PERISTIWA 

SELAMAT JALAN, BUDI DARMA

Satra Indonesia lagi-lagi kehilangan tokohnya. Sastrawan ternama, Budi Darma, tutup usia di Rumah Sakit Islam (RSI) A.Yani, Wonokromo, Surabaya, dalam usia 84 tahun. Almarhum dilahirkan d Rembang, 25 April 1937, dan meninggal, pada Sabtu 21 Agustus 2021, sekitar pukul 06.00 WIB.

Sebelumnya, dunia sastra kehilangan penyair Diah Hadaning yang meninggal pada 1 Agustus 2021 dalam usia 81 tahun. Pada 22 April  2021 sastrawan Radhar Panca Dahana juga meninggal karena sakit. Sebelum kedua penyair tersebut, dunia sastra kehilangan Umbu Landu Paranggi, yang meninggal dunia, Selasa, 6 April 202l, di RS Bali. Presiden Malioboro ini meninggal menyusul tokoh senior penyair Malioboro, Iman Budhi Santoso, yang sama-sama meninggal pada masa Covid19, 10 Desember 2020. Sebelum Umbu, sastra Indonesia bahkan kehilangan sastrawan pujangga Sapardi Djoko Damono yang meningga dunia pada 19 Juli 2020, juga pada masa Covid19.

Budi Darma adalah seorang penulis dan sastrawan yang berpengaruh dalam perkembangan sastra di Indonesia dengan karya-karyanya yang monumental, seperti Olenka (1983), Rafilus (1998), dan kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington (1981). Sudah belasan buku yang dilahirkan dan ratusan artikel yang diterbitkan di berbagi rubrik media-media nasional.


Foto: Almarhum Budi Darma (memakai hem putih) dalam suatu jamuan makan dalam acara yang diadakan oleh Badan Bahasa. Berfoto bersama Nur Hayati, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Fahrunnas MA Jabbar.


 

Banyak penghargaan yang telah diraihnya dan sempat mendapatkan penghargaan dari Wali Kota Madya Surabaya saat itu sebagai warga Surabaya yang berprestasi di bidang sastra selama dua kali berturut-turut.

Olenka (1983) meraih juara pertama dalam Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980 dan sekaligus memperoleh Hadiah Sastra DKJ 1983. Tahun 1984 Budi Darma menerima Hadiah Sastra ASEAN, SEA Write Award, mendapat penghargaan Sastra Dewan Kesenian Jakarta,  dan Anugerah Seni Pemerintah RI.

Budi Darma juga tiga kali mendapat penghargaan Anugerah Cerpen Kompas karena telah mengabadikan nilai-nilai moral dan kebangsaan dalam cerita pendek. Penghargaan Anugerah Cerpen Kompas didapat pada tahun 1999 dengan cerpen Derabat, Mata yang Indah pada 2001, dan Laki-laki Pemanggul Goni pada 2013.

Sebagai akademisi, Budi Darma kerap diundang untuk berceramah, mengajar, menguji calon sarjana atau doktor sastra, baik dalam negeri ataupun luar negeri, dan terlibat riset sastra di dalam dan di luar negeri. Pengajar yang purna tugas di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris ini, pernah menjabat sebagai Rektor Unesa (IKIP) periode 1984-1988. *

Related posts

Leave a Comment