Berita PERISTIWA 

Litera Gelar Talkshow Sastra

Tangsel (litera.co.id)- Portal sastra litera.co.id menggelar acara talkshow sastra pada hari Minggu (06/10) di Roti Bakar 88 yang terletak di Pamulang, Tangerang Selatan. Acara talkshow ini membincang tiga buku yang terdiri dua buku kumpulan puisi dan satu buku kumpulan cerpen. Dua buku puisi tesebut adalah Arakundoe (Pilo Poly) dan Orang Jawa di Suriname (Iman Sembada), serta buku kumpulan cerpen Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (Mahan Jamil Hudani).

Talkshow ini dipandu oleh Mustafa Ismail yang adalah seorang redaktur sastra di sebuah koran nasional. Dimulai sekitar pukul 16.00 dan dihadiri puluhan penikmat dan pecinta sastra yang tak hanya datang dari kota Tangerang Selatan tetapi juga dari kota Bogor, Depok, dan Jakarta seperti Iwank, Kusen, Hadi Sastra, Willy Ana, Rinidianti Ayahbi, Zaenal Radar, Agus Grave, dll. Acara berlangsung cukup meriah.

Sebelum talkshow dimulai, Ahmadun Yosi Herfanda yang merupakan pemimpin redaksi litera membuka acara dan mengumumkan nomine anugerah sastera litera 2019. Pengumuman nomine ini memang acara satu paket dengan acara talkshow litera. Seusai pengumuman, acara kemudian dibuka dengan nyanyian puisi oleh Rinidianti Ayahbi yang tampil memetik gitar dan menyanyikan puisi karya Pilo Poly.

“Saya sebenarnya tidak tahu pada awalnya saya menulis puisi untuk apa. Saya juga tak punya target bahwa puisi saya harus masuk koran atau tidak. Saya menulis puisi karena saya hanya ingin menulis. Tapi kemudian seiring waktu saya belajar pada banyak teman tepatnya sejak dideklarasikan KSI pada tahun 1996, di situ saya memiliki kesempatan bertemu, bergaul, dan belajar dengan para sastrawan nasional yang kemudian membuat saya lebih serius menekuni puisi,” buka Iman Sembada. Penyair kelahiran Purwodadi yang telah menetap lama di Depok ini menambahkan jika ia juga sempat berhenti cukup lama menulis puisi hingga kemudian bersemangat lagi saat bertemu dengan beberapa teman di KSI Tangerang Selatan pada tahun 2013.

Pilo Poly mengatakan hal yang lain dari Iman Sembada. Pilo yang memiliki nama asli Syaifullah ini menulis karena memang memiliki tujuan khusus dan tersendiri.

“Saya benar-benar ingin menyuarakan hati nurani saya yang sering merasa sakit ketika menyaksikan banyak peristiwa tragis yang mengoyak rasa kemanusiaan yang terjadi di Aceh,” ungkap Pilo. “Itulah mengapa banyak puisi saya berbicara tragedi di Aceh. Demikian juga pada buku ketiga puisi saya yang berjudul Arakundoe ini,” tekan Pilo.

Sementara Mahan Jamil Hudani yang memiliki nama asli Mahrus Prihany mengatakan jika ia senang menulis baru beberapa tahun terakhir ini. Kecintaannya pada sastra khususnya cerpen diawali pada tahun 2009 saat ia bergabung pada Komunitas Sastra Indonesia.

“Saya belum memiliki impian untuk bisa menulis karya sastra saat bergabung KSI Tangsel pada tahun 2009. Sebelumnya saya hanya suka membaca saja, dan karya yang saya baca adalah karya non fiksi seperti agama, sejarah, dan pemikiran, termasuk teori dan kritik satra, bukan fiksi,” katanya. Ia menambahkan setelah bergabung KSI Tangsel, sejak itulah ia benar-benar intens membaca karya sastra dan belajar menulis. Pertemuannya dengan banyak sastrawan di KSI membuatnya bisa belajar banyak tentang sastra.

Talkshow berjalan cukup hangat karena cukup banyak audiens memberi respon atau memberi pertanyaan seperti Chavchay Syaifullah, Iwan Kurniawan, dan Ahmadun sendiri. Di sela acara talkshow, pemandu Mustafa Ismail juga memberi kesempatan rekan-rekan yang hadir membaca puisi seperti Humam S. Chudori, Amdai Yanti Siregar, dan Willy Ana.

Acara talkshow yang didukung oleh Bhakti Budaya Djarum Foundation ini ditutup pada saat terdengar kumandang azan Magrib. Para pengunjung kemudian melakukan salat Magrib dan acara kemudian dilanjutkan kembali dengan foto bersama. Meski acara telah selesai namun masih banyak teman yang tak beranjak pulang namun memanfaatkan momentum tersebut untuk saling bertukar pikiran hingga malam. (R)

Related posts

Leave a Comment