Bincang Novel di ABN

19046508_1713458365335703_1352593900_n

Litera.co.id (Serpong)- Sore hari saat jarum jam telah menunjukkan pkl 16.30, hari Rabu (7/6) suasana masih terasa sepi di Akademi Bambu Nusantara (ABN) yang terletak di daerah Buaran, Sepong, Tangerang selatan. Terlihat yang telah datang adalah serombongan anak yatim yang berjumlah 15 orang yang siap menerima santunan dari panitia Bazar yang diadakan oleh Tangsel club (TC). 

“Pkl 17.00 acara kita mulai. Ada atau tak ada orang datang, kita akan tetap mulai. Biar alam yang mendengarnya,” kata Uten Sutendy. Ya Rabu kemarin sesungguhnya memang akan diadakan bincang novel karya Uten Sutendy, budayawan yang juga mantan wartawan. Novel tersebut berjudul Baiat Cinta di Tanah Baduy.

Pkl 17.00 tepat, bincang novel dimulai. Ketika host baru berbicara satu atau dua menit, nampak orang-orang mulai berdatangan, berbaur bersama para anak yatim. Belasan orang kemudian bergabung dalam bincang novel yang kemudian juga turut memandu seorang pengunjung yang aktif di komite seni rupa Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS), Hilmi Fabeta.

“Novel ini sesungguhnya adalah novel yang mencoba menggambarkan secara filosofis kehidupan masyarakat Baduy yang kemudian dibumbui dengan persoalan romantisme dan politis,” buka Uten. Uten lalu menceritakan secara global namun cukup jelas tentang alur cerita dan konflik di novel tersebut.

“Banyak orang menilai bahwa masyarakat Baduy itu sangat tertutup dan primitif, tapi sesungguhnya mereka memiliki pemahaman yang jauh lebih baik tentang equilibrium kehidupan. Mereka sangat memahami dan menjaga bagaimana hubungan manusia dengan alam juga sang pencipta,” lanjut Uten. Budayawan yang juga menulis buku kajian tentang masyarakat Baduy tersebut lalu melanjutkan lebih jauh tentang struktur dan filosofis masyarakat Baduy seperti pranata sosial, kepemimpinan, dan simbolisasi pakaian Baduy, juga tentang bagaimana masyarakat Baduy belajar.

“Sesungguhnya masyarakat Baduy lebih mengedepankan subtansi daripada simbol dan atribut-atribut lainnya,” lanjut Uten. Bincang berjalan cukup ramai dengan dipandu Hilmi Fabeta. Seorang pengunjung yang hadir yang juga merupakan seorang sutradara dan produser film, Cak Roto lalu ikut meramaikan bincang. Cak Roto yang pernah memproduseri film Emak InginNaik Haji ini cukup tertarik untuk mengangkat novel Baiat Cinta di Tanah Baduy ke layar lebar.

“Meski saya belum selesai membaca novel ini, saya sangat tertarik ingin mengangkatnya ke film layar lebar. Seorang pekerja kreatif seperti saya merasa tertantang setelah tentunya melakukan kontemplasi,” tutur cak Roto.

Acara berlanjut hingga terdengar kumandang adzan maghrib, lalu diteruskan dengan berbuka puasa bersama. Seusai Maghrib lalu diadakan santunan buat anak yatim yang berasal dari yayasan Al Ikhlas, Sawah Baru, Ciputat. (Mahrus Prihany)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *