luarnya,” lanjut Sihar, sastrawan yang pernah menjadi redaktur sastra sebuah surat kabar nasional ini. Sihar yang kini menjadi pengajar di sebuah sekolah, juga sedang membuka usaha bonsai dan ikan di rumahnya di bilangan Citayam. (Mahrus Prihany)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *